Narkolema Bikin Sakit Jiwa

(Istimewa)

Istilah NAR-KO-LE-MA nyatanya tak seindah ketika bibir berusaha mengejanya. Sepintas Anda akan bertanya-tanya? Apa itu narkolema? Para praktisi dan ahli kejiwaan merilis istilah narkolema yang mungkin masih terdengar asing bagi kita. Narkolema merupakan singkatan dari narkotika lewat mata.

Intinya, narkolema menyebabkan penderitanya ketagihan/kecanduan untuk membuka materi visual, baik gambar, video, game maupun konten porno dengan intensitas yang terus meningkat sehingga menyebabkan efek candu layaknya narkotika. Salah satu efeknya, anak-anak yang terpapar narkolema pun cenderung sulit mengontrol perilaku dan emosi, mereka resah ketika tidak memegang gawai dan marah ketika gawai dirampas atau dijauhkan dari mereka yang berujung pada perilaku menyakiti diri sendiri bahkan orang lain.

Jika tingkat kecanduan sudah tergolong parah, korban narkolema mampu membentur-benturkan kepalanya ke tembok ketika sangat ingin menggunakan gawai karena tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Itulah fakta yang dilihat sendiri oleh ahli kejiwaan di Poli Jiwa RSUD dr. Koesnadi Bondowoso, Jawa Timur ketika dalam beberapa bulan terakhir merawat dua siswa (satu SMA dan satunya lagi masih SMP) yang kecanduan pada penggunaan gawai hingga menimbulkan guncangan jiwa. Bahkan hasil psikotes menunjukkan bahwa salah seorang anak korban narkolema tersebut telah mengidentifikasi dirinya sebagai pembunuh. Sementara orang yang paling dibencinya adalah orang tuanya yang dianggap sebagai penghalang dirinya untuk berhubungan dengan laptop dan gawai (https://m.antaranews.com/berita/676847/siswa-di-bondowoso-gangguan-jiwa-karena-kecanduan-gawai).

Narkolema merupakan fenomena gunung es, yang hanya tampak di permukaan saja. Justru masih banyak anak lainnya yang mengalami hal serupa, namun orang tua mereka enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau kurang menyadari tentang masalah yang sedang dihadapi si anak. Biasanya orang tua baru menyadari setelah sang anak jarang masuk ke sekolah dan prestasi akademiknya terus menurun.

Sekelumit fakta di atas mau tidak mau menampar kita para orang tua yang jauh lebih dewasa secara akal dan usia. Konsekuensi hidup di era digital saat ini mau tidak mau turut berpengaruh dan menjadi daya tarik dalam kehidupan anak-anak. Yang menjadi pertanyaan kini, adakah stimulus negatif gawai yang merusak otak anak-anak kita hadir lewat sumbangsih dari orang tuanya di rumah?

Jika pada awalnya gawai dijadikan tameng agar anak usia dini bisa ‘anteng’ sementara orang tuanya bisa melenggang bebas menyelesaikan urusannya masing-masing tanpa direcoki oleh anak. Dan ketika anak beranjak remaja, _gadget_ pun menjadi barang yang harus dimiliki oleh anak dengan alasan daripada anak main keluyuran di luar rumah.

Islam sebagai agama yang paripurna mampu memberikan penyelesaian terhadap fenomena ini. Bagaimanapun juga menggunakan hasil dari sains dan teknologi hukumnya adalah mubah (boleh) semisal gawai, pun untuk anak-anak. Tetapi, kebolehan itu pilihan, boleh diambil atau ditinggalkan. Hanya saja ketika menentukan pilihan pada perkara yang mubah/boleh, harus dipikirkan kembali sejauh mana manfaatnya dan mudaratnya.

Jika memberikan gawai pada anak ternyata berdampak buruk semisal fokus belajarnya terganggu, lalai dalam beribadah dan sebagainya maka gawai tadi lebih utama untuk ditinggalkan, jangan diberikan pada anak. Dan jika gawai berdampak pada sesuatu keharaman misalnya terpapar pornografi, gawai bisa menjadi wasilah keharaman, hukumnya haram, wajib ditinggalkan.

Demikianlah Islam memberikan solusi akan hal ini. Tak cukup sampai di situ, negara memiliki andil besar dalam mengatur konten yang beredar di dunia digital. Jika negara mampu memfilter konten visual teknologi hanya sebatas konten positif yang menstimulasi ketinggian berpikir, yang mampu menjernihkan akal dan menangkan jiwa, maka kasus narkolema ini akan sangat jauh berkurang di kemudian hari dan kasus serupa tak akan kita dapati lagi nanti.[]

Ditulis oleh: Nurina Purnama Sari, Ibu Rumah Tangga, Pegiat Pendidikan Anak Rumah. Tinggal di Sawangan, Depok

Comments

comments