Radio Tetap Bertahan di Era Digital

Ilustrasi. (Istimewa)

Depok – Radio tetap bertahan di era digitalisasi karena untuk mendengarkan radio pendengar tidak memerlukan energi khusus. Bisa didengarkan di mana saja, bahkan melalui gadget. Inilah salah satu unsur radio yang belum tergantikan oleh jenis media lain bahkan di era digitalisasi ini.

Unsur lain, untuk mendapatkan berita atau hiburan melalui radio, pendengar tak perlu dengan membaca atau menulis. Cukup dengan mendengarkan. Itupun tak perlu sambil duduk di depan radio. Sambil mendengarkan radio, kita bisa melakukan aktivitas lain, seperti sambil mencuci piring, sambil menyapu, sambil menyeterika, sambil mengemudi mobil, atau sambil mengetik.

Itu sebabnya data dari lembaga survey A.C.Nielsen menyebutkan bahwa alasan terbesar orang mendengarkan radio sampai sekarang adalah karena radio dapat menjadi teman dan sahabat di mana pun dan kapan pun diperlukan.

Sama halnya dengan dua kampus, yaitu Politeknik Negeri Jakarta dan UIN Syarif Hidayatullah yang mempunyai kegiatan formal dalam bidang radio. Poros dan RDK menjadi nama dari kegiatan tersebut. Kedua kampus ini, sangat mengandalkan kegiatan radio untuk pembelajaran bagi mahasiswa yang tertarik dalam dunia radio, dan tentunya mahasiwa juga dapat belajar mengenai organisasi.

Beberapa mahasiswa mengatakan, mendapat hal positif ketika mengikuti kegiatan radio di kampusnya.

Bima anggota RDK di UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, “Banyak hal yang saya dapat di rdk, saya sebagai music director sering mendatangi label-label music, Press conference artis-artis dan lainnya secara gratis. Dan tentunya di RDK saya sering bertemu dengan mahasiswa radio dari kampus lain.”

“Saya di Poros fokus di divisi scrpit writer, saya menulis untuk dibaca oleh announcer atau pengisi acara. Pada saat pembahasan bahasa radio di mata kuliah bahasa jurnalistik, saya jadi paham betul dan sudah mengerti terlebih dahulu sebelum dosen yang bersangkutan menjelaskan,” ujar Shasa anggota Poros di Politeknik Negeri Jakarta.

Respon mahasiswa terhadap kegiatan radio sangatlah besar. Mahasiswa sampai rela begadang jika radio mereka mempunyai acara besar bahkan kebanyakkan mahasiswa menunda pulang hanya karena ingin bersantai sejenak sambil bernyanyi bersama dengan anggota lainnya. Dan terbukti, setiap tahunnya ketika dibuka rekruitemen anggota baru, sangat ramai karena banyak mahasiswa yang mendaftar.

“Sangat bagus jika mahasiswa mengikuti UKM radio. Mahasiswa bisa tau bagaimana cara berkomunikasi yang baik serta benar dan mahasiswa bisa mendapatkan ilmu jurnalistik radio seperti jurnalistik untuk telinga, tidak semua tulisan di media cetak, televisi dan media lainnya bisa kita katakan di radio,” ujar Djhony Herfan Dosen mata kuliah pengadaan bahan berita di Politeknik Negeri Jakarta.

Silvi Azkia selaku Dosen Universitas Gunadarma menambahkan, “Ya, daripada mereka main-main tidak jelas, lebih baik mengisinya dengan kegiatan positif.”

Perlu kita ketahui bahwa adanya perbedaan radio di era dahulu dan sekarang. Tentunya, perbedaan yang positif.

Mantan penyiar radio RRI dan Delta FM Rita Sri Hastuti mengatakan, “Perkembangan teknologi radio sekarang ini luar biasa. Tentu saja ini perkembangan yang positif, meskipun menjadi sangat mahal. Karena tuntutan teknologi modern, pendengar yang semula dimanjakan telinganya malah ingin juga dimanjakan matanya. Kalau dulu rasa ingin tahu tentang penyiarnya, misalnya, cukup menyimpan di dalam hati atau dengan mendatangi ke studio, kini pendengar dapat menonton suasana siaran antara lain melalui Instagram.”

Penulis : Bunga Limita Khalda L, Politeknik Negeri Jakarta

Comments

comments