Peran Sholat Berjamaah Dalam Kehidupan Masyarakat

Oleh: Nanda Yurit Zul Hananah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah banyak mengetahui mengenai sholat berjama’ah. Yaitu Sholat wajib lima waktu dalam sehari, yang terdiri dari sholat shubuh, dhuhur, ashar, magrib dan isya’. Yang biasanya di laksanakan di masjid-masjid atau mushollah.

Sebagian umat islam masih ada yang membiasakan diri mengerjakan sholat lima waktu di rumah atau di kantor tempat ia bekerja. Sangat sedikit yang membiasakan sholat lima waktunya berjama’ah di masjid atau mushollah dimana adzan di kumandangkan. Bahkan ada sebagian saudara muslim yang membiasakan dirinya sholat seorang diri alias tidak berjama’ah. Padahal terdapat sekian banyak pesan Nabi Muhammad SAW yang menganjurkan umat islam (terutama kaum pria) sholat berjama’ah di masjid tempat dimana adzan dikumandangkan.

Problematika yang sekarang sering kita jumpai di kalangan masyarakat di sekitar kita adalah Mengapa Orang Malas ke Masjid untuk Melaksanakan Sholat Berjama’ah?
Pertanyan ini sering kali muncul dibenak saya, melihat kondisi jama’ah masjid di daerah dekat rumah saya, padahal penduduk yang berdiam di sekitar masjid itu ada banyak kepala keluarga. Masjid yang jika di definisikan ini termasuk masjid yang bagus dan megah, hanya sekitar 2 tahunan masjid ini ramai di kunjungi orang untuk beribadah, dan lama-kelamaan semakin berkurang dan sedikit.

Setelah di telusuri ternyata ada dua problematika yang terjadi di kalangan masyarakat pada saat ini, yaitu :

Pertama kurangnya kesadaran iman serta ketaqwaan sebagai seorang muslim.
Kedua, kondisi masjid itu sendiri, yang kurang akan kesadaran masyarakat sekitar masjid tersebut.

Pembahasan problematika yang pertama adalah kurangnya kesadaran iman serta ketaqwaan sebagai seorang muslim. Abu Hurairoh ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya laki-laki yang melakukan sholat berjama’ah di masjid lebih baik dua puluh tujuh derajat dibanding sholat yang dilakukan di pasar atau di rumah. Sebab jika seseorang melakukan wudhu dengan baik, kemudian mendatangi masjid hanya untuk sholat, maka derajatnya akan ditinggikan satu tingkatan, dan keburukan akan diampuni setiap kali ia melangkahkan kakinya hingga masuk masjid. Bila ia telah masuk masjid, ia diberi pahala sebagaimana orang yang melakukan sholat (sekalipun ia hanya duduk), selama ia menanti sholat (berjama’ah). Para malaikat pun mendo’akan seseorang, selama ia di tempat sholatnya (ia belum meninggalkan masjid). Para malaikt itu berdo’a, “Ya Allah, berikanlah rahmat kepadanya. Ya Allah,ampunilah dia. Ya Allah, terimalah tobatnya.” (Do’a tersebut dibaca oleh para malaikat), selama ia tidak menyakiti (orang lain) dan tidak berhadats.” (muttafaqun ‘alaih)

Hadits Rasulullah diatas menjelaskan tentang banyaknya keutamaan sholat berjama’ah di masjid. Yang pertama, bahwa sholat berjama’ah bagi seorang muslim laki-laki, nilai kebaikannya lebih banyak yaitu 27 kali (lipat) dibanding sholat di rumah atau tempat-tempat lainnya.

Yang kedua, bahwa sholat berjama’ah di masjid akan meninggikan derajat seseorang disisi Allah, setiap kali ia mendatangi masjid untuk sholat berjamaah, Allah akan tinggikan derajatnya satu tingkatan. Sehingga semakin sering seseorang pergi untuk melakukan sholat jama’ah di masjid, semakin tinggi pula derajatnya disisi Allah SWT, walaupun di tengah-tengah masyarakat ia seorang manusia biasa, tapi dalam pandangan Allah ia adalah manusia yang sangat mulia.

Yang ketiga, bahwa seseorang yang pergi untuk melakukan sholat berjama’ah di masjid, maka setiap langkahnya akan menghapus keburukan, setiap satu langkah, satu dosa akan diampuni. Dan semakin jauh jarak antara rumah dengan masjid makan akan semakin banyak pula dosa yang diampuni.

Yang keempat, bahwa diamnya orang yang duduk di masjid dalam rangka menunggu sholat berjama’ah diberi pahala kebaikan seperti orang yang mengerjakan sholat, semakin lama ia menunggu semakin banyak pula pahala yang di dapat. Ini memotivasi kita untuk dating ke masjidseawal mungkin, segera setelah kita mendengar adzan berkumandang. Diamnya saja dihitung sebagaimana orang yang sedang mengerjakan sholat, apalagi bila kita menunggu iqomah sambil menunaikan sholat sunnah, dzikir ataupun tilawah, tentunya pahala yang kita dapat akan semakin melimpah.

Yang kelima, bahwa berwudhu dari rumah, ketika mau pergi ke masjid dalam rangka menunaikan sholat berjama’ah adalah sebuah keutamaan, karena berwudhu dengan baik, sempurna niat dan rukunnya, menjadi syarat untuk mendapatkan keutamaan pada point kedua, ketiga dan keempat diatas.

Yang keenam, selama kita masih berada di tempat sholat atau masjid, baik kita diam maupun berdzikir ataupun sedang tilawah, para malaikat akan mendo’akan kita, mendo’akan agar Allah mencurahkan rahmat kepada kita, mendo’akan supaya Allah mengampuni dosa-dosa kita, serta mendo’akan agar Allah menerima taubat kita. Dengan syarat kita tidak sedang menyakiti hati orang lain dan kita masih mempunyai wudhu.

Dan problematika yang kedua adalah mengenai kondisi masjid itu sendiri yang kurang akan kesadaran msyarakat sekitar masjid di daerah saya sendiri. Saya pribadi tidak menyalahkan rumah Allah, tempat saya beribadah kepada-Nya, tetapi orang-orang yang terlibat dalam pemeliharaannyalah yang salah, saya baru sadar setelah saya mendengar tablig dari salah seorang ustadz. Pada suatu acara pengajian mingguan. Pokok-pokok permasalahannya yaitu :

  • Masjid tidak terpelihara dengan baik, sering digunakan oleh anak-anak untuk tidur di waktu malam, tanpa memperhatikan kebersihan masjid, ditambah lagi dengan karpet masjid yang jarang sekali dibersihkan.
  • Petugas yang membawakan adzan atau sering disebut dengan mu’adzin di daerah saya adalah orang yang sudah uzur alias manula, sehingga suara adzan yang seharusnya lantang dan merdu nyaris tak terdengar dan terbata-bata, ditambah lagi dengan microfon (pembesar suara) yang kurang mendukung.
  • Khatib yang saat memberikan ceramah, kebanyakan bercerita tentang neraka dan siksaan di akhirat seperti menakut-nakuti dan mengintimidasi para jamaah, dalam suasana ruangan yang sumpek dan suara microfon yang mendengung, para jamaah merasa itu sangat monoton dan membosankan.
  • Pada setiap sebelum atau sesudah sholat biasanya panitia masjid akan mengumumkan jumlah saldo sumbangan dari jama’ah yang terkumpul dengan angka-angka yang fantastic, tapi pemeliharaan masjid tidak dilakukan dengan baik.
  • Imam yang memimpin sholat berjama’ah menggunakan ayat-ayat yang panjang, sehingga para jama’ah merasa tertekan dalam kondisi dan situasi ruangan yang kurang nyaman.
  • Yang terakhir, bagi umat yang dasar dan pemahaman agamanya masih dangkal, di cecoki dengan janji-janji surga yang ada di Al-Qur’an, tanpa memberi perenungan lebih mendalam tentang Al-Qur’an dan hadits, akan membuat mereka semakin bosan dalam ruangan yang lembab, karena mereka tak mau mengetahui sesungguhnya mendengarkan dakwah adalah mendapatkan pahala.

Tapi coba katakan kepada mereka bahwa setiap sholat berjama’ah akan ada pembagian sembako, pasti mereka akan berlomba-lomba menuju ke masjid.

Disinilah para mubaliq kita di uji untuk memberikan pencerahan dan perbaikan iman kepada para jamaah.

Keistiqomahan kita terletak pada sisi ketaqwaan kita sendiri terhadap Allah. Jika kita merasa futur atau jauh dari sang pencipta, itu berarti ada yang salah dalam sholat yang kita kerjakan.

Bisa diambil kesimpulan bahwa masjid tempat kita beribadah adalah bagian dari kekayaan kita yang kita semua herus memeliharanya seperti memelihara diri kita dan rumah kita sendiri, bahwa masjid kita adalah tempat beribadah kepada Allah, tak ada larangan untuk ditempati tidur apalagi bagi seorang musafir, tapi sebaiknya jagalah kebersihan masjid dari barang najis dan kotoran.

Comments

comments