Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

wanita
Ilustrasi. (Istimewa)

Tanggung jawab seorang perempuan jauh lebih besar daripada seorang laki-laki, karena tanggung jawab seorang muslimah dibagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum menikah dan tanggung jawab seorang muslimah setelah menikah

Setiap orang yang terlahir didunia pasti diberikan hak dan tanggung jawab agar hidupnya menjadi lebih teratur dan bermakna. Seseorang tidak boleh menuntut hak tetapi ia tidak menjalankan tanggung jawabnya, karena hak dapat diperoleh ketika kita telah menjalankan tanggung jawab. Secara umum tanggung jawab setiap orang adalah sama, baik laki-laki maupun perempuan. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu mmasuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. (QS An-Nisa : 124)

Dari ayat tersebut secara umum dapat kita lihat bahwa tanggung jawab seorang muslim dan muslimah adalah sama, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalankan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi. Karena setiap manusia yang terlahir dimuka bumi adalah pemimpin, minimal pemimpin untuk diri sendiri dan pasti akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat nanti.

Banyak orang yang mengatakan bahwa tanggung jawab seorang laki-laki lebih besar daripada perempuan. Padahal jika dirinci tanggung jawab seorang perempuan jauh lebih besar daripada seorang laki-laki, karena tanggung jawab seorang muslimah dibagi menjadi dua periode yaitu periode sebelum menikah dan tanggung jawab seorang muslimah setelah menikah dan ada tanggung jawab sebelum menikah yang tidak terputus walau sudah menikah. Pada kesempatan kali ini penulis akan memaparkan tanggung jawab muslimah periode sebelum menikah.

Pertama, menunaikan hak orangtuanya atau birrul walidain. Allah SWT memberikan kedudukan tinggi bagi orang-orang yang memuliakan orangtuanya. Allah SWT berfirman :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamum miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS An-Nisa : 36)

Allah menempatkan berbakti kepada kedua orangtua setelah perintah menyembah dan tidak mempersekutukan-Nya, ini menunjukan bahwa berbuat baik kepada kedua orangtua adalah amalan yang mulia disisi Allah. Jadi sudah seharusnya sebagai wanita muslimah merasa bahwa birrul walidain adalah perintah dari Allah dan tidak akan terputus meskipun setelah menikah. Karena seorang muslimah nantinya akan menjadi seorang ibu dan merasakan ketika mempunyai anak yang berbakti pula.

Dalam hadist Rasulullah menempatkan birrul walidain diantara dua amalan terbesar dalam islam yaitu sholat tepat waktu dan jihad dijalan Allah. Juga dalam satu kisah yang diriwayatkan oleh Mutafaqun Alaih yaitu pernah datang sseorang laki-laki kepada Rasulullah SAW yang membaiatnya unntuk hijrah dan jihad dijalan Allah. Rasulullah SAW tidak langsung menerimanya tetapi bertanya dulu apakah salah satu diantara kedua orangtuanya masih hidup, orang itu menjawab bahkan keduanya masih hidup. Rasulullah bertanya lagi bukankah engkau ingin mendapatkan pahala dari Allah, kemudian oranng itu menjawab ya benar. Rasulullah bersabda “Kembalilah kepada kedua orangtuamu dan pergaulilah keduanya dengan baik”. Karena diketahui bahwa orangtua pemuda tersebut sedang sakit parah dan Rasululullah lebih memerintahkannya untuk berbuat baik kepada kedua orangtuanya meskipun saat itu Rasulullah sedang membutuhkan pasukan yang banyak untuk berjuang dimedan perang.

Berbeda dengan hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yaitu ada seorang laki-laki datang dan meminta izin kepada Rasulullah untuk berjihad. Beliau bertanya apakah kedua orangtuanya masih hidup, orang itu menjawab masih. Rasullullah bersabda demi keduanya berangkatlah berjihad. Karena orangtua pemuda tersebut dalam keadaan sehat dan Rasulullah berkata ketika kamu berjihad maka itu akan menjadi wasilah dan sumbangan pahala bagi orangtuamu.

Berbuat baik kepada kedua orangtua juga harus tetap dilakukan meskipun keduanya bukanlah seorang muslim. Seperti yang dikisah kan Asma binti Abu Bakar RA, ibuku pernah mendatangiku sedangkan ia adalah seorang musyrik pada masa Rasulullah SAW. Aku meminta petunjuk kepada Rasulullah SAW ibuku telah datang kepadaku dan penuh pengharapan kepadaku. Apakah aku harus menyambung hubungan dengan ibuku itu ? kemudian Rasulullah menjawab benar, sambunglah hubungan dengan ibumu. Ini menunjukan tingginya kedudukan birrul walidain bahkan ketika orangtua kita bukan seorang muslim selama kita tidak diminta untuk mempersekutukan Allah dan melakukan maksiat.

Kewajiban wantia muslimah yang kedua adalah menghormati karib dan kerabat. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36 “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat”. Menghormati karib dan kerabat juga bentuk tanggung jawab kepada kedua orangtua karena memelihara hubungan kekeluargaan adalah salah satu amalan yang disukai Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

“Wahai manusia ! Bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri) nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu”. (QS. An-Nisa : 1)

Kewajiban selanjutnya adalah mendoakan kedua orangtua. Mendoakan orangtua tidak hanya untuk kesehatannya saja, tetapi juga meminta pengampunan atas dosa-dosanya karena tidak bisa dipungkiri bahwa orangtua kita pun pernah melakukan sebuah kesalahan. Mendoakan orangtua merupakan bentuk hubungan ruhiyah antara anak dan orangtua dengan nama Allah. Bagi muslimah hal itu sangat penting karena akan menghadapi tahap kehidupan sebagi seorang ibu sehingga ia akan menghayati betapa berartinya doa dari seorang anak.

Keempat adalah menunaikan janji keduanya (orangtua). Muslimah hendaknya menunaikan janji orangtuanya ketika orangtuanya sudah meninggal, misalnya orangtua kita mempunyai hutang puasa maka kewajiban kita adalah menggantikan puasanya. Jangan sampai janji atau hutang yang belum sempat ditepati orangtua kita didunia akan memberatkannya diakhirat nanti, tugas kita sebagai anak adalah meringankan beban-beban orangtua.

Demikianlah taggung jawab seorang wanita muslimah sebelum ia menikah, sebenarnya masih banyak lagi kewajiban-kewajiban lain seperti berdakwah, dsb. Semoga kita semua menjadi manusia yang senantiasa menjalankan tanggung jawab dengan sebenar-benarnya. (Haryati)

Comments

comments