Feminisme Cocok untuk Indonesia?

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh: Nurina Purnama Sari

“Yang bilang feminisme nggak cocok sama budaya Indonesia dapat salam dari Cut Nyak Dien, Kartini, Martha Christina Tiahahu. #FeminisIndonesia.”

Begitu kira-kira isi tulisan di kertas yang dibentangkan oleh salah satu aktris film yang juga aktivis feminis berinisial H. Dan akhir-akhir ini, bertepatan dengan momentum International Woman’s Day, isu feminisme kembali naik kepermukaan.

Isu ini diangkat oleh para aktivis feminis, karena mereka merasa perlu untuk menyetarakan posisi perempuan dengan laki laki agar tak ada lagi kasus perempuan yang tertindas (oleh laki-laki tentunya). Perempuan perlu mendapat keadilan dan kesetaraan dengan laki laki dari berbagai bidang.

BACA JUGA:  Jalin Silaturahim, Walikota Depok Gelar Buka Puasa Bersama Insan Pers Kota Depok

Padahal yang perlu dipahami tentang kata adil adalah, adil bukan berarti sama rata atau setara. Adil itu adalah ketika tiap kebutuhan dapat dipenuhi tanpa merasa terdzolimi. Sedangkan ide feminisme mengusung kesetaraan, di mana posisi wanita harus sejajar dengan pria terutama dalam hak politik, ekonomi, edukasi, sosial, budaya dan tak lupa setara dalam kesempatan kerja.

Yang sangat disayangkan, menurut saya ide feminis alih-alih membahagiakan perempuan, ia datang masuk ke Indonesia justru malah menambah “tugas” perempuan yang sudah kompleks di dalam keluarga. Bagaimana tidak, di dalam tatanan masyarakat Indonesia dari dulu, umumnya perempuan adalah pengelola rumah tangga, pendidik anak, serta penyeimbang peran suami dalam keluarga. Dengan hadirnya paham feminis ini justru merusak tatanan sosial budaya masyarakat Indonesia yang sudah terbentuk.

BACA JUGA:  Zizara Gagas Ajang Cari Bakat "Face Of Muslimah"

Tak hanya itu, seringkali paham feminis melenceng dari norma-norma yang ada, contohnya: di negeri asal paham feminis itu berasal, wanita di sana meminta hak untuk topless ( bertelanjang dada) untuk di legalisasi layaknya pria boleh untuk bertelanjang dada. Padahal dalam budaya Indonesia, pakaian wanita dijaga untuk tak menyerupai pria.

Sehingga dari sini kita dapat menarik kesimpulan, bahwa ide feminisme bukan hanya rusak dari segi pengonsepannya, tidak cocok dengan budaya Indonesia. []

Ditulis oleh Nurina Purnama Sari,S.ST
Ibu Rumah Tangga, aktivis posyandu, tinggal di Sawangan Depok

Comments

comments