Pengungsian Anak Rohingya: Tanggap Darurat UNICEF di Bangladesh

Pada tanggal 5 September 2017 di Bangladesh, Mohammed Yasin, 8, adalah pengungsi Rohingya yang baru tiba yang tinggal di tempat penampungan di sebuah kamp darurat di Cox’s Bazar. (Foto: © UNICEF / UN0135698 / Brown)

Dalam enam minggu yang lalu sejak kejadian di negara bagian Rakhine, Myanmar, pada 25 Agustus 2017, lebih dari setengah juta orang – hampir setara dengan populasi Den Haag atau Manchester – telah melintasi perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh.

Sebelumnya, mereka telah bergabung dengan penduduk Rohingya lainnya yang lebih dari 200.000 orang yang pernah masuk lintas batas antar dua negara tersebut.

Hampir 60% pengungsi adalah anak-anak. Banyak yang telah berpisah dari keluarga mereka atau melarikan diri dari keluarga mereka sendiri. Semua mengalami kerugian yang luar biasa.

Saat kekerasan berlanjut di Myanmar, jumlah dan kebutuhan mereka tumbuh. Resiko krisis kemanusiaan ini berubah menjadi malapetaka manusia yang sangat nyata.

UNICEF bekerja sama dengan pihak berwenang dan mitra Bangladesh untuk membantu memenuhi kebutuhan pengungsi Rohingya.

Pada tanggal 6 September 2017, pengungsi Rohingya yang baru tiba dari Myanmar menyusuri sawah dan membanjiri tanah setelah mereka melewati perbatasan ke Cox’s Bazar, Bangladesh. (Foto: © UNICEF / UN0119956 / Brown)

Akan tetapi, besarnya tantangan itu menakutkan. Inilah krisis kemanusiaan yang paling cepat berkembang di dunia saat ini – dan dunia harus meresponnya.

”Krisis ini membuat anak-anak kehilangan masa kecil mereka,” ujar Direktur Eksekutif UNICEF Antonie Lake. “Kita tidak boleh membiarkannya kehilangan masa depan mereka pada saat bersamaan.”

Permintaan: Dana yang dibutuhkan mendesak

Pada tanggal 02 Oktober 2017, UNICEF meluncurkan seruan dana $ 76,1 juta untuk tanggap darurat kemanusiaan terhadap krisis pengungsi Rohingya di Bangladesh Selatan.

Seruan tersebut mencakup kebutuhan yang mendesak bagi anak-anak Rohingya yang baru tiba dan juga mereka yang telah tiba sebelum masuknya arus baru-baru ini, dan anak-anak dari komunitas yang sudah mengungsi terlebih dahulu – 720.000 anak-anak. Sampai saat ini, perbandingannya hanya 7% yang telah didanai.

Di Myanmar, UNICEF sangat membutuhkan tambahan dana US $ 13 juta untuk menutup kesenjangan pendanaan penting yang berdampak pada kemampuan organisasi tersebut untuk menjangkau pengungsi Rohingya yang rentan dan anak-anak pengungsi lainnya.

Tanggapannya

“Kondisi yang mengerikan yang dihadapi anak-anak di sini jelas terlihat. Tinggal di tempat terbuka, dengan makanan, air bersih dan sanitasi yang sangat kekurangan pasokan, resiko penyakit yang ditularkan melalui air dan penyakit lainnya tidak mungkin diabaikan.” Perwakilan UNICEF Bangladesh, Edouard Beigbeder.

Perlindungan

Perempuan dan anak-anak yang melarikan diri dari Negara Rakhine Myanmar ke Bangladesh telah melaporkan mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan yang brutal – laporan yang mengarah pada pelanggaran berat Hak Asasi Manusia (HAM).

Dan ancaman bagi kehidupan anak muda tidak akan berakhir pada saat mereka melintasi perbatasan. Bahaya lain mengintai dalam pengaturan kamp yang kacau, termasuk pelaku perdagangan manusia dan orang lain yang ingin mengeksploitasi dan menyiksa kaum muda dan rentan terhadap kekerasan.

Child Friendly Spaces yang didukung UNICEF menyediakan lingkungan bagi pengungsi yang melindungi anak-anak yang rentan terhadap kekerasan, penganiayaan dan eksploitasi. Ini juga melindungi mereka dari kekacauan dan memberi mereka kesempatan untuk bermain, belajar dan menjadi anak-anak. Sembilan puluh tujuh ruang statis dan mobile sejauh ini telah dibangun dan lebih dari 300 kelompok remaja di kedua kamp dan komunitas tuan rumah melakukan fungsi serupa.

Prioritas tertinggi adalah 882 anak yang tidak didampingi dan dipisahkan yang sejauh ini telah diidentifikasi. Pekerja sosial yang terlatih mengelola kasus ini, dan memberi mereka perawatan berbasis masyarakat sementara keluarga mereka dilacak.

Seorang ibu berusia 20 tahun dan bayinya yang berumur 10 hari. Dia melarikan diri dari Myanmar dengan sebuah rakit darurat yang terbuat dari bambu dan jerigen. “Saya lari dari desaku sebulan yang lalu setelah suami saya terbunuh,” katanya. “Saya melahirkan bayi saya di tepi sungai di Myanmar.” (Foto: © UNICEF Bangladesh / 2017)

Membawakan air bersih dan higiene

Dari sumur pengeboran hingga air truk, UNICEF dan mitra kerja telah menyediakan lebih dari 100.000 orang yang memiliki akses terhadap air minum yang aman.

Dan tantangan di depan sangat luas: Untuk memenuhi standar kemanusiaan minimum internasional, dibutuhkan sembilan juta liter air minum setiap hari untuk memenuhi persyaratan dasar masyarakat Rohingya dan masyarakat tuan rumah yang terkena dampak. Itu sudah cukup untuk mengisi empat kolam renang olimpiade.

Ribuan MCK darurat juga harus dipasang untuk melindungi populasi Rohingya dan host baik terhadap penyakit yang ditularkan melalui air seperti diare dan kolera, yang dapat terjadi saat kotoran mencemari sumber air.

Kit kebersihan dan kegiatan promosi kebersihan, bersama dengan item sederhana namun vital seperti jerigen, juga sangat dibutuhkan.

Berpegang pada garis penyakit

Kamp pengungsi yang padat, dengan hanya air bersih dan toilet yang terbatas, merupakan tempat berkembang biak yang jelas untuk infeksi yang ditularkan melalui air dan infeksi lainnya. Implikasinya bagi anak-anak sangat memprihatinkan.

“Apa yang membuat keadaan lebih buruk adalah bahwa sejauh yang kami ketahui, sedikitnya 3 persen anak-anak yang datang dari Myanmar diimunisasi dengan benar, baik terhadap penyakit campak, polio atau penyakit anak-anak utama lainnya,” kata Kepala Perawatan Kesehatan UNICEF Bangladesh Maya Vandenent.

Langkah pertama adalah imunisasi 250.000 anak-anak terhadap campak dan rubella. Anak-anak di bawah 5 mendapat obat tetes polio dan suplemen Vitamin A juga. Pengambilan vaksinasi ini diikuti oleh kampanye yang lebih besar untuk melindungi pengungsi dan masyarakat sekitar terhadap risiko kolera yang mencapai 565.000 pria, wanita dan anak-anak dalam tujuh hari pertama.

Pada tanggal 16 Oktober 2017, kelelahan, dehidrasi dan lapar, pengungsi Rohingya termasuk wanita dan anak-anak menyeberang ke Bangladesh dari Myanmar. (Foto: © UNICEF / UN0136204 / LeMoyne)

Memerangi malnutrisi

Karena pendatang baru berasal dari daerah-daerah di Myanmar dengan tingkat kekurangan gizi yang tinggi, beberapa telah diidentifikasi menderita gizi buruk akut – sebuah kondisi yang mengancam jiwa yang memerlukan penanganan segera. Sampai saat ini, UNICEF dan mitra telah merawat hampir 1.000 anak di bawah usia 5 tahun.

“Berdasarkan skrining yang telah kami lakukan, kami memperkirakan bahwa sebanyak 6 persen anak yang baru tiba adalah kasus [parah akut malnutrisi] di beberapa permukiman spontan,” kata Petugas Nutrisi UNICEF Monira Parveen. “Itu sangat mengkhawatirkan.”

Menjaga fokus pada pendidikan

Lebih dari 453.000 pengungsi dan masyarakat tuan rumah yang berusia 4-18 tahun sekarang membutuhkan tempat untuk belajar.

UNICEF berencana untuk menjangkau 150.000 anak-anak Rohingya dan 50.000 anak-anak masyarakat tuan rumah berusia 4-14 tahun, sementara sisanya akan didukung oleh mitra sektor lainnya.

“Sangat penting bahwa anak-anak ini, yang telah menderita begitu banyak dalam krisis ini, harus memiliki akses terhadap pendidikan di lingkungan yang aman dan baik,” ungkap Perwakilan UNICEF Bangladesh, Edouard Beigbeder. “Ini penting bukan hanya untuk memberi mereka kemampuan normal yang sangat dibutuhkan sekarang, tapi juga membuat masa depan untuk diharapkan.”

Di luar satu pusat pembelajaran, Laila Begum sedang menunggu untuk mengumpulkan dua anaknya. Dia dan suaminya – seorang nelayan – telah tinggal di Bangladesh selama 10 tahun. Mereka sekarang berbagi tempat penampungan bambu sederhana mereka dengan tujuh kerabat yang melarikan diri dari Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.

“Jika mereka belajar, mereka akan bisa menjalani hidup mereka dengan baik,” kata Begum. Suaminya, Noor Alam, mengangguk setuju. “Kemana pun kita pergi, anak-anak butuh pengetahuan,” katanya.

Sumber : www.unicef.com
Penterjemah : Estri Setiyorini

 

Comments

comments