Pentingkah Manajemen Sumber Daya Insani di Lembaga Keuangan Syariah Indonesia ?

Ilustrasi.

Oleh : Danayanti, Mahasiswi STEI SEBI Depok-Jawa Barat.

Bukan hal asing lagi jika pertumbuhan lembaga keuangan syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan mengingat bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Kehadiran lembaga keuangan syariah seperti perbankan syariah, asuransi syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah, pasar modal syariah, dan lembaga lainnya yang beroperasi secara syariah seakan-akan menjawab kesadaran masyarakat Muslim Indonesia akan pentingnya mengkonsumsi produk-produk yang halal (thoyyib), sehingga tercapai keberkahan dunia dan akhirat. Dalam hal ini, dukungan manajemen sumber daya insani yang kompeten pada lembaga keuangan syariah menjadi penting. Dimana sumber daya insani menjadi fokus dari perusahaan dalam menjalankan strategi fungsi operasional, sehingga praktiknya dapat memberikan kontribusi dalam mencapai tujuan.

Seiring berjalannya waktu, permasalahan dasar yang dihadapi oleh praktisi dan pakar di lembaga keuangan syariah adalah kualitas dan kuantitas sumber daya insani tersebut yang tidak memenuhi kualifikasi lembaga keuangan syariah. Dimana ketika sumber daya insani dituntut untuk dapat memiliki skill dalam penguasaan ilmu ekonomi konvensional dan juga syariah (sebagai basis yang sangat penting), namun kenyataannya sumber daya insani yang ada pada lembaga keuangan syariah Indonesia, saat ini, hanya lancar mengenai ekonomi konvensional saja, dan masih sangat terbata- bata untuk basis syariahnya (penerapan ushul fiqih dan fiqih muamalah). Hal ini yang menjadi tantangan terbesar lembaga keuangan syariah di Indonesia saat sekarang, bagaimana menjadikan manajemen sumber daya insani yang mumpuni sesuai dengan prinsip-prinsip syariah karena keuntungan perusahaan akan meningkat ketika manajemen dapat diatur dengan baik.

Dari sini muncullah pertanyaan “Pentingkah Manajemen Sumber Daya Insani di Lembaga Keuangan Syariah Indonesia ?” Memasuki era globalisasi, saat ini, ekonomi syariah di Indonesia menjadi sebuah viral di kalangan masyarakat, baik itu masyarakat Muslim maupun masyarakat non Muslim, semua ikut ambil bagian dalam mengembangkannya. Namun, hal ini, tidak diimbangi dengan sumber daya yang terkualifikasi. Banyaknya pelaku keuangan syariah yang merupakan transferan dari lembaga keuangan konvensional. Jumlah sumber daya insani yang memenuhi kualifikasi masih sangat kurang.

Ada sejumlah permasalahan lembaga keuangan syariah di Indonesia sekarang ini. Permasalah itu adalah (1) adanya gap standar kualifikasi sumber daya insani antara lulusan perguruan tinggi dengan kualifikasi yang dibutuhkan perbankan syariah; (2) terbatasnya pemahaman praktisi lembaga keuangan konvensional akan pemahaman mengenai keuangan syariah; (3) kurangnya kerjasama lembaga keuangan syariah dengan lembaga pendidikan; dan (4) mahalnya biaya pendidikan dan pengembangan untuk pembekalan sumber daya yang siap pakai.

Dalam membangun sumber daya yang kredibel, maka dibutuhkan kelompok profesional yang akan membentuk manajemen sumber daya yang insani. Untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu siapa saja yang dikatakan sumber daya insani tersebut. Menurut Sadono Sukirno, sumber daya insani adalah orang-orang yang ada dalam suatu organisasi yang memberikan sumbangan pemikiran dan melakukan berbagai jenis pekerjaan dalam mencapai tujuan organisasi (2011, hlm 173).

Berbeda dengan Sadono, Imam Ghazali menyebutkan, sumber daya insani pada lembaga keuangan syariah merupakan kontribusi seseorang dalam meningkatkan market share perusahaan untuk semua aspek serta dapat menjaganya untuk tetap bertahan pada kondisi yang baik sesuai dengan yang diinginkan perusahaan (2012, hlm 66-67). Sehingga, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sumber daya insani merupakan perencanaan yang matang dari pelaku keuangan syariah dalam mengorganisir suatu tujuan organisasi secara berkesinambungan melalui potensi- potensi yang dimiliki untuk mencapai keseimbangan baik yang bersifat materi maupun immaterial.

Kualifikasi etika sumber daya insani diilhami oleh sifat-sifat Rasulullah SAW yang menjadi kriterianya. Sifat-sifat tersebut antara lain: (a) siddiq (benar); (b) amanah (terpercaya/ jujur); (c) tabligh (transparan); (d) fathanah (cerdas); dan (e) istiqamah. Berdasarkan tingkat pemahaman ekonomi dan syariah, di Indonesia ada tiga klasifikasi sumber daya insani, yaitu: (1) Spesialis terhadap ilmu syariah namun tidak memahami ilmu ekonomi; (2) Spesialis ilmu ekonomi, tetapi hanya memahami ilmu syariah; (3) Spesialis ilmu ekonomi dan juga spesialis ilmu syariah.

Dari ketiga tingkat pemahaman ekonomi dan syariah  tersebut, sumber daya insani yang sangat diharapkan adalah tipe ketiga dimana pelaku keuangan syariah itu harus spesialis terhadap ilmu ekonomi dan juga spesialis terhadap ilmu syariah. Namun kenyataannya sekarang, tipe seperti ini masih sangat minim dan jarang ada.

Selain itu, sumber daya insani harus memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Karena pelaku keuangan syariah yang insani itu harus bisa berbaur dengan lingkungan tempat dia bekerja tersebut, sehingga memudahkannya dalam melakukan pekerjaan dan terciptanya susasana pekerjaan yang aman dan nyaman.

Yang kedua, sumber daya insani harus memiliki ketaatan dalam memahami aspek legal atau hukum yang berlaku. Ketaatan terhadap aspek legal ini akan menyusun aktivitas secara teratur sehingga visi dan misi yang telah dibuat mudah dicapai.

Ketiga, keterbukaan dalam menyelesaikan masalah. Sumber daya insani dituntut untuk adil dan arif dalam menyelesaikan masalah untuk setiap keputusan yang diambilnya, sehingga tidak ada yang terkena efek buruk dari keputusan tersebut.

Keempat, sumber daya insani harus selalu menjaga kesehatan organisasi karena suatu organisasi itu akan sehat apabila pelaku keuangan syariah yang menjalankannya dengan baik dan sempurna. Terakhir, perkembangan kinerja sebab seorang sumber daya insani itu harus mampu megikuti perkembangan zaman dan teknologi.

Firman Allah QS At-Tin (95): 4, yang  artinya: “Sungguh, Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaaik-baiknya”. Dari penggalan arti surah diatas, sebagai seorang manusia yang dibekali hawa nafsu dan akal untuk berfikir, maka manusia tersebut harus dapat menentukan tujuan dan jalan yang mana yang akan diambilnya. Karena tujuan awal dari penciptaan manusia ke muka bumi itu adalah sebagai khalifah, sehingga manusia sebagai wakil Allah SWT harus mampu memelihara alam dan menjalankan pekerjaan.

Islam mengajarkan kita untuk melakukan pekerjaan dengan tepat, terarah, jelas dan tuntas. Suatu pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang mampu dan ahli di bidangnya, jika tidak, tujuan yang dikehendaki tidak akan tercapai. Manajemen sumber daya insani merupakan hal yang sangat penting, karena berkaitan dengan performa suatu lembaga keuangan syariah dalam menghasilkan suatu produk.

Hasibuan mengatakan, manajemen sumber daya insani merupakan suatu ilmu dan seni untuk mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu (2007, hlm 1). Terkadang, manajemen memiliki pengertian yang lebih luas dari yang dikatakan Hasibuan tersebut, namun kenyataan menunjukkan bagaimana kita mengelola sumber daya manusia bukan material maupun finansial.

Veithzal Rivai menuturkan, ada beberapa tujuan dari penerapan manajemen sumber daya insani di lembaga keuangan syariah Indonesia. Antara lain (a) meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktivitas; (b) rendahnya tingkat perpindahan pegawai, tingkat absensi, dan komplain dari nasabah; (c) tingginya kepuasan kerja karyawan dan tingginya kualitas pelayanan; (d) peningkatan bisnis perusahaan (2009, hlm 23). Fungsi dan tugas dari manajemen sumber daya insani yang paling penting adalah memilih sumber daya yang memiliki kualitas serta spesifikasi yang tinggi, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan planning, organizing, actuating, dan controlling.

Untuk mencapai tujuan lembaga keuangan syariah yang memiliki daya saing tinggi, hal terpenting lain yang harus dimiliki oleh manajemen sumber daya insani menurut Abdel Wadoed Moustafa Moersi el Seoudi adalah (1) kemampuan dalam menarik nasabah serta memahami secara betul hubungan yang terjadi antara bank syariah dan nasabah; (2) kemampuan dalam memberikan layanan perbankan dengan cepat dan berkualitas; (3) kemampuan dalam mencari peluang investasi yang tepat serta mampu mempelajari, mengevaluasi, mengimplementasikan, dan menindaklanjutinya dalam rangka melakukan pengawasan yang berbasis syariah.

Disisi lain, Agustianto memaparkan, bagaimana cara untuk bisa bersaing di lembaga keuangan syariah Indonesia, kualifikasi apa saja yang harus dimiliki manajemen sumber daya insani, yaitu: memahami nilai-nilai moral dalam aplikasi fiqih muamalah/ ekonomi syariah; memahami konsep dan tujuan ekonomi syariah; memahami konsep dan aplikasi transaksi (akad) dalam muamalah/ ekonomi syariah; mengenal dan memahami mekanisme kerja dan interaksi lembaga-lembaga terkait seperti regulator, pengawas, lembaga hukum, konsultan dalam industri ekonomi, keuangan, perbankan, dan bisnis syariah; mengetahui dan memahami hukum dasar baik hukum syariah (fiqih muamalah) maupun hukum positif yang berlaku; menguasai bahasa sumber ilmu (bahasa Arab dan Inggris).

Agustianto juga menambahkan, untuk meningkatkan manajemen sumber daya insani yang berkualitas, sebuah lembaga perguruan tinggi harus sedini mungkin mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul di bidang ekonomi dan keuangan syariah. Sehingga, ketika masuk ke dalam lembaga keuangan syariah itu, sumber daya tersebut sudah tidak asing lagi dengan pekerjaan, cara kerja yang ada pada lembaga keuangan syariah tersebut dan dapat membangun manajemen sumber daya insani yang baik. Selain itu, sertifikasi juga menjadi bagian terpenting dari proses manajemen sumber daya insani, karena dengan adanya sertifikasi, kualitas sumber daya insani yang ada pada lembaga keuangan syariah di Indonesia dapat bersaing secara lokal maupun global.

Dari sini kita dapat menjawab pertanyaan pentingkah manajemen sumber daya insani di lembaga keuangan syariah Indonesia? Jawabannya adalah sangat penting sebab apabila sebuah lembaga keuangan syariah memiliki manajemen sumber daya yang insani, maka operasional perusahaan akan berjalan dengan lancar serta visi dan misi lembaga keuangan syariah akan terwujud. Karena, lembaga keuangan tersebut, memiliki pelaku keuangan syariah yang berintegritas tinggi, profesional dalam setiap bidang yang diampunya, serta memahami nilai-nilai moral dalam aplikasi syariah.

Comments

comments