Kisah Surau Kecil di Pengungsian Rohingya

Anak-anak pengungsi Rohingya. (Foto: ACT)
Anak-anak pengungsi Rohingya. (Foto: ACT)

Pengungsi Rohingya di Kamp Bulukhali, Bangladesh memiliki kisah yang menggugah hati. Anak-anak yang tinggal dipengungsiaan mempunyai kegiatan yang berbeda dari sebagian kehidupan anak-anak dibelahan bumi lain.

Dilansir laman lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), anak-anak disana harus berbagi tempat untuk tidur dengan pengungsi lainnya. Mereka yang menjadi korban krisis kemanusiaan dinegaranya tak lantas bersedih hati.

Sehari-hari meluangkan waktu untuk bermain dengan teman-teman sebaya mereka. Ada juga anak-anak yang berjalan kaki menuju surau untuk mengaji. Terlihat mereka memegang Al-Quran dan Buku Nurani, jika di Indonesia namanya Buku Iqra. Buku Nurani merupakan buku untuk mempelajari huruf-huruf hijaiyah bagi mereka yang pemula.

Surau yang tak tampak besar yang terbuat dari beratapkan terpal dan berdinding bambu. Anak-anak yang mengaji disurau kecil ini nampak ceria dan tidak mengeluh.

Setelah Salat Zuhur, anak-anak Rohingya mulai mengaji. Dengan jumlah puluhan anak dari pengungsi Rohingya tak lantas membuat surau ini sepi. Terdengar lantunan merdu yang keluar dari surau ini.

Anak-anak pengungsi Rohingya. (Foto: ACT)
Anak-anak pengungsi Rohingya. (Foto: ACT)

Mereka dibagi dalam kelompok yang sudah lancar baca Al-Quran dan kelompok yang masih belajar huruf hijaiyah. Begitu semangatnya mereka membaca Al-Quran dan Buku Nurani. Tidak ada hal yang berbeda cara mereka mengaji dengan surau-surau di Indonesia.

Setiap anak-anak mengulangi pengucapan mereka dalam mengeja huruf hijaiyah dengan suara yang syahdu. Dalam waktu yang tidak sebentar bahkan mereka melakukan pengulangan ejaan huruf hijaiyah ini dalam waktu sejam dan mengeluarkan suara dengan merdu.

Dengan semangatnya anak-anak Rohingya mengaji bisa menularkan virus postif untuk anak-anak dipenjuru dunia lain. (Estri Setiyorini)

Comments

comments