Antara Pendidikan Akademik dan Vokasi

Ilustrasi. (Istimewa)

DEPOK – Pendidikan dijadikan sebagai kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Salah satunya adalah pendidikan tinggi dengan peserta didik yang disebut mahasiswa. Di Indonesia pendidikan tinggi dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu pendidikan akademik dan vokasi. Pendidikan akademik lebih mengedepankan penguasaan ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa sedangkan pendidikan vokasi lebih mempersiapkan mahasiswa untuk mengaplikasikan keahlian yang dipelajari. Setiap pendidikan tinggi baik akademik maupun vokasi memiliki bentuk, status dan program pendidikan yang berbeda.

Seperti halnya Universitas Indonesia dengan Politeknik Negeri Jakarta walaupun di wilayah yang sama yaitu Depok, Jawa Barat dan memiliki almamater yang sama berwarna kuning namun kedua pendidikan tinggi tersebut berbeda. Sistem pembelajaran yang digunakan berbeda.

“Disini sebagian besar fakultas menggunakan sistem student center jadi mahasiswa yang dipacu untuk lebih aktif dalam pembelajaran dengan problem based learning atau mempelajari suatu masalah. Dosen hanya sebagai fasilitator dalam membina mahasiswa,” ujar Drs. Ferry Rustam, M.Si staff dosen Universitas Indonesia.

Ia berpendapat bahwa sistem yang diterapkan tersebut sudah efektif karena dapat membuka wawasan yang lebih luas untuk mahasiswa. Nisyia Ferlia Khairiyah, mahasiswa kedokteran gigi Universitas Indonesia berpendapat, sistem student center saat menjadi mahasiswa baru cukup merasa kesulitan namun dengan berjalannya waktu dan sudah sering latihan maka sistem tersebut efektif karena dapat menambah wawasan. Selain itu ia juga mengatakan bahwa keaktifan mahasiswa dituntut dalam sistem pembelajaran ini karena semakin aktif mahasiswa maka nilai akan semakin baik.

Jika Universitas identik dengan teori, maka politeknik identik dengan praktik. Andriyanto, M.Kom selaku staff dosen Politeknik Negeri Jakarta berkata, politeknik berbasis praktik, hanya 40% teori. Teori tidak diajar terpisah tetapi langsung pada saat praktik.

“Sistem ini sudah sangat efektif, karena mahasiswa bias langsung menangkap maksud dari materi yang disampaikan,” ucapnya.

Sementara Muhammad Rifky mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta juga berpendapat bahwa sistem pembelajaran di kampus berbasis praktik. Nilai yang diperoleh tergantung kemampuan dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

“Hal ini sudah sangat efektif, karena membuat mahasiswa tidak bosan jika hanya mendengarkan dosen bicara tapi gak paham materinya, namun lebih baik jika fasilitas yang disediakan juga memadai agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar,” ucap Rifky.

Penulis: Nada Saffana, mahasiswa Politeknk Negeri Jakarta.

Comments

comments