Cermin Negeri Dalam Satu Perjalanan

Kisah ini merupakan catatan hati saya yang telah terpendam lama, dan kiranya dapat dijadikan sesuatu yang inspiratif bila disampaikan. Sebuah kejadian sederhana, bermula dari sebuah perjalanan pulang dari sekolah.

Kalau tak salah, saat itu matahari sedang terik-teriknya. Dan, hari itu saya kebobolan harus berjalan kaki sampai rumah. Harus melewati beberapa perumahan lagi! Sudah panas begini, tambah gosong pula kulit. Tapi, mau tak mau saya harus menerjang panas, sebab bagaimanapun juga, saya ingin sampai di rumah.

Di tengah jalan, tepat sebelum ada tanjakan, saya melihat seorang ibu berbaju lusuh dengan anak kecil yang juga berbaju agak lusuh, tapi kesannya agak dilusuh-lusuhkan saja. Namun, keduanya tidak mendapat perhatian lebih dari saya, sebab bagaimanapun tampilan seperti itu wajar ada di perumahan macam ini. Keduanya tak lebih dari sekedar ibu dan anak yang sedang jalan-jalan siang dan lebih suka pakai daster blesekan tapi enak dipakai… sampai saya agak dekat dengan mereka untuk sekedar mendengar percakapan itu.

“Nanti, kamu tengadahin tangan kamu…”
“Terus?” si Anak berpikir keras, tidak mengerti sedari tadi ibu itu bicara apa.
“Terus, nanti kamu tutup mata, biar Ibu yang nuntun”
“Maksudnya, Bu?”
“Yaudah, pokoknya kamu nggak usah ngapa-ngapain, cukup bilang, ‘Pak… minta Pak’ gitu aja, ya?”
Deg!

Rasanya itu, kalau mau tahu, seperti matahari panas mendekat sejengkal dengan ubun-ubun sehingga emosi makin meningkat. Sejenak saja hanya dapat berjalan membisu sambil menatap aspal, masih belum percaya apa yang baru saya dengar. Maksudnya, sungguhkah?

Di jaman modern ini?
Masih ada orang seperti itu?

Dan, Kawan, aku tidak mau beberkan padamu apa nama perumahan itu. Tapi, kalau kalian pernah mengunjungi, kujamin, itu bukan perumahannya orang miskin. Itu bukan perumahan dimana rumah susun yang biasa dibangun oleh pemerintah ada.

Perumahan itu, lumayan necis, meski tidak mewah-mewah amat, namun masih ada beberapa rumah mewah di dalamnya.

Jadilah sepanjang jalan itu diriku menggerutu sendiri.

Beberapa ratus meter kemudian masuk lah saya ke perumahan baru. Itulah perumahan saya.

Dan, masih lah terdengar kicauan pertanyaan saya di kepala. Negri ini, betapa telah kehilangan kehormatan dirinya. Kaum muda yang relatif masih polos telah ditanamkan propaganda yang pro-failure. Bagaimana mungkin kita bisa berharap lebih, kalau begini caranya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih berkumul dan membuat saya menyayangkan mental bangsa ini.

Hingga akhirnya, seorang kakek menghalangi jalan di depan saya. Di pundaknya terdapat kayu, yang kedua ujungnya masing-masing mengikat keranjang bambu. Begitu berat, begitu melengkung. Ingin rasanya saya ringankan beban itu, sebab ketika saya tengok ke dalam keranjangnya, masih banyak jualan tersisa disana.

Jualannya pun amat sederhana: pisang. Dalam bilangan yang banyak. Jarang ada yang beli, entah kenapa. Dan kalau tidak salah, ini bukan kali pertama saya berjumpa dengan kakek tersebut.

Maka, saya ingat-ingat lagi. Suasana di halaman depan rumah. Suara pekikan adik-adik dan tetangga. Jejaknya yang rapuh menjajakan jualan. Ia selalu tampak keletihan hingga jalannya tidak seimbang. Kakek itu, yang berpeci hitam dengan batik tak pernah diganti. Yang matanya sudah terlalu buram dan keriputnya pun menyembunyikan rahasia umurnya.

Ha, entah sudah berapa tahun kakek itu berusaha menyalurkan tenaganya untuk uang yang halal.

Kembali, saya teringat lagi pada letihnya sekolah, panasnya hari ini, dan ibu-ibu dengan ajarannya yang tidak bermutu pada sang anak tadi. Saya menatap kakek tua di hadapan saya tersebut. Tak terasa, sambil berpikir tentang betapa bedanya mental sang ibu tadi dengan kakek ini, saya merogoh uang saya.

Uang jajan pelajar, pasti tahulah. Jumlahnya kecil. Saya pun mengulurkan nominal itu kepada kakek. Hingga hari ini, tak akan saya lupakan binar matanya, kerling senyumnya. Betapa bahagianya ia. Senyumnya, yang kemudian diikuti dengan ucapan terimakasih dan rasa syukur yang tinggi. Tak habis-habis. Padahal hanya uang segitu, istilahnya, uang jajan saya sehari yang bakal langsung ludes.

Sampai akhirnya saya harus berjalan di depannya supaya ia tak melihat mata saya yang berkaca-kaca. Ya Allah, what a lesson! Hari saya yang buruk kemudian diputar menjadi sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya lupa bersyukur, bukannya hidup kita memang sial. Saya jadi teringat hadist yang mengajarkan untuk melihat kebawah, jangan sering melihat ke atas. Jadilah orang yang bersyukur. Jadilah orang yang bersyukur.

Dan itulah yang akhirnya menutup diskusi saya dengan pikiran sendiri. Tentang bagaimanakah mental negri ini dapat diperbaiki? Sejujurnya, saya tidak begitu tahu. Namun satu hal yang pasti, orang-orang tua pernah membentuk sungai dengan aliran darah serta keringat mereka sendiri, sebab mental baja itulah satu-satunya jawaban atas kemerdekaan kita hingga hari ini.

Ditulis oleh Aiman Nabilah Rahmadita, Mahasiswi STEI SEBI.

Comments

comments