Teori dan Praktek Dalam Pendidikan Harus Seimbang

DEPOK – Pendidikan (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (06/01).

Sementara, Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma atau vokasi, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan Indonesia. Perguruan tinggi di Indonesia terdapat 3 jenis yaitu universitas, politeknik, dan institut.

Tiga jenis perguruan tinggi negeri tersebut memiliki sistem perkuliahan yang berbeda. Dari ketiga jenis perguruan tinggi itu pun melahirkan orang-orang yang berbeda. Sistem di politeknik sendiri adalah hampir 60% perkuliahnnya adalah praktik, sisanya adalah teori.

“Sebenarnya perguruan tinggi itu tugasnya melahirkan orang yang siap kerja dan siap didik, namun, di Indonesia sistem perkuliahan di pendidikan tinggi masih bergantung dengan sistem yang diterapkan universitas,” terang Nestor Rico Tambunan Dosen Politeknik Negeri Jakarta.

“Kesalahan pemahan pemerintah bahwa yang diinginkan sarjana lalu jadi pegawai negeri yang seharusnya diganti pandangan seperti itu,” sambungnya.

Hal inilah yang menjadi permasalahan untuk pemerintah agar mengerti perbedaan sistem perkuliahan di berbagai perguruan tinggi. Jika pandangan pemerintah yang seperti itu diganti, tidak menutup kemungkinan sistem pendidikan tinggi Indonesia akan sama baiknya dengan sistem pendidikan tinggi di negara lain.

Dalam politeknik memang benar hampir 60% sistem perkuliahannya praktik dan sisanya adalah teori, “Praktik dan teori dapat sih, tapi lebih kepada praktik yang sering dilakukan,” ujar Herdin Ramadhan salah satu Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Sistem seperti itu memang cukup efektif, namun ada saja dosen yang sudah senior menerapkan sistem seperti di universitas. Hanya diberi teori-teori, tetapi tidak ada praktiknya. Ada beberapa dosen pun tidak masuk jadi pencapaian belajar menjadi kurang.

“Antara praktik dan teori sebenarnya harus seimbang, dalam artian teori dan praktik sama yang dibahas,” sambungnya.

Dalam universitas pun sama. Mahasiswanya mendapatkan teori dan praktik. “Kebanyakan kita itu Student Center Learning, maksudnya kita diberi teori lalu dibahas dengan cara presentasi atau tanya jawab saja,” kata Fauzy Primawati Gusniarni, Mahasiswa Universitas Indonesia. Dengan konsep Student Center Learning (SCL) membuat mahasiswa lebih mengerti tentang teori yang disampaikan oleh dosen.

Seharusnya konsep itu juga diterapkan di politeknik, karena dengan pemahaman teori yang baik maka praktiknya akan baik bahkan bisa lebih baik lagi. Sistem pendidikan tinggi memang harus dibenahi lagi, agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam sistem perkuliahannya baik universitas, politeknik, maupun institut. Pertumbuhan sistem pendidikan tinggi Indonesia pun tidak cepat berubah dan tidak mudah beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Apalagi di wilayah pedalaman Indonesia, sangat sedikit orang yang mengerti tentang sistem pendidikan tinggi.

Dari tahun ke tahun pemerintah hanya berfokus kepada universitas, maka dari itulah pandangan pemerintah harus diubah agar sistem pendidikan tinggi merata di berbagai universitas, politeknik, dan institut. Selain itu, calon mahasiswa pun harus mengerti dan memahami sistem perkuliahan yang mereka pilih. Jika memilih universitas, mereka harus bersiap dengan teori-teori yang cukup banyak. Lain halnya dengan politeknik, mereka harus bersiap dengan praktik-praktik yang cukup banyak. (Ahmad Fikriandika)

Comments

comments