Minat Pada Literasi Semakin Menurun?

“Orang boleh Setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia kana hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja dalam keabadian”
~Pramoedya Ananta Toer

Literasi menurut KBBI, kemampuan menulis dan membaca. Dunia tulis-menulis sudah dimulai sejak dahulu, di mulai dari zaman sejarah manusia saat itu, mulai menulis di atas batu, dinding dll. Pada perkembangannya, dunia literasi terus menuju kemajuan.

Di zaman kejayaan Islam, literasi pada saat itu berada pada puncaknya. Di mana zaman itu, banyak dituliskan hadist dari nabi Muhammad saw lalu estafet kemajuan ini terus dilanjutkan hingga zaman Turki Utsmani. Banyak ulama di zaman ini, menulis kan kitab yang kitab itu masih dipelajari dan sebagai rujukan hingga saat ini.

Namun pada akhir-akhir ini isu literasi di Indonesia dinilai sangat memprihatinkan, di mana menurut data pada tahun 2012 dari Progamme for international assessment (PISA) Indonesia menduduki peringkat 64 dari 65 negara, yang artinya setiap 1.000 penduduk Indonesia hanya 1 orang yang memiliki minat baca. Lalu pada tahun 2015 tingkat literasi Indonesia peringkat 69 dari 79 negara.

Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat literasi di Indonesia, yang mungkin salah satunya adalah kebiasaan orang Indonesia lebih suka berturtur daripada menulis.

Tentunya, literasi memiliki banyak manfaat yang mana selain dapat meningkatkan kecerdasan, literasi juga dapat menghalau kawula muda untuk tidak berbuat yang semena-mena. Karena dengan literasi kita dituntut untuk bersabar menikmati buku yang kita baca dan perlu keharmonisan dengan fikiran agar dapat memahami buku tersebut. Dengan fikiran juga, dapat meningkatkan tingkat kritis kita.

Dengan hal ini, Literasi bak sebuah lilin yang dapat mencerahkan kawula dan dapat menghalaunya dari hal tindakan yang tak sesuai dengan norma sosial maupun norma agamanya.

Ditulis oleh Ismail Abdurrahman, Mahasiswa STEI SEBI.

Comments

comments