Mencari Nilai Ibadah Dalam Bekerja

Ilustrasi. (Istimewa)

Islam mencintai seorang muslim yang giat bekerja, mandiri, apalagi rajin memberi. Sebaliknya, Islam membenci manusia yang pemalas, suka berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam selain diperintahkan untuk beribadah kepada Allah juga diperintahkan untuk bekerja (berusaha).

Bekerja yang mempunyai nilai ibadah, tentunya dapat dilihat dari dampak kebaikan yang diperoleh. Kebaikan ini bisa berupa kepercayaan yang diberikan oleh perusahaan untuk memegang jabatan tinggi di perusahaan, penghasilan yang fantastis, berbagai fasilitas yang terkait dengan jabatan dan prestasi dan lain sebagainya.

Semuanya tidak dapat diperoleh tanpa kerja keras dan cerdas, rajin, jujur, disiplin, kreatif dan hal hal lain yang menjadi sunnatullah bagi kesuksesan karir seseorang serta tentu saja izin Allah yang harus dimohonkan dalam setiap doa.

Sebaliknya, apabila karier kita mandek, gaji bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, hutang menumpuk, ilmu dan keahlian tidak bertambah, kita patut curiga karena pekerjaan kita tidak mempunyai nilai ibadah. Di dunia saja tidak hanya membawa kebaikan, di akhiratpun belum tentu, bisa jadi kita rugi dunia akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ
“Maka carilah rizki disisi Allah.” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 17)

Islam mendorong umatnya untuk bekerja, hidup dalam kemuliaan dan tidak menjadi beban orang lain. Islam juga memberi kebebasan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan setiap orang. Namun demikian, Islam mengatur batasan-batasan, meletakkan prinsip-prinsip dan menetapkan nilai-nilai yang harus dijaga oleh seorang muslim, agar kemudian aktifitas bekerjanya benar-benar dipandang oleh Allah sebagai kegiatan ibadah yang memberi keuntungan berlipat di dunia dan akhirat. Berikut ini adalah batasan-batasan tersebut :

Pekerjaan yang dijalani harus halal dan baik

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al Baqarah [2]: 172)

Setiap muslim diperintahkan untuk makan yang halal-halal saja serta hanya memberi dari hasil usahanya yang halal, agar pekerjaan itu mendatangkan kemaslahatan dan bukan justru menimbulkan kerusakan. Itu semua tidak dapat diwujudkan kecuali jika pekerjaan yang dilakukannya termasuk kategori pekerjaan yang dihalalkan oleh Islam. Maka tidak boleh bagi seorang muslim bekerja dalam bidang-bidang yang dianggap oleh Islam sebagai kemaksiatan dan akan menimbulkan kerusakan.

Bekerja dengan profesional dan penuh tanggungjawab

Islam memerintahkan umatnya bukan hanya untuk sekadar bekerja, akan tetapi mendorong umatnya agar senantiasa bekerja dengan baik dan bertanggungjawab. Memiliki tanggungjawab atas pekerjaan tersebut, memperhatikan dengan baik urusannya dan berhati-hati untuk tidak melakukan kesalahan.

Ikhlas dalam bekerja

Niat sangat penting dalam bekerja. Jika ingin pekerjaan kita dinilai ibadah, maka niat ibadah itu harus hadir dalam sanubari kita. Segala lelah dan setiap tetesan keringat karena bekerja akan dipandang oleh Allah sebagai ketundukan dan amal shaleh disebabkan karena niat. Untuk itulah, jangan sampai kita melupakan niat tersebut saat kita bekerja, sehingga kita kehilangan pahala ibadah yang sangat besar dari pekerjaan yang kita jalani itu.

Tidak melalaikan kewajiban kepada Allah

Bekerja juga akan bernilai ibadah jika pekerjaan apa pun yang kita jalani tidak sampai melalaikan dan melupakan dari kewajiban-kewajiban kepada Allah. Sibuk bekerja tidak boleh sampai membuat kita meninggalkan kewajiban.

Tujuan bekerja adalah untuk mendapatkan rejeki dari Allah SWT yang bisa mencukupi kebutuhan keseharian dan bukan untuk mencari kekayaan. Mulai sekarang marilah kita bekerja dengan mencari nilai ibadah dalam setiap yang kita kerjakan. (Hana Nurul Jannah)

Comments

comments