Toleransi Mewujudkan Mimpi

Oleh : Ghozi Basyir Amirulloh

Setiap orang punya impian dan keinginan masing-masing. Harapan untuk mewujudkan impian itu sendiri akan diperjuangkan dan harus mempertaruhkan harta dan nyawa. Orientasi hidup yang terbangun memilah pekerjaan mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak perlu. Karena waktu terus berjalan dan usia tak ada yang tahu kepastiannya akan usai. Menghindar dari kesia-siaan dalam pekerjaannya dan bisa sesuai degan impian.

Lalu apa jadinya jika semua orang mengutamakan idealis mimpinya masing-masing. Tekad yang kuat dalam benaknya membuat antar manusia saling bertaruh dengan apa yang dimilikinya. Syukur saja jika sejalan impiannya. Tapi jika tidak?. Maka bisa jadi antar keduanya saling berelisih. Karena masing-masing sudah punya tekad.

Masing-masing orang berbeda pola pikirnya. Karakter yang dimilikinya membuat keputusan yang diambil menjadikan pilihan sebagai jalan kedepannya. Keberagaman suku dan budaya menjadi salahsatu faktor yang melatar belakangi seseorang. Karena pada sosialisai pertama adalah pada keluarganya. Maka keluarganya menyosialisasikan apa yang diajarkan dari suku dan budaya yang telah tertanam. Maka otomatis warisan watak dan karakter bisa turun menurun pada generasi berikutnya.

Sulit dihindari dari hidup bersama dengan orang lain. Berbeda sifat dan karakter yang dimiliki. Dipedesaan kental sekali dengan hidup bergotong royong. Berbeda dengan dikota yang kini lebih indivualis. Padahal sejatinya dikota pun butuh dalam bergotong royong. Karena perilaku tersebut sulit untuk diingkari.

Untuk mengendalikan berbagai perbedaan adalah mengambil jalan tengah agar tidak terjadi perselisihan diantara masing-masing pihak. Contohnya di pedesaan menganut adat istiadat yang mengatur kehidupan didesa itu sendiri. Untuk mengendalikan budaya tersebut maka dibutuhkan pemimpin yang mengatur contohnya kepala suku. jadi adanya adat istiadat itu dibuat untuk mengatur dirinya dan generasi selanjutnya. Begitu pula segala aturan yang dibuat. Untuk mengatur tatanan masyarakat dalam bersosial. Diambil jalan tengahnya yaitu dalam keberagaman sosial butuh toleransi. Mengapa ada undang-undang yang mengatur, tidak lain dan tidak bukan untuk itu. Mencapai cita-cita bersama dalam berbangsa dan bernegara.

Perbedaan sudah menjadi latar belakang. Bagaimana caranya mencapai tujuan bersama sudah dibuat aturan untuk keseimbangan dalam beragam. peraturan yang dibuat pun memberi kesempatan untuk kemugkinan yang terjadi karena ada hal-hal yang diluar dugaan. Misalnya sakit meninggal, bencana, dan lain sebagainya. Coba bayangkan jika peraturan yang saklek harus ditaati tanpa adanya toleran dan peluang. Pastinya seleksi dalam setia tatanan begitu mudah dieliminasi. Contoh dalam pekerjaan, tidak hadir sekali langsung keluar. Sedangkan untuk mencari tenaga kerja secara cepat pun tidak mudah. Maka uniknya adalah Allah memberikan toleransi terhadap sesama manusia. karna memang ada yang mengatur dari segala aturan dalam kehidupan yaitu sang pencipta alam semesta. Manusia hanya membuat peraturan agar bisa mengendalikan sesama manusia untuk suatu tujuannya.

Bagaimana sifat pengorbanan dan saling memaafkan diterapkan dalam bersosial. Saya sering mendengar perkataan bahwa untuk bisa mencapai sesuatu yaitu langsung praktek. Apakah setiap orang langsung bisa dan mahir?. Pastinya kita juga sering mendengar bahwa untuk mencapai kesuksesan adalah berani untuk gagal. Bayangkan, ada berapa orang yang menjadi korban dalam percobaan demi kesuksesan kita. Terus bagaimana sikap korban terhadap kita?. Bisa jadi ada yang langsung menegur atau berbicara dibelakang bahkan bisa jadi langsung menilai atas kegagalan dalam percobaan tadi. Jalan tengah yang terbaik untuk kejadian tersebut adalah sikap berkorban dan menerimanya serta memaafkan. Timbal balik dari si pencoba memberikan buah dari kesuksesanya kelak. Jika itu terjadi hidup ini akan indah. Karena mental baru akan terbangun berdasarkan kejadian tersebut.

Karna kita hidup bersosial maka adanya hubungan dan kesepahaman antar manusia. Maka sikap yang diambil harus sebaik mungkin untuk menjaga kesejahteraan bersama. kita semua senang terhadap budi pekerti yang baik. Karna naluri yang tertanam dalam hati demikian. Maka sikap orang baik terhadap yang lawannya yang tidak sesuai naluri ditanggapi dengan cara yang baik dan lembut. Sebelum risiko terjadi maka ada saling pengertian agar meminimalisir kesalahan untuk menjaga kestabilan dalam hidup bersama. Sika ini pula digunakan untuk lebih eifisien dalam pekerjaan untuk pemetaan fokus pada bidangnya.

Teringat pada kata-kata kawan saya, “hidup ini harus bernegosisasi”. Untuk mendapatka toleransi dari kemempuan yang dimiliki maka bernegosisasi. Jika kita sebutkan satu persatu tuntutan yang ada didunia ini pasti tidak akan masuk logika. Ayah yang selalu bekerja mencari nafkah untuk anak dan istrinya. Peran yang dimilikinya tidak hanya seorang ayah tetapi sebagai pegawai atau pekerja. Tentunya menjadi anggota masyarkat dilingkungan tempat tinggalnya. Secara logikanya untuk lebih ideal terhdap itu maka fokus satu bidang. Tetapi, dengan adanya toleransi dan negoisasi peran-peran tersebut dapat memberikan ruang dan waktu untuk mengoptimalkan peran tersebut. Walaupun ada risiko yang harus ditanggung terhadap keputusan yang diambil.

Dengan bernegosisasi bisa mencapai toleransi pada suatu masalah. Karna softskill ini dimiliki melalui sosialisasi lingkungan. Sebesar apapun jabatannya, itu hanya memperbesar skala tanggung jawab. Karna yang paling penting adalah kemampuan softskill ini. Bagaimana keputusan yang diambil dan bertanggung jawab atas keputusannya sendiri. Semoga dengan semakin baiknya sosialisasi dalam keluarga dapat menciptakan pemimpin pada generasi selanjutnya yang bertanggung jawab terhadap masyarakatnya.

Comments

comments