Fenomena Bunuh Diri, Sekularisme jadi Biang Keladi?

Ilustrasi. (Istimewa)

Geger, ditemukan seorang pemuda tewas gantung diri di pohon, di sebuah lahan kosong Jalan H Midi, RT 7/2 Kelurahan Limo Kecamatan Limo Depok, Senin (5/3/2018). Diduga kuat korban depresi akibat sesuatu hal hingga nekad mengakhiri hidupnya. Korban diketahui bernama Rifqi Nur Cahya alias Pepeng (22 tahun), yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian. Dari keterangan Agus, pengurus RT setempat, malam sebelum kejadian terlihat korban galau atau gelisah seperti orang stres dan masih terlihat sempat keluar dari rumahnya untuk membeli rokok. Korban diduga melakukan tindakan gantung diri pada malam hari.

Memang, fenomena bunuh diri akhir-akhir ini semakin marak, menurut WHO kasus bunuh diri di Indonesia meningkat, tahun 2005 ada 30.000 kasus, tahun 2010 ada 5000 kasus, tahun 2012 ada 10.000 kasus. Depresi sering menjadi penyebab orang melakukan bunuh diri dan pemicu depresi sangat beragam tidak semata hanya masalah tekanan ekonomi ataupun hubungan keluarga yang tidak harmonis. Terkadang hal yang tidak masuk akal menjadi alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Pada Desember 2017 yang lalu kematian seorang idola artis K-Pop Jonghyun yang menggemparkan jagad penggemarnya juga menjadi alasan penggemarnya untuk mengikuti langkahnya, yaitu bunuh diri.

Kasus bunuh diri yang dilakukan Pepeng, tidak lepas dari dampak diterapkannya sistem sekulerisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Sistem ini melahirkan pribadi-pribadi yang keropos, membuat orang kehilangan pegangan yang benar, membuat orang tak punya harapan hidup dan sandaran saat mengalami tekanan hidup. Sehingga persoalan-persoalan sepele dengan mudah bisa memicu seseorang melakukan tindak bunuh diri. Sekulerisme telah meminggirkan peran agama dalam kehidupan. Agama dipenjara oleh kaum sekuleris hanya di masjid saja. Sekulerisme adalah falsafah kehidupan yang batil, membuat hati manusia tidak tenteram dan bertentangan dengan fitrah beragama manusia yaitu kebutuhan hubungan yang dekat dengan Sang Pencipta. Padahal agama adalah nasihat, nasihat untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Bisa dibayangkan betapa kerontangnya seseorang jika menjalani kehidupannya harus dijauhkan dari nasihat agama. Bagai kehilangan peta di hutan belantara.

Selain itu, sekulerisme telah membuat hubungan sosial yang individualistis, minim empati dan minim kepekaan sosial di tengah masyarakat. Di satu sisi drama kemiskinan banyak berkeliaran di sekitar kita, tidak semua orang mampu menikmati pendidikan, banyak orang tua yang tidak bisa membiayai pendidikan anak-anaknya, sakit dan rumah sakit adalah dua kata yang paling ditakuti oleh mereka yang tidak mampu sehingga timbullah slogan orang miskin tidak boleh sakit. Sementara di sisi lain drama reality show yang mempertontonkan acara tukar nasib antara si kaya yang hidup dengan kemewahan dan si miskin yang hidup dalam keterpurukan makin marak dipertontonkan dan kita bisa menikmati dampaknya di dunia nyata. Orang miskin berandai kaya, namun faktanya berbeda makan saja kadang tidak ada, belum lagi himpitan kebutuhan hidup lain yang tidak mampu dipenuhinya listrik, kesehatan, pendidikan yang semua berbayar, maka semakin terpuruklah kehidupan mereka.

Sikap individualistis juga melanda keluarga-keluarga, orang tua jarang berkomuniksi dengan anak karena kesibukan mereka, sehingga saat anak bermasalah tidak tahu harus bercerita ke mana, anak mencari solusi sendiri untuk menyelesaikannya, alih-alih menemukan solusi yang ada terjerembab ke dalam pergaulan yang salah.

Minimnya kepedulian negara dalam sistem sekuler kapitalis untuk mengurusi keperluan rakyatnya semakin memperbesar jurang kesenjangan antara si miskin dan si kaya. Hal ini memberi kontribusi besar sebagai pemicu terhadap meningkatnya angka bunuh diri. Penyebabnya bukan sekedar individual, tapi lahir dari sistem dan lingkungan. Sekulerisme dan kapitalisme menjadi biang keladinya dan paling bertanggung jawab terhadap besarnya jumlah bunuh diri ini.

Solusi yang harus dilakukan tidak cukup dengan menyediakan konseling di sekolah-sekolah, atau terapi kejiwaan di masyarakat, tapi dibutuhkan solusi yang fundamental merombak tatanan kehidupan masyarakat, yaitu mengganti aturan sekuler kapitalis dengan aturan yang datang dari Sang Pencipta yaitu aturan/syariat Islam. Sehingga setiap orang yang mendapat musibah apapun akan mengembalikan harapannya semata kepada pertolongan Allah SWT, meyakini setiap musibah ada kebaikan di dalamnya.

Sesuai dengan hadits dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang Mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, no. 2999)

Syariat Islam mewajibkan negara melakukan ri’ayah kepada semua warga negara, memberikan mereka jaminan pendidikan, kesehatan dan kesempatan untuk mampu mencukupi untuk kebutuhan hidupnya secara baik, sehingga terhindar dari tekanan kehidupan. Negara berfungsi sebagai perisai yang melindungi rakyatnya, bukan sebagai regulator seperti halnya dalam sistem kapitalis.

Maka persoalan bunuh diri yang kian meningkat tidak bisa diselesaikan secara personal saja, diperlukan solusi yang menyeluruh. Mulai dari akidah hingga ri’ayah yang dilakukan negara. Islam adalah aturan dari Sang Maha Pencipta sehingga memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menyelesaikannya.[]

Ditulis oleh: Isma Nur Diana S.Pd. Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Sukatani Tapos, Depok.

Comments

comments