Belajar Jujur dari Hal Terkecil, Harus Dipaksakan!

(Istimewa)

Kejujuran merupakan suatu hal yang mudah di ucap namun susah di terapkan. Setiap hari setiap hal yang kita lakukan, setiap tanggung jawab yang kita pikul, semuanya di tuntut untuk berbuat jujur. Seorang karyawan harus jujur pada atasanya agar terciptanya suatu kondisi yang baik. Begitupun sebaliknya, seorang atasan harus jujur juga terhadap karyawanya agar terciptanya keseimbangan dalam lingkungan kerja.

Sebagai contoh andai karyawan yang tidak bisa dipercaya, ketika tidak ada kontroling dari atasan, dia akan berbuat seenaknya entah dengan cara dari sisi ketidak siplinan dalam hal pekerjaaan atau bahkan mengambil barang-barang yang dimiliki perusahaan tanpa sepengetahuan siapapun. Jika kinerja seorang karyawan yang seperti ini terus menerus dipertahankan, lambat laun perusahaan lah yang paling akan di rugikan.

Namun bagaimana jika seorang atasan yang tidak memiliki etos kerja yang baik yaitu kejujuran? Semisal ketika pemerintah sudah menaikkan standart gaji untuk karyawan, dan perusahaan tersebut mampu untuk melakukanya namun atasan atau boss menyembunyikannya dari karyawan agar beban gaji tetap kecil sehingga perusahaan mampu meraup untung yang sebesar-besarnya. Maka jika model tersebut di pertahankan, karyawan akan terdzolimi dan biasanya karyawan akan melakukan protes. Padahal dalam ajaran islam, kita dilarang untuk saling merugikan orang lain demi terwujudnya “maslahah mursalah” yaitu tercapainya kemaslahatan.

Dalam al-Qur’an disebutkan,
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.”(At-taubah:119)

Rasulullah juga berkata dalam haditsnya,
“wajib bagi kalian untuk jujur, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing ke surga. Terus menerus seorang hamba berlaku jujur dan membiasakan sifat ini hingga tercatat di sisi Allah sebagai seorang yang shiddiq (jujur)……..(HR. Al Bukhori)

Arti jujur sendiri dalam bahasa arabnya sama maknanya dengan As-Shidqu yang berarti nyata, benar atau berkata benar. Secara istilah yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, kesesuaian antara informasi dan kenyataan, ketegasan dan kemantapan hati, dan sesuatu yang baik yang tidak dicampuri dengan kedustaan.

Agar terbiasa dengan kejujuran, kita harus belajar memulai dari diri kita sendiri, dari hal sekecil apapun. Semisal jika kita seorang siswa atau mahasiswa, kita harus menerapkan sifat tersebut sesuai dengan koridornya. ketika berlangsungnya ujian dan dituntut untuk menerapkan kejujuran, kita harus mampu melakukan itu. Memang meskipun dalam kenyataannya praktek tidak semudah teori tetapi kita harus belajar memaksakannya agar bisa dan terbiasa berbuat jujur ketika berada di manapun dan kapanpun.

Terbiasa jujur karena di paksa berlatih jujur, bukan di paksa jujur karena terbiasa tidak jujur. Bahkan sekalipun jika jujur bisa membuat kita rugi kita harus tetap mempertahankanya. Jika seorang siswa saja berani tidak jujur hanya karena hawatir nilainya jelek dan tergoda untuk melakukan kecurangan, bagaimana mungkin bisa mengemban amanah ketika suatu saat nanti di percaya rakyat untuk menjadi pemimpinya?

Di negara kita ini untuk mencari orang pintar tidak sulit, setiap tahun Indonesia mampu mencetak sarjana rata-rata hingga 250.000 orang (17/12/17 ilmugeografi.com). dari banyaknya orang-orang pintar tersebut, yang mempunya sifat jujur hanyalah sebagian saja. Tak heran jika terkadang publik diramaikan oleh kasus korupsi yang menjerat para pejabat yang konon katanya para intelektual tersebut.

Dalam kurun waktu 6 bulan saja sejak januari hingga juni 2017, Indonesia Corruption Watch (ICW) mencatat ada 226 kasus korupsi dengan jumlah tersangka 587 orang yang merugikan negara Rp 1,83 Triliun dengan nilai suap senilai Rp 118,1 Miliar (30/08/17 detiknews). Kira-kira seperti itu lah jika sebuah kejujuran tidak ada lagi pada diri seorang manusia. Semua yang di inginkan akan di lakukan meskipun tau itu salah.

Dalam melatih kejujuran, baru-baru ini ada yang unik di sebuah daerah di jawa timur, tepatnya di daerah kab. Nganjuk. Demi menuntut para siswanya untuk berbuat jujur, Nur Asyanto 57 Tahun seorang guru matematika yang mengajar di sekolah SMAN 1 Nganjuk membuat sesuatu yang berbeda ketika mengawasi ulangan siswanya.

Nur –sapaan akrab Nur Asyanto- mewajibkan para siswanya untuk memakai topi kejujuran berbahan kertas karton yang telah di buat oleh masing-masing siswa di rumah. Sekilas bentuknya mirip toa atau corong. Dengan bentuk seperti itu, pandangan mata siswa menjadi terbatas, terutama untuk melihat sisi kanan atau kiri. Nur mengakui cara tersebut berhasil, sehingga bisa di ketahui dari nilainya, mana yang benar-benar mampu mengerjakan dan mana yang tidak mampu mengerjakannya. Nilainya pun terlihat sangat jomplang, ada yang mendapat nilai 100 ada juga yang dapat nilai 0 (24/12/17 jawapos.com).

Jika sosok Nur mampu sukses mengajarkan kejujuran kepada para siswanya dengan ide topi tersebut, mungkinkah topi tersebut juga relevan jika di terapkan kepada para Mahasiswa di kampus-kampus?, atau bahkan di terapkan kepada para pejabat di pemerintahan? Yah minimal supaya para pejabat itu pandangan matanya terbatas dan tidak dapat melirik uang rakyat yang ada di kanan kiri mereka begitu.

Penulis : Hurie (Mahasiswa STEI SEBI)

Comments

comments