Kebutuhan Air bagi Warga Kota Depok

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Din Nurika Agustina, Statistisi pada Badan Pusat Statistik.

Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Tahun ini tema yang dipilih adalah “Solusi Berbasis Alam untuk Air”. Hari besar internasional tersebut disampaikan secara resmi pertama kali pada Sidang Umum PBB ke-47 tanggal 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Peringatan Hari Air Sedunia sejatinya merupakan sarana untuk memusatkan perhatian pada pentingnya air dan mengupayakan pengelolaan sumber air yang berkelanjutan.

Air sangat menentukan keberlangsungan hidup dan aktifitas harian kita, bahkan memberikan manfaat untuk mewujudkan kesejahteraan dalam segala bidang. Begitu pentingnya kebutuhan akan air ini, sehingga PBB menetapkan akses terhadap air merupakan hak setiap warga negara yang perlu dipenuhi oleh negara. Undang-Undang No.11 Tahun 1974 Tentang Pengairan pun telah mengatur bahwa bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat secara adil dan merata.

Ketersediaan air bersih berkorelasi sangat tinggi dengan jumlah penduduk. Pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat pesat di Kota Depok sebagai Kota Satelit dari DKI Jakarta, tentu harus dibarengi dengan ketersediaan air bersih yang cukup. Sebagaimana dilansir oleh Majalah Tempo (24/01/2017) Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Depok mencatat adanya kenaikan jumlah penduduk 47.133 orang sepanjang 2016. Peningkatan jumlah penduduk yang terus bertambah harus menjadi urgensi bagi Pemerintah Kota Depok untuk memfokuskan perhatian pada penyediaan air bersih yang memenuhi standar kesehatan, berkelanjutan dan terjangkau bagi warganya.

BACA JUGA:  Jelang Asian Games, Kemenkes Susun Modul dan Pelatihan Kegawatdaruratan

Peran PDAM Terhadap Kebutuhan Air Warga Kota Depok

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Asasta, merupakan Badan Usaha Milik Daerah yang bertanggung jawab sebagai penyelenggara pengembangan sistem penyediaan air minum di Kota Depok. Di dalam websitenya, PDAM Tirta Asasta menyatakan cakupan layanannya telah meliputi 31 kelurahan. Dibandingkan seluruh kelurahan di Kota Depok yakni sejumlah 63 kelurahan, cakupan layanan PDAM Tirta Asasta itu belum mencapai separuh wilayah Kota Depok.

Dari sisi pelanggan, sebagaimana dikutip dari Statistik Daerah Kota Depok 2017, pada tahun 2016 PDAM Tirta Asasta melayani 53.477 pelanggan, termasuk sosial, niaga dan industri. Dari seluruh pelanggan tersebut sekitar 51.679 merupakan pelanggan di perumahan. Ditinjau dari segi cakupan, pelayanan pelanggan tersebut baru menyentuh sekitar 8 (delapan) persen. Persentase tersebut merupakan perbandingan dengan sejumlah 673.797 keluarga, yang tercatat pada Sistem Informasi Administrasi Kependudukan, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Depok Tahun 2016.

Dari data yang disajikan tersebut dapat kita simpulkan bahwa perkembangan pesat yang dialami Kota Depok tidak diimbangi dengan penjaminan hak atas akses air yang berkualitas dan berkelanjutan oleh pemerintah daerah. Padahal air merupakan komponen penting bagi kehidupan yang perannya lebih dari sekedar memuaskan dahaga atau melindungi kesehatan. Air sangat penting untuk menciptakan lapangan kerja dan mendukung pembangunan ekonomi, sosial, dan manusia.

Preferensi Pemenuhan Kebutuhan Air Warga Kota Depok

Hampir separuh (49,60 persen) rumah tangga di Kota Depok menggunakan air kemasan bermerk maupun air isi ulang untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari. Hal ini membuat bisnis air minum kemasan bermerk maupun usaha dipo air minum isi ulang bermunculan bak jamur di musim penghujan. Terkait preferensi air minum jenis ini, permasalahan pengelolaan air oleh swasta yang berorientasi bisnis adalah pemalsuan air kemasan bermerk serta tidak terpenuhinya standar kualitas kesehatan oleh depot air isi ulang. Preferensi pemenuhan kebutuhan air minum selanjutnya adalah sumur bor/pompa (36,78 persen), sumur terlindung/tak terlindung (10,81 persen), leding meteran/eceran (2,54 persen) dan sumber air lainnya (0,27 persen).

BACA JUGA:  Gempa Lombok, Dompet Dhuafa Akan Bangun RS Lapangan dan Layanan Kesehatan Darurat

Bagi warga Kota Depok, preferensi pemenuhan kebutuhan air minum memiliki pola yang berbeda dengan preferensi pemenuhan kebutuhan mandi, cuci dan memasak. Untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci dan memasak sebagian besar warga Kota Depok (73,06 persen) menggunakan air dari sumur bor/pompa. Urutan preferensi selanjutnya adalah sumur terlindung/tak terlindung (17,06 persen), leding meteran/eceran (8,56 persen) dan mata air (0,27 persen) serta sumber air lainnya (1,32 persen).

Data preferensi pemenuhan kebutuhan air minum di atas berasal dari Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Barat Tahun 2017. Publikasi tersebut merupakan hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2017. Dengan metode wawancara, petugas Susenas mengunjungi setiap rumah tangga terpilih sampel di Kota Depok untuk mendapatkan berbagai informasi. Informasi yang diberikan rumah tangga dalam survei Badan Pusat Statistik merupakan modal data bagi pembangunan.

BACA JUGA:  Jelang Asian Games 2018, Indonesia Sudah Punya Velodrome Kelas Dunia

Harapan Pemenuhan Kebutuhan Air Warga Kota Depok

Kebutuhan air bersih terbesar bagi Warga Kota Depok yang digunakan untuk mandi, cuci dan memasak hampir seluruhnya (90,12 persen) menggunakan air tanah (sumur bor/pompa, sumur terlindung dan sumur tak terlindung). Penggunaan air tanah oleh hampir seluruh warga Kota Depok tentunya bukan merupakan kabar baik, karena eksploitasi air tanah tersebut dilakukan oleh masing-masing rumah tangga tanpa dilandasi pengetahuan tentang konservasi air tanah. Masalah lain adalah sebagian masyarakat membuat sumur tanpa memperhatikan syarat kesehatan (jarak minimal 10 meter tempat pembuangan akhir tinja terdekat), hal ini dapat mengakibatkan kontaminasi tinja pada sumber air minum sehingga meningkatkan resiko tertular kolera, disentri, tifoid dan polio.

Idealnya kebutuhan air bersih berkualitas dan memenuhi standar kesehatan serta terjangkau dikelola oleh pemerintah daerah. Peningkatan perluasan jangkauan layanan penyediaan air diharapkan meningkat pesat dan mampu menyentuh pelanggan wilayah perumahan. Hal tersebut sangat urgen bagi Kota Depok, mengingat saat ini semakin banyak lahan kosong yang telah beralih fungsi sebagai perumahan.

Memang membangun infrastruktur sistem penyediaan air minum tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun hal ini perlu terus dilakukan. Selanjutnya dengan pertimbangan bahwa hampir seluruh warga Kota Depok menggunakan air tanah, sudah selayaknya Pemerintah Kota Depok Menyediakan Pusat Layanan Masyarakat yang memfasilitasi pengujian kualitas sumber air tanah yang digunakan warganya. Pertumbuhan depot air isi ulang juga tak boleh luput dari perhatian pemerintah terhadap standar kualitas kesehatannya.

Comments

comments