Sarjana Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga?

Oleh : Lina Herlina
(Student of Sharia Economy)

Ilustrasi. (Istimewa)

Teruntuk para isteri shalihah yang telah rela menyimpan gelar pendidikan yang engkau enyam bertahun-tahun, demi berkhidmah pada nakhoda rumah tangga dan mengurusi sang buah hati. Mungkin engkau sempat berfikir untuk dapat duduk dikursi jabatan, meeting dengan klien, dan menjadi perempuan hebat dengan segala prestasi dalam karirnya. Namun takdir berkata lain, engkau lebih sibuk dari yang kau bayangkan, dari mulai bangun tidur, mencuci baju, mencuci piring, pergi ke pasar, memasak, menyiapkan keperluan suami ke kantor, memandikan anak-anak, dan lain sebagainya. Seolah tak ada hentinya, sering kali para isteri mengeluh ketika ada yang bertanya atau menyinyirkan

Sarjana kok cuma jadi ibu rumah tangga??

Kalimat itu seringkali terdengar dikalangan masyarakat, yang nyinyir melihat tetangga, saudara bahkan orang lain yang memilih menjadi Ibu rumah tangga selepas mendapatkan gelar sarjananya. Tak jarang, kalimat tersebut selalu menjadi momok yang memalukan bagi sebagian kalangan.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Depok Optimalisasi Posyandu di Kelurahan Mampang

Pembaca yang budiman, rosulullah saw. Bersabda, “wanita dinikahi karena empat perkara, yaitu hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, maka engkau akan beruntung (HR Bukhari no.5090 dan Muslim no. 1466).

Tentunya jika seorang muslimah yang mengerti dengan agama, tidak akan pernah merasa malu dengan profesi sebagai Ibu rumah tangga, karena ia paham bahwa pernikahan adalah kuliahnya kehidupan. Seorang ibu dituntut untuk mampu menguasai berbagai bidang, baik itu ilmu manajemen, keuangan, ilmu gizi, tata boga, menjahit, psikologi, kesehatan, parenting, bahkan desain tata ruang dan lain sebagainya. Jika semua ilmu itu didapat dari hasil pendidikan dibangku kuliah, akan berapa lama mengahbiskan waktu untuk mendapat gelar S.rt (Sarjana Rumah Tangga)?

Sudah saatnya kita sadar, bahwa Tugas wanita adalah menjadi madrosatul-Ula (madrasah pertama) bagi anaknya. Maka setinggi apapun jabatan wanita dalam karirnya, tugas utamanya adalah menjadi Ibu rumah tangga. Menjadi Ibu rumah tangga bukanlah sebuah aib yang mesti membuat para wanita malu menyandangnnya meskipun wanita telah perpendidikan tinggi, karena untuk menjadi seorang Ibu dan Istri shalihah tidaklah diukur dari seberapa tinggi jabatan, sebab ternyata menjadi seorang Ibu rumah tangga adalah profesi yang paling mulia.

BACA JUGA:  KSEI IsEF SEBI Gelar Seminar Literasi Pekan Riset Ilmiah Mahasiswa

Sebuah anekdot yang menggelitik namun penuh makna “zaman sekarang jika ibunya pintar belum tentu anaknya juga pintar, karena sejak kecil ibunya sibuk dengan kursi jabatan dan anaknya disusui oleh sapi yang tak punya akal”.

Apakah pantas seorang wanita yang sejatinya mempunyai tugas sebagai madrasah utama yang mendidik buah hatinya, rela mati-matian mengejar sarjana dan gelar tinggi lainnya hanya untuk meraih kedudukan dan jabatan tinggi pada karirnya? bahkan malah melimpahkan tugas utamanya pada mertua atau baby sitter yang pada umumnya memiliki pendidikan rendah, sehingga pendidikan anak pada masa emasnya terabaikan, padahal seorang anak dalam masa ini membutuhkan peran orangtua khusunya Ibu secara intensif.

BACA JUGA:  KNPI Bersama Tidar dan Yayasan Aku Ingin Sehat Sambangi Lokasi Banjir di Depok

Rasulullah saw. Bersabda kepada Umar Ibnul Khattab r.a., “maukah aku beritahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu isteri shalihah yang jika dipandang , dia akan menyenangkan, jika dia diperintah, dia akan menaatinya, jika suami pergi, dia akan menjaga dirinya.” (HR A bu Dawud no. 1417).

Semoga kita para Ibu, istri dan calon keduanya, kelak kita akan menjadi khadimah, semoga nanti kita bisa menjadi sebaik-baik perbendaharaan sang tuan yang akan kita sebut suami, dengan taat pada titahnya, menjadi sebaik-sebaik perhiasan dunia hingga bidadari syurga cemburu melihatnya. dan Ketika masih banyak yang bertanya “apa nggak sayang kuliah setinggi itu, tapi pada akhirnya hanya jadi Ibu rumah tangga?” seorang muslimah sejati tak akan enggan untuk menjawab “Im a full time mom and wife at home. And I Love it”.

Comments

comments