Dirut SEBI Bicara Seputar Ekonomi Syariah Indonesia

Dr. Oni Sahroni, MA selaku Direktur Sebi Islamic Business and Economic Research Center yang juga badan pengurus harian MUI saat memberikan orasi ilmiah.

“Semoga produk dan kebijakan yang kita fatwakan dapat diberkahi oleh Allah SWT”
– Dr. Oni Sahroni-

DEPOK – Sabtu (18/11) pukul 09.10 WIB setelah usai prosesi Wisuda STEI SEBI Angkatan XII tahun akademik 2017/2018 di SebiHall STEI SEBI. Acara yang telah menjadi rutinitas tahunan bagi kampus ini, berlangsung dengan khidmat dan haru. Dilanjutkan dengan adanya orasi ilmiah oleh Dr. Oni Sahroni, MA selaku Direktur Sebi Islamic Business and Economic Research Center yang juga badan pengurus harian MUI.

Terkait tema penting di dalam dunia bisnis dan perbankan syariah seputar ekonomi syariah di Indonesia. Oni mengatakan bahwa aspek syariah itu adalah perihal yang sangat penting dalam ekonomi syariah lebih khusus nya di Indonesia. Karena akan menentukan halal dan tidak nya, juga berkah dan tidak nya produk dan kebijakan ekonomi syariah.

“Jika di ilustrasikan secara sederhana, rumah syariah ini dibagi menjadi dua kelompok. Pertama kelompok prinsip dan kedua adalah kelompok fleksibel,” jelas beliau dalam orasinya.

Sementara didalam kelompok fleksibel, Oni menjelaskan dibagi menjadi 4 bagian, yakni iman, adab, keluarga, dan prinsip kehidupan. Keempat bagian ini adalah ushul yang tidak bisa dipisahkan.

“Dari kedua kelompok tersebut, bagian rumah fatwa yang akan saya jelaskan adalah terkait kelompok fleksibel. Didalam kelompok fleksibel, isi yang terkandung adalah seputar daftar pendapat ahli fiqih. Oleh karena itu biasanya otoritas fatwa memilih, mana pendapat fiqih yang lebih relevan dengan kondisi local dan kemanusiaan,” lanjutnya.

Lebih dalam lagi, Oni juga menjelaskan bahwa terdapat 3 madrasah di dalam fiqih ini. Tekstual, Mu’tazilah, dan Wasatiyah. Ketiga madrasah inilah yang biasa disebut dengan dapur fiqih. Apa fatwa yang dihasilkan, berdasarkan apa yang diracik di dapur nya.

“Di dalam madrasah wasatiyah ini terdapat 6 bagian, pertama fiqih waqih, yakni memahami produk yang akan difatwakan dengan tepat. Kedua, fiqih nusus, menafsirkan nash berdasarkan rumah fiqih, atau biasa kita sebut dengan ushul fiqih. Ketiga, fiqih maqhosid, target setiap penetuan hukum. Keempat, fiqih alawiyah, yakni fiqih prioritas, dimana memilih opsi yang terbaik dari yang paling baik. Kelima fiqih muwazanah, memilih opsi yang paling ringan dari yang paling ideal. Dan yang terakhir adalah fiqih tadarrus, memilih opsi yang memudahkan bagi masyarakat pada umum nya karena kebutuhan. Seperti wajib nya melaksanakan rakaat dalam shalat, namun ada nya rukshoh yang meringankan rakaat dalam sebuah perjalanan.”papar nya.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan plakat oleh Bapak Sigit Pramono, Ph.D.,C.P.A.,BKP selaku ketua STEI SEBI kepada pembicara dalam orasi ilmiah kali ini. (rah)

Comments

comments