Hijrah: Think Less, Do More

(Istimewa)

Berbicara tentang hijrah berarti kita berbicara tentang kehidupan sehari-hari. Kenapa bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari? Karena hijrah berhubungan dengan apa yang kita lakukan dari mulai bangun tidur hingga ingin tidur lagi. Dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Dari kita mengawali pagi hari dengan senyuman hingga mengakhiri hari dengan pengalaman. Pengalaman disini tertuju pada bahwa apa saja yang sudah kita lakukan dalam seharian penuh. Apakah pengalaman tersebut menjadi pengalaman yang baru dan bermanfaat atau malah monoton alias begitu-begitu saja.

Apa sih sebenarnya hijrah itu? Hijrah adalah berpindah ke suatu tempat yang lebih baik. Meninggalkan perkara yang buruk dan menggantinya dengan yang lebih baik. Pada zaman now banyak sekali orang-orang yang ingin hijrah sesuai dengan niatnya masing-masing. Rasulullah SAW bersabda : “…Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan)Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Hijrah sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. beserta sahabat-sahabatnya. Mereka hijrah dari satu tempat ke tempat lain yang mana tempat tersebut dapat membawa mereka kepada kebaikan. Hijrah pada zaman jahiliyah bukanlah hal yang mudah. Karena mereka begitu banyak mendapat ujian yang berat dimana ujian tersebut tidak dapat kita hadapi di zaman sekarang ini. Mereka begitu diperangi oleh kaum Yahudi agar hijrah mereka gagal. Namun Qadarullah, mereka yang imannya sungguh luar biasa mampu melewati ujian yang begitu berat. Mengapa mereka bisa menghadapi kaum Yahudi hingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan? Karena mereka melakukan hijrah semata-mata hanya untuk Allah. Untuk beribadah kepadaNya. Mereka begitu tak gentar melawan kaum Yahudi karena mereka begitu percaya dan pasrah atas apa yang telah ditakdirkanNya.

BACA JUGA:  Korelasi Akal dan Hati

Jika kita berniat hijrah semata-mata karena Allah dan Rasul-Nya maka itu bernilai ibadah dan dunia pun kita daptkan. Inti hijrah kepada Allah ialah dengan meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Hijrah ini meliputi ‘dari’ dan ‘menuju’. Dari kecintaan kepada selain Allah menuju kecintaan kepada-Nya, dari peribadahan kepada selain-Nya menuju peribadahan kepada-Nya, dari takut kepada selain Allah menuju takut kepada-Nya. Dari berharap kepada selain Allah menuju berharap kepada-Nya. Dari tawakal kepada selain Allah menuju tawakal kepada-Nya. Dari berdoa kepada selain Allah menuju berdoa kepada-Nya. Dari tunduk kepada selain Allah menuju tunduk kepada-Nya.

BACA JUGA:  Korelasi Akal dan Hati

Banyak sekali diantara kita berfikir bahwa hijrah hanya merubah penampilan saja. Sementara akhlak tidak kita rubah. Padahal yang perlu kita rubah ialah akhlak yang sesuai dengan syariat Islam. Bukan sekedar merubah penampilan yang serba lebar sementara akhlak kita stuck sampai disini saja. Dan banyak pula orang yang ragu jika ingin hijrah. Ragu karena tidak bisa istiqomah salah satunya. Karena orang tersebut sudah ter-mindset duluan bahwa “ah hijrahnya nanti saja. Kalau imannya tidak naik turun”. “Ah penampilanku saja yang berubah. Akhlak mah belakangan. Takut gabisa istiqomah”. Padahal jika orang tersebut tidak berfikiran seperti itu maka kita bisa meninggalkan kebiasaan buruk yang ada dalam diri kita. Jilbab yang lebar belum tentu memiliki akhlak yang baik, namun akhlak yang baik, yang mengerti perintah Allah sudah pasti berhijab. Akan ada masanya iman kita sedang naik, maka pertahankanlah. Dan ada masanya iman kita turun, maka beristighfarlah dan ingatlah bahwa siksaan api neraka lebih panas dari panasnya hidup di dunia.

BACA JUGA:  Korelasi Akal dan Hati

Ketika kita percaya bahwa kita bisa hijrah, bisa meninggalkan perkara-perkara buruk maka yakin juga lah bahwa kita bisa istiqomah. Allah tidak melihat hasilnya melainkan prosesnya. Allah tidak memandang kita seperti apa kelamnya kita dahulu, seperti apa bodohnya kita dahulu, seperti apa buruknya perilaku kita dahulu. Allah memandang kita apakah kita mau merubah segala hal yang buruk yang ada dalam diri kita atau tidak. Allah berkata “Aku tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan ia sendiri yang merubahnya”. So, what are you waiting for? Think less Do more.

“Ketika engkau sudah berada di jalan yang benar menuju Allah, maka berlarilah. Jika sulit bagimu, maka berlari kecillah. Jika kamu lelah, berjalanlah. Jika itupun tidak mampu, merangkaklah. Namun, jangan pernah berbalik arah atau berhenti.”-Imam Syafi’i. (Sabrina Jamilah)

Comments

comments