Penerapan Smart Classroom dan Humanisme

Oleh: Faizin, Mahasiswa S-2 Uhamka Jakarta

Teknologi telah mengubah cara hidup manusia. Lalu, bagaimana dampakya terhadap dunia pendidikan? Nah, konsep pendidikan dengan Smart Classroom, bisa jadi alternatif dalam pembelajaran dengan dukungan teknologi. Jika bisa dikemas dengan baik, maka inilah keistimewaan era pendidikan di abad ke-21.

Perkawinan antara Pendidikan dan teknologi, tengah popular saat ini. Sebagai contoh, hampir setiap sekolah memiliki website sekolah sebagai ajang ‘kompetisi’ antarsekolah. Ketika masyarakat akan menyekolahkan putra-putrinya, hal pertama yang dilakukan adalah mencari informasi sekolah melalui internet terlebih dahulu tanpa harus ke sekolah langsung. Bahkan website sudah menjadi keharusan bagi sekolah.

Ada semacam pandangan bahwa sebuah lembaaga pendidikan akan terlihat prestise jika ber-website. Bahkan dan menjadi acara promosi bila sekolah tersebut sekolah swasta.Website dijadikan sebuah media pembelajaran. Semisal, guru memberikan tugas sekolah melalui website sekolah dan diharuskan mengirimkan jawaban melalui surat elektronik (email).

Namun, ahir-akhir ini ada fenomena yang lebih menarik untuk dibahas tidak sekedar website tapi penerapan smart classroom di dunia pendidikan. Smart Classroom, yang memadukan teknologi ini, memang menjadi keistimewaan bagi para pelajar di abad ke-21.

Apa itu smart classroom?

Smart classroom merupakan konsep yang memadukan teknologi digital dan pendidikan.Bisa juga disebut sebagai konsep pendidikan dengan metode digital. Siswa belajar memanfaatkan teknologi, device/tablet, di dalam kegiatan belajar mengajar.

Penerapan smart classroom diharapkan menjadi pendukung dalam meningkatkan daya serap pada proses KBM. Smart classroom menggunakan semua konten interaktif seperti video atau presentasi dan metode yang menarik secara visual dalam pengajaran. Ini menarik para siswa yang sudah susah payah dengan metode mengajar tradisional dalam kelas. Hal tersebut disebabkan karena indera penglihatan dan pendengaran mereka terlibat dan itu membantu mereka untuk mengingat informasi dengan lebih cepat dan efektif.

BACA JUGA:  Ust. Zaitun Rasmin Ajak Umat Islam Bela dan Lindungi Kota Suci Secara Adil dan Seimbang

Dengan Smart classroom ini siswa diberikan contoh-contoh nyata secara cepat dengan akses internet sesuai dengan materi pelajaran. Proses pembelajaran pada umumnya lebih mudah dilakukan jika melalui media audio visual. Bayangkan saja, betapa menguntungkannya bagi para siswa untuk memahami banyak materi dengan penuh penggambaran visual di kelas dibandingkan dengan membaca berhalaman-halaman buku teks.

Selain itu, dengan smart classroom rasa ingin tahu siswa akan hal-hal baru meningkat pesat. Juga, dapat mengembangkan proses berfikir kreatif siswa sehingga pemahaman pelajaran senantiasa lebih luas. Maka sisi baiknya dapat memberikan imbas percepatan proses berpikir siswa ke arah yang lebih dinamis. Secara tidak langsung kemandirian proses belajar tersebut akan didapatkan oleh siswa.

Jika, ditinjau dari manfaatnya, penerapan smart classroom sebenarnya tidak terbatas.Memang, mengadopsi konsep baru adalah keputusan yang sulit.Namun, teknologi ini dapat menciptakan sebuah terobosan pada dunia pendidikan. Jika tidak mencobanya, maka tidak akan tahu sejauh mana teknologi canggih dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar. Jadi, yang penting untuk saat ini adalah mencobanya.

Salah satu alasan dibalik naiknya popularitas smart classroom adalah fakta bahwa konsep belajar ini sangat cocok untuk semua jenis siswa. Penggunaan teknologi modern dapat memudahkan proses belajar. Sebuah kelas yang berisi siswa dengan berbagai berbedaan kemampuan pembelajaran dan pemahamanakan terbantu dengan baik. Selain itu, metode pembelajaran ini menumbuhkan lebih banyak interaksi antara siswa dengan guru.

Dengan software yang terdapat di smart classroom, guru dapat mengontrol apa yang sedang dikerjakan siswa di device-nya, dapat menampilkan layar guru di semua device siswa. Selain itu, dapat dilakukan tes atau ujian secara online. Apalagi dengan software yang ada akan mudah diterapkan di semua mata pelajaran.

BACA JUGA:  Pemkot Depok Siap Bantu Pembiayaan Siswa Miskin, Ini 4 Syarat yang Harus Dipenuhi

Guru yang profesional

Pengaplikasian smart classroom memungkinkan tejadinya proses pembelajaran yang dinamis, dimana kini tak ada lagi batasan waktu dan tempat dalam belajar. Interaksi antara guru dan siswa dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun. Adanya dukungan penyediaan aplikasi pembelajaran memungkinkan proses kegiatan belajar mengajar lebih variatif dan inovatif.

Hanya saja apakah para guru sudah memiki kemampuan seperti yang diharapkan dalam penerapan smart classroom? Ini pertanyaan yang membutuhkan jawaban secara detail.

Guru pada abad 21 dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Guru yang mampu menghadapi tantangan tersebut adalah guru yang profesional yang memiliki kualifikasi akademik dan memiliki kompetensi-kompetensi antara lain kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial yang berkualitas.

Guru profesional harus memiliki kemampuan sebagai pendidik, terlebih pula guru tersebut harus sesuai dengan lulusan pendidikannya yang linier dengan apa yang di ajarkannya, itu merupakan harga mati.Selanjutnya guru profesional juga harus memiliki tiga kemampuan dalam melaksanakan tugasnya yakni kecerdasan Intelektual, kecerdasan Emosional, dan kecerdasan Spiritual.

Sebagai modal utama guru mengajar ialah harus menguasai apa yang di ajarkannya, agar transfer ilmu pengetahuan dapat terlaksana dengan baik, antara apa yang disampaikan oleh guru dan penerimaan pemahaman pelajaran pada siswa.Pun, guru profesioanl harus berkecerdasan emosional, ini sebagai pengontrol psikis siswa, pengontrol rasa peserta didik.Tentu juga untuk mengontrol guru itu sendiri saat memberikan pengajaran.

Berkaitan dengan smart classroom, terdapat hasil penelitian menunjukkan , Earle (2002) beberapa hambatan terhadap integrasi teknologi di dalam kelas antara lain faktor ekstrinsik bagi guru seperti akses, waktu, dukungan, sumber daya, dan pelatihan. Sedangkan faktor kekuatan yang bersifat intrinsik seperti sikap, kepercayaan, praktik, dan resistensi.

BACA JUGA:  Ini yang Membedakan PPDB 2018 dengan Tahun Lalu

Merujuk hasi penelitian di atas, perlu adanya langkah yang komprehensif dari pemangku yang berkepentingan dalam pendidikan abad ke-21, khususnya profesionalisme guru. Guru yang melek teknologi dan mengaplikannya dalm proses belajar mengajar. Guru yang canggihdalam teknologi yang menghasilkan prestasi pembelajaran yang memuaskan.

Sentuhan Humanis

Beberapa unsur pengembangan prestasi siswa memerlukan teknologi. Siswa perlu kehadiran teknologi sebagai pendukung belajar mereka, proses kreatif akan timbul, kemampuan mengolah informasi lebih cepat. Tetapi, proses tersebut harus tetap di dampingi oleh seorang guru. Karena kita butuh akan pentingnya emosi, perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa dalam pemenuhan prestasi tersebut.

Sesuai dengan teori humanisme Maslow, yang lebih mengurusi sisi perkembangan kepribadian siswa. Pedidikan tidak hanya terfokus pada perkembangan intelegensi semata.Tetapi ada nilai humanis yang perlu ditumbuhkembangkan. Antara lain terdapat pengembangan emosi positif dalam domain afektif.

Teknologi bagi humanis ialah kawan tanpa ketergantungan. Siswa harus mampu memberi petunjuk kepada dirinya sendiri dalam belajar, sehingga mereka mengetahui apa yang dipelajarinya serta mengukur seberapa besar ia dapat memahaminya. Pembelajaran bernafas humanis ini melingkupi pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial.

Indikator dari keberhasilan aplikasi humanis yang harus berdampingan dengan teknologi yakni siswa merasa senang, bersemangat, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap. Diwarnai teknologi, siswa diharapkan dapat mengolah pribadinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan, norma, disiplin dan beretika.

Comments

comments