Mahasiswa Dituntut Berpikir Kritis dalam Problem Based Learning

DEPOK – Problem Based Learning adalah metode pembelajaran yang sudah diterapkan oleh beberapa lembaga pendidikan, khususnya perguruan tinggi. Dengan Problem Based Learning ini mahasiswa dituntut untuk menjadi seseorang yang mandiri dan berpikir kritis dalam menghadapi dan menyelesaikan sebuah masalah. Metode ini tidak diwajibkan untuk para pendidik ataupun dosen untuk memakainya.

Problem Based Learning adalah metode pembelajaran yang melibatkan langsung sebuah kasus dan mahasiswa dituntut untuk menganalisa, meneliti, dan memberi kesimpulan terhadap kasus atau materi yang diberikan. Metode ini pula mendidik mahasiswa sebagai titik awal menghadapi permasalahan di dunia nyata.

Tujuan dari Problem Based Learning yaitu untuk membuat seorang mahasiswa menjadi mandiri. Bukan hanya itu, dari metode ini pula mahasiswa dituntut untuk selalu bisa belajar dan menganalisis sebuah kejadian. Bisa disimpulkan dengan metode ini mahasiswa harus kreatif dan mandiri dalam menghadapi sebuah kejadian atau pun kasus yang ada di dunia nyata.

Astari Rahmaninda (20), Mahasiswa Universitas Indonesia ini contohnya, ia menerangkan bahwa metode pembelajaran ini sudah diterapkan oleh sang dosen di dalam kelas. Sejak semester pertama ia sudah daiajarkan metode pembelajaran ini. Dengan belajar menggunakan metode ini ia dapat mempersingkat waktu, menjadi aktif berdiskusi dalam berkelompok, dan bisa memutuskan jalan tengah dalam suatu masalah. Menurut dia dengan metode ini dan juga contoh kasus yang menarik dapat memicu untuk berpikir kritis. Dengan metode ini juga ia lebih mudah memahami sebuah informasi dan mudah mengingatnya karena teori yang didapat atau informasi langsung yang diaplikasikan terhadap suatu kasus. Metode ini juga menyingkat waktu pembelajaran yang membutuhkan banyak waktu , karena setiap pemikiran orang dapat menjadi informasi untuk menjadi bahan analisa. Kekurangan dari metode ini ia menjelaskan bahwa dimana kadang kala seorang dosen tidak memberi batasan pada saat diskusi, kurangnya pengawasan pada saat diskusi dan juga harusnya memiliki “dasar” apa yang seharusnya dibahas pada saat belajar. “Kurangnya pengawasan dosen, membuat mahasiswa jadi asik ngobrol dan juga tidak nyampe topik utamanya,” lanjut mahasiswi psikologi tersebut. Ia juga menjelaskan sisi positif yang bisa diambil dari metode pembelajaran ini ialah dapat mempraktikan dan mengaplikasikan teori-teori yang ia terima ke kehidupan nyata. “Metode ini sudah bagus, Cuma saya berharap dosen bisa lebih mengawasi lebih baik, dan bagaimana caranya agar mahasiswa dan dosen itu bersinergi,” ujar mahasiswi berjilbab ini. Ia juga berharap dosen bisa bersinergi sebagai seseorang yang sama-sama mencari ilmu yang dipahami.

Beda ceritanya dengan Faiza Rahman Hakim (20), Mahasiswa Geologi Universitas Gajah Mada ini juga berbagi pengalamannya, meskipun ia masih awam dengan Problem Based Learning tetapi ia juga mendapatkan metode pembelajaran ini dari beberapa dosennya. Ia baru menyadari bahwa metode ini sudah pernah ia rasakan ketika duduk di bangku sekolah, khususnya pada saat Sekolah Menengah Atas. Meskipun tidak semua dosen mempraktikan metode pembelajaran ini, ia pun menjelaskan bahwa metode ini sudah dilakukan tetapi ia tidak mengenal istilah Problem Based Learning itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa metode ini adalah metode yang bagus untuk mahasiswa, karena membuat mahasiswa lebih mandiri dalam menyelesaikan sebuah masalah. Ia juga berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan jika metode pembelajaran seperti ini memiliki kekurangan. “Biasanya, mahasiswa suka susah untuk dapet sumbernya dari mana ketika terlalu membebaskan,” ujar yang akrab dipanggil Iza itu. “Terus pertahankan dan kembangkan dalam artian memperbaiki cara penyampaian dalam metode atau penambahan lain dalam metodenya yang memicu mahasiswa untuk lebih baik lagi output-nya,” ujar sang pencita alam ini.

Regina Salsabila (20) Mahasiswi Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung ini juga bercerita bahwa ada beberapa tugas dan satu mata kuliah yang menggunakan metode ini. Menurutnya, metode ini memancing dan merangsang sistem berpikir mahasiswa, membuat mahasiswa melihat sesuatu tidak hanya dari satu perspektif, dan membuat mahasiswa berani mengambil tindakan yang menurut dirinya paling sesuai. Tetapi, menurut mahasiswi yang akrab dipanggil Rere ini menjelaskan bahwa metode ini untuk mahasiswa yang cenderung kurang aktif atau malas akan tidak mendapatkan sesuatu yang seharusnya menjadi hasil dari tujuan metode ini karena mereka merasa tidak memiliki dasar tentang suatu masalah. “Saya berharap semoga dengan metode ini bisa memiliki parameter yang jelas supaya jelas apa indikator kesuksesannya,” ujar Rere.

Sebagai dosen, Rita S Hastuti (62) pun menjelaskan jika metode yang ia berikan terhadap para mahasiswanya tidak hanya satu teori metode pembelajaran, ia lebih mengajak mahasiswa untuk memikirkan bersama dalam satu masalah, ia memberikan masalah yang ada karena ia dan para mahasiswanya belajar mengenai berpikir sesuatu yang seharusnya menjadi hasil metode tersebut. Maka ia memberikan gambaran mengenai dunia pembelajaran yang sebenarnya. Dengan memberikan langkah-langkah kepada para mahasiswa terhadap satu masalah apa yang harus dilakukan, Ia tidak begitu paham dengan metode teori seperti Problem Based Learning ini karena ia merasa ia seorang praktisi. Selain itu, ia mengajak mahasiswa untuk memahami teori yang harusnya diketahui dan dipraktikan. Ia lebih berbagi apa yang sudah ia temui sebelumnya kepada para mahasiswanya. “Saya ingin tidak hanya belajar di kelas tetapi keluar kelas lebih melihat dengan nyata,” ujar Rita.

Problem Based Learning ternyata sudah dipakai oleh beberapa universitas ternama di Indonesia, meskipun tidak semua mata kuliah menggunakan metode tersebut. Bukan berarti tidak memakai metode ini adalah salah tetapi setiap pendidik atau dosen atau praktisi memiliki metode tersendiri untuk menyampaikan ilmu yang mereka miliki untuk para mahasiswanya. (Wahid Rizkillah )

Comments

comments