UNHCR Khawatirkan Kondisi Yaman yang Makin Memburuk

Harga komoditas esensial telah meroket sejak perbatasan darat, laut dan udara ditutup pekan lalu.

Seorang staf UNHCR membantu pengungsi Yaman di luar Pusat Komunitas IDP di Sana’a. (Foto: © UNHCR/Shabia Mantoo)

GENEWA – UNHCR khawatir dengan kondisi di Yaman yang memburuk sejak perbatasannya ditutup pekan lalu, dengan menahan pasokan kemanusiaan dan komersial dan membatasi pergerakan pekerja bantuan, kata Badan Pengungsi PBB, Selasa.

Penutupan sementara perbatasan darat, laut dan udara menempatkan ketegangan ekonomi baru pada populasi masyarakat yang sudah menderita setelah berbulan-bulan konflik, juru bicara UNHCR William Spindler mengatakan pada sebuah berita di Palais des Nations.

“Dengan arus lalu lintas komersial yang terhambat, harga untuk komoditas penting termasuk makanan, air truk, gas rumah tangga dan bahan bakar semuanya meroket,” katanya.
Di ibukota Sana’a, harga bahan bakar dilaporkan meningkat 60 persen dan air yang dikirim dengan truk sebesar 133 persen.

“Akibatnya, staf kami dan mitra kami melihat peningkatan jumlah warga sipil yang mencari bantuan kemanusiaan,” kata Spindler. “Populasi rentan termasuk pengungsi internal, pengungsi dan pencari suaka sangat terpukul.”

Di pusat dukungan UNHCR di Sana’a untuk pengungsi internal, yang dijalankan oleh organisasi mitra ADRA, antara 600 sampai 800 orang tiba setiap hari, dibandingkan dengan 400 sampai 600 sebelum penutupan perbatasan.

Di Aden, di mana ada kekurangan bahan bakar dan gas yang sudah ada sebelum penutupan perbatasan, orang-orang yang mengungsi melaporkan bahwa harga pangan telah meningkat hampir dua kali lipat, kata Spindler.

Yaman mencari bantuan dari pusat komunitas yang didukung UNHCR untuk pengungsi internal di Sana’a. (Foto: © UNHCR / Shabia Mantoo)

Konflik Yaman, yang dimulai pada bulan Maret 2015, telah menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia, yang mempengaruhi 21 juta orang. Dua juta pengungsi internal, satu juta orang yang kembali dan 280.000 pengungsi dan pencari suaka sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Spindler mengatakan bahwa persediaan baru bantuan darurat UNHCR yang ditujukan untuk 280.000 pengungsi internal telah dihentikan. Staf UNHCR juga terkena dampaknya, dengan beberapa terdampar di luar negeri dan yang lainnya tanpa bahan bakar untuk transportasi.

Di Sana’a, ibu tunggal Nooria Mohammed, yang melarikan diri ke Sana’a dari garis depan gubernur Taizz di pantai Laut Merah lebih dari setahun yang lalu, mengatakan kepada UNHCR di sebuah pusat bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal: “Dengan blokade tersebut, biaya hidup sekarang menjadi lebih mahal.

“Bahkan tuan tanah kami ingin meningkatkan uang sewa kami dan dia telah memotong pasokan air kami dengan mengatakan bahwa harganya terlalu mahal sekarang.”

Nooria, yang bercerai, datang ke pusat dukungan UNHCR untuk mencari bantuan karena dia tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sumber : www.unhcr.org
Penterjemah : Estri Setiyorini

Comments

comments