Hijrah Sebagai Awal Baru, Menulis Ulang Perjalanan Hidup

Oleh: Firda Ahyani

Hal yang sangat berharga dalam hidup ini adalah waktu. Waktu atau Masa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung (Wikipedia, 2016). Ketika waktu itu sudah terlewati maka tidak dapat seorang pun yang dapat memutar ulang waktu itu untuk memperbaikinya. Sehingga banyak yang mengatakan penyesalah datang belakangan bukan di awal.

Setiap manusia pasti pernah merasakan yang dinamakan penyesalan dalam segi apapun. Terkadang menyesal karena tidak dapat menggunakan waktu dengan baik untuk mencapai tujuannya merupakan satu langkah awal yang baik. Sebab datangnya penyesalah pasti karena ia pernah merenungi kesalahan yang dilakukannya. Sehingga menyesal lebih baik dari pada tidak pernah menyesal. Maka ketika penyesalah datang, bukan keputus asaan atau keterpurukan yang harus ada dalam diri, namun penyesalan itu harus mendatangkan solusi dan pelajaran berharga agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebab waktu dimasa depan (esok hari) tidak boleh lebih buruk dari hari kemarin. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud RA bahwasanya dia berkata: “Tidaklah aku menyesali sesuatu, seperti penyesalanku atas suatu hari yang berlalu dengan terbenamnya matahari, semakin berkurang umurku tetapi tidak bertambah amalanku.”

Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang. Berhijrah memang tidak semudah membuat susu. Akan tetapi membutuhkan proses perlahan demi perlahan, sedikit demi sedikit. Tidak hanya yang baru berhijrah yang membutuhkan proses. Orang yang sudah hijrah juga masih butuh proses untuk istiqomah.

Sering kali orang yang merasakan keraguan, kurang percaya diri, dan rasa lelah saat berada dalam perjalanan hijrah. Sehingga tidak sedikit yang terhenti perjalannya hijrahnya. Hal tersebut merupakan ujian yang diberikan agar hati kuat dan teguh dalam berhijrah. Dalam QS. Al- Baqarah ayat 214 yaitu “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (ujian) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”

Setiap manusia pasti akan mendapatkan ujian. Sehingga ujian dalam proses berhijrah akan pasti akan dialami oleh setiap manusia. Godaan – godaan ketika berhijrah akan datang silih berganti untuk membuat keraguan dan keputus asaan dalam hati. Namun kuncinya yaitu bagaimana kita harus melawan dan meninggalkan sesuatu yang membuat kita akan terlena dengan godaan yang pada akhirnya akan menjatuhkan kita dalam suatu hal kerugian.

Memang semua yang terlihat dalam kasad mata itu memang indah, bahkan kita sering terbuai dengan keindah yang bersifat sementara. Keindahan yang sesungguhnya hanyalah keindahan yang pasti akan selalu abadi. Keindahan yang tidak akan ada di dunia ini tapi disyurga nanti. Mencium baunya syurga aja begitu sangat di nanti – nanti oleh kita semua yang berimam, apa lagi keindahan yang berada di dalamnya. Memang tidak mudah mendapatkannya, perlu berusaha dengan penuh rasa keiklasan kesabaran dan harus kuat dengan semua godaan di dunia yang sifatnya hanya sementara. Ada pepatah bilang “berakit rakit kehulu berenang renang ketepian,bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian”.

Sehingga jangan putus asa dan jangan ragu dalam proses berhijrah. Kuat dan teguhkan hati untuk memulai berhijrah sebelum sisa umur kita berakhir, karena waktu yang telah berlalu tidak dapat kita ulang kembali.

Comments

comments