Gay Depok Penyumbang Terbanyak HIV/Aids

DEPOK – Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang kini masih jadi polemik terkait tak bisa dikriminalkan, justru menjadi mendominasi penyakit mematikan di Kota Depok.

Tercatat, sepanjang 2017, khususnya gay penyumbang terbanyak penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS).

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Depok, Ahmad Kafrawi mengungkapkan, berdasarkan data yang berhasil dihimpun dari berbagai pegiat peduli HIV/AIDS di Kota Depok, ada sekitar 500 lebih penderita HIV /AIDS hingga Desember 2017.

“500 itu dari berbagai komunitas yang ada di Kota Depok dan saat ini mereka masih terus diobati,” kata Kafrawi, Kamis (28/12/2017).

Penyebabnya cukup mencengangkan. Lebih dari 50 persennya dihasilkan karena hubungan terlarang yang dilakukan oleh pelaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Kota Depok.

Hal tersebut dibuktikan berdasarkan data yang berhasil dihimpun oleh Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Sekar Wangi Kota Depok.

Ketua LK3 Sekar Wangi Kota Depok, Wulandari Eka Sari mengatakan, dari hasil investigasi yang dilakukan olehnya, dari 222 penderita HIV/AIDS data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dari Januari-Maret 2017, 140 diantaranya merupakan pelaku LSL (lelaki seks lelaki) alias gay.

“Itu data dari Januari hingga maret 2017, masih berpotensi akan bertambah. Sebab hingga Desember 2017 belum dilakukan lagi pendataan. “ ujarnya saat acara pelatihan pendampingan ODHA di Aula Perpustakaan Kota Depok, Rabu (27/12).

Dijelaskan Eka, fakta tersebut perlu diperhatikan secara khusus oleh pemerintah dan juga masyarakat. Pasalnya, fenomena LGBT dan HIV/AIDS di Kota Depok layaknya gunung es yang terlihat permukannya saja, sedangkan didalamnya tidak terlihat.

“Kasus perzinahan, pelacuran dan penyimpangan seksual merupakan bagian dari permasalahan dibalik puncak gunung es, namun dari kumpulan masalah tersebut, esensi besarnya terletak pada semakin tergerusnya nilai,” kata Eka.

Hal tersebut, lanjut Eka, berbanding terbalik dengan Visi kota Depok yakni Unggul, Nyaman dan Religius. “Kami siap menjadi mitra pemerintah kota, jika pemkot serius menangani persoalan ini,” pungkas Eka.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi D, Sahat Farida Berlian mengaku, ini menjadi perhatian khusus buat Pemkot Depok. Berakhirnya bantuan anggaran dari Global Fund terkait penanggulangan HIV/AIDS di kota Depok, perlu menjadi fokus perhatian kerja dan anggaran berdasarkan APBD.

“Pemkot Depok harus serius menanggulangi HIV/AIDS bisa dibangun di RSUD rehab di gedung baru,” singkat dia.

Comments

comments