Perangai Wanita yang Berbuah Surga

Ilustrasi. (Istimewa)

“Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang shalihah.” Ungkapan tersebut merupakan hadist Rasulullah yang menunjukkan bahwa keshalihan wanita adalah barang yang paling berharga di dunia. Begitupun dengan kedudukan seorang wanita, Allah SWT menamakan salah satu surah dalam al-Qur’an yaitu An-Nisa yang berarti wanita Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik terhadap istrinya.” Dengan demikian, adakah alasan bagi wanita untuk tidak memuliakan dirinya sendiri?

Salah satu perangai wanita berbuah syurga yaitu istri yang menjalankan kewajiban syari’at dan taat kepada suami. Dalam islam, kedudukan wanita dan laki-laki adalah seimbang. Artinya dalam beribadah mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama, misalnya shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan dan membayar zakat ketika sudah mencapai nishab dan haul. Bahkan Allah SWT menjamin bahwa laki-laki dan wanita yang beramal sholih sama-sama mendapat penghargaan istimewa di mata Allah : “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 97)

Dalam kehidupan rumah tangga, seorang istri memiliki kewajiban dalam menaati suaminya secara ma’ruf (baik). Kewajiban ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena dari sinilah kedudukan seorang wanita ditentukan. Oleh karena itu, saat akan membangun kehidupan berumah tangga hendaknya memiliki niat yang lurus, yaitu untuk mendapat ridha Allah SWT. Menurut Ibnu Rajab Al-Hanbali, seseorang tidak akan mendapatkan hasil dari amalannya, melainkan apa yang telah diniatkan.

Dengan kata lain, jika seorang wanita melakukan pernikahan dengan niat untuk ibadah, mengabdi kepada Allah, mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dan mencari keridhaan suami, Allah akan memberikan kelanggengan, kemudahan, kebahagiaan di dunia dan akhirat dalam rumah tangganya.

Sayangnya di era modern ini, sebagian wanita melupakan keutamaan berbuat taat kepada suaminya. Ada yang menganggap tidak penting, kuno, bukan lagi zaman Siti Nurbaya, tidak ingin dikekang dan persepsi negatif lainnya. Sampai ada yang karena latar belakang status, pendidikan dan kariernya lebih tinggi, seorang istri minta lebih ditaati oleh suami, istri menjadi pemimpin dalam keluarga, sementara kapasitas suami hanya sebagai ayah dari anak-anak mereka.

Wanita-wanita di zaman Rasulullah SAW, adalah teladan utama bagi wanita pada zaman ini. Meski mereka mapan secara ekonomi, lebih tinggi secara status, mereka tidak meninggalkan ketaatan kepada suaminya. Bagi mereka istri adalah makmum yang selalu mengikuti perintah imam (suami).

Ummul Mukminin, Siti Khadijah r.a adalah sosok wanita (istri) yang berbakti terhadap suaminya. Ia adalah pengusahan sukses yang tidak pernah memandang sebelah mata, apalagi meremehkan suaminya yakni Rasulullah SAW. Bahkan ia menghabiskan semua kekayaan demi perjuangan dakwah suaminya tanpa pamrih.

Diriwayatkan dari Amir bin Sa’id r.a bahwa Ali r.a pernah marah kepada istrinya, Fatimah r.a. Karena kemarahan Ali r.a, Fatimah r.a berkata, “Demi Allah, aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah SAW.” Fatimah menemui Rasulullah SAW dan Ali r.a pun mengikutinya dan berdiri di tempat yang memungkinkan untuk mendengar percakapan mereka. Mendengar pengaduan Fatimah r.a, Rasulullah menasihatinya, “Wahai putriku, perhatikan, dengarkan dan renungkan! Seorang istri harus bisa memberikan kesenangan kepada suaminya.” Fatimah r.a lalu berkata, “Demi Allah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak disukainya selamanya.”

Di zaman Tabi’in ada seorang hakim bernama Syuraih al-Qadhi, ia bertemu dengan sahabatnya yang bernama al-imam asy-Sya’bi dan bertanya tentang keadaan keluarganya. Syuraih menjawab, “Sudah 20 tahun lamanya aku tidak mendapati sesuatu yang membuatku marah terhadap istriku.” Syuraih menceritakan tentang ketaatan sang istri, termasuk apa saja yang ia sukai dan tidak sukai. Jika tidak menyukai suatu hal, sang istri akan menghindarinya. Jika suaminya menyukai suatu hal, sang istri berusaha untuk memenuhinya. “Sesungguhnya aku adalah wanita asing yang tidak mengetahui akhlakmu. Jelaskanlah kepadaku apa-apa yang engkau sukai sehingga aku akan melakukannya, dana apa-apa yang tidak engkau sukai sehingga aku meninggalkannya,” begitu pinta sang istri.

Syuraih pun berkesimpulan, “aku tinggal bersama istriku selama 20 tahun dan aku tidak pernah menghukumnya tentang apapun, kecuali sekali dan itupun aku merasa telah mendzaliminya.”

Begitulah keindahan akhlak dan ketaatan wanita-wanita shalihah di zaman salaf terhadap suaminya. Tidaklah cukup pena menulis kebaikan-kebaikannya. Mereka adalah wanita-wanita terbaik yang layak menjadi cermin dan teladan bagi wanita zaman ini.

Ketentuan Allah agar seorang istri menaati suaminya bukanlah untuk memangkas harkat dan martabat wanita, sebagaimana pendapat dari kalangan musuh islam. Allah memerintah istri taat kepada suami karena banyak mengandung banyak keutamaan, berkah dan manfaat dibaliknya. Istri yang taat kepada suami akan mendorong, menguatkan, sekaligus menjadi pilar utama lahirnya kehidupan rumah tangga yang harmonis, dan penuh rahmat.

Suami ibarat ladang syurga bagi istri yang taat. Keridhaan suami adalah keridhaan Allah. Suami yang ridha atas ucapan dan perbuatan istri, syurga adalah tebusannya. Jaminan itu disampaikan Rasulullah saw, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktu, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk syurga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban)
Wallahu’alam bi showwab

Oleh : Annisa Fadhillah (Mahasiswi STEI SEBI)

Comments

comments