Gelar Ngobrol Kemanusiaan “Selamatkan Ghouta”, ACT Ajak Lebih Peduli Krisis Kemanusiaan

Kiri ke kanan: Muhammad Pizaro, Madmor Abu Taqo, Ahyudin, Toni Trax dan tere Pardede. (Foto: Hana)

JAKARTA – Bertempat di Sisha Cafe, Kemang, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menggelar Ngobrol Kemanusiaan (NGOKEM) untuk yang ketiga kalinya, Rabu (8/3/2018). Pada kesempatan ini, ACT sebagai inisiator program menggandeng musisi, komikus dan jurnalis untuk membicarakan isu-isu kemanusiaan khususnya yang terjadi di Ghouta, Suriah.

Musisi yang hadir antara lain Tere Pardede dan eks vokalis grup metal Pulgatory Madmor Abu Taqo. Juga komikus Toni Trax dan Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki Anadolu Agency, Muhammad Pizaro yang hadir atas dasar kepedulian terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi di Ghouta, Suriah.

BACA JUGA:  Wali Kota Depok Turut Salati Jenazah Korban Lion Air

Tere menyampaikan bahwa urusan kemanusiaan tidak hanya tugas dari lembaga kemanusiaan, namun semua umat manusia sejatinya punya peran yang sama untuk membantu sesama manusia. Menurut Tere, Ghouta saat ini adalah sebuah duka kemanusiaan.

“Bagi saya Ghouta adalah sebuah duka kemanusiaan, pertanyaannya apakah kita masih layak disebut manusia jika membiarkan mereka berurai darah dan air mata?,” ungkap penyanyi yang melejit namanya lewat lagu “awal yang indah” ini.

Sementara dari kacamata jurnalis, Muhammad Pizaro menyampaikan harapannya agar para jurnalis bisa lebih produktif mengabarkan krisis kemanusiaan yang terjadi di Ghouta saat ini.

BACA JUGA:  Depok Canangkan Pembuatan 1 Juta Lubang Resapan Biopori

“Selama ini, media baru mengangkat soal isu kemanusiaan ketika ada peristiwa. Padahal Ghouta adalah peristiwa itu sendiri, sudah sejak lama Ghouta terkepung dan mengharapkan uluran tangan kemanusiaan,” jelas Redaktur Eksekutif Kantor Berita Turki Anadolu Agency ini.

Bahkan baru-baru ini dunia serentak melakukan kampanye #IamStillAlive terkait krisis di Ghouta untuk menyampaikan kepada dunia bahwa mereka (masyarakat Ghouta) masih ada.

Pada kesempatan yang sama, Presidenn ACT, Ahyudin, mengatakan bahwa situasi di Suriah memaksa kita untuk bergegas menolong mereka yang berada di Ghouta, mumpung Ghouta masih ada! Daya rusak serangan yang terjadi, nyata besarnya. Setiap krisis kemanusiaan menyuguhkan peluang penentu, bagi pribadi juga bagi bangsa, menjadi pribadi atau bangsa yang baik dan humanis, atau mati rasa tak berperikemanusiaan.

BACA JUGA:  Sang Alang Rilis Lagu ‘Sontoloyo’ dengan Nuansa Karnaval

“Skala derita konlik di Suriah memasuki fase teramat kritis. Banyak jasad berjatuhan menjadi mayat, banyak jiwa menyelamatkan diri ke negeri lain. Tujuh tahun krisis Suriah, jangan cuma menyola angka korban atau kalkulasi kerugian material. Lebih jauh dari itu, apa yang sudah kita lakukan untuk menolong mereka?,” tegas Ahyudin. (san)

Comments

comments