Beranda Ekonomi Syariah Pengawasan Syariah Pada Lembaga Keuangan Syariah

Pengawasan Syariah Pada Lembaga Keuangan Syariah

(Istimewa)

Oleh: Nur Padilah Darus

Lembaga Keuangan Syariah di dunia internasional sudah sejak lama melebarkan sayapnya dari beberapa tahun yang lalu, terhitung sejak tahun 1970 sampai dengan tahun 2009 sudah 458 Lembaga Keuangan Syariah yang bergabung dengan meliputi entitas Bank, Asuransi, Bank Investasi, Pasar Modal, Pasar Sektor Ril, dan lainnya.

Begitu juga dengan perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia dan negara muslim lainya. Di Indonesia sendiri potensi Lembaga Keuangan Syariah terus meningkat dengan pesat. Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat Indonesia yang berdiri pada tahun 1991. Bank ini sempat tertimpas pada krisis moneter pada tahun 90-an sehinggah ekuitasnya hanya tersisa sepertiga dari modal awal dan satu-satunya bank yang bisa bertahan pada saat itu. kerasnya hantaman krisis moneter pada saat itu memberikan dampak yang positif dan semangat yang semakin menggerakan perkembangan industri syariah agar terus berkembang.

Semakin berkembanganya Lembaga Keuangan Syariah di dunia internasional maupun di Indonesia, diperlukan adanya tindakan berkelanjutan sebagai upaya untuk menjaga dan meningkatkan potensi, diperlukan sebuah pengawasan agar lembaga keuangan menjalankan kewajiban dan fungi sesuai dengan standar yang berlaku. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga tata kelola entitas syariah agar tetap sesuai dengan prinsip syariah. Dibutuhkanya sebuah pengawasan terhadap Lembaga Keuangan Syariah untuk dapat membuktikan apakah Lembaga Keuangan Syariah sudah menjalankan tugas sesuai dengan ketentuan, hal ini menjadikan penggunaan istilah “Audit” muncul.

BACA JUGA:  Bisnis Syariah Dilandasi dengan Sumber Daya yang Syariah

Audit adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk secarakritis dan sistematis oleh pihak yang independen, laporan keuangan yang disusun oleh manajemen dan catatan akuntansi dan bukti pendukung, dalam rangka memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan (Sukrinso Agoes,2004). Istilah audit ini tidaklah asing dikalangan para pengusaha, hal ini merupakan aktifitas yang rutin dilakukan di setiap akhir periode untuk menjadikan perbaikan-perbaikan kedepannya. Pengawasan pada Lembaga Keuangan syariah sangatlah penting, apakah pengawasannya sesuai dengan nilai moral dan prinsip-prinsip syariah yang dimana hubungannya tidak hanya wajar dipandang manusia namun juga wajar pada pandangan kaidah dan prinsip syariah.

BACA JUGA:  Solusi Problematika Manajemen SDM Bank Syari’ah

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Samy Nathan Garas dan Shris Pierce ( New York), penelitian yang berjudul Shariah Supervision Of Islamic Financial Instition mencatat bahwa pentingnya pengawasan syariah di sebabkan oleh lima aspek yaitu; agama, sosial, ekonomi, hukum, dan pemerintahan. Dari kelima aspek tersebut aspek agama adalah aspek yang sangat penting karena ketika pandangan baik dari segi agama tentang entitas syariah dalam melakukan perbaikan-perbaikan terhadap pemenuhan kewajiban terhadap “kesyariahan”, maka akan berlanjut semakin banyaknya masyarakat yang akan mempercayai entitas syariah yang dimana hingga sekarang masyarakat butuh akan lembaga syariah.

Karena pentingnya pengawasan syariah, muncul berbagai lembaga-lembaga pengawasan syariah didunia. Setiap bentuk pengawasan syariah dalam lembaga keuangan syariah di masing-masing negara mungkin berbeda bentuknya, baik yang berada di bank sentral maupun diluar bank sentral.

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOFI) adalah organisasi internasional yang bersifat independen, yang terdiri dari 200 anggota dari 40 negara termasuk bank sentral, lembaga keuangan islam, dan anggota lainnya dari industri perbankan internasional diseluruh dunia. AAOFI mengatakan bahwa setiap lembaga keuagan syariah setidaknya memiliki kurang lebih empat Dewan Pengawas Syariah (SSB).

BACA JUGA:  Agar Lembaga Zakat Lebih Transparan

Dalam penelitiannya Samy Nathan Garas dan Shris Pierce mengumukakan bahwa pengawasan bagi Lembaga Keuangan Syariah dapat digolongkan menjadi dua tingkat, yaitu tingkat mikro dan tingkat makro. Dalam tingkat mikro dapat melibatkan Dewan Pengawas Syariah (SSB) atau pada level institusi yang berada ditiap-tiap lembaga, pengawasan dilakukan oleh regional dengan membentuk Shariah Supervisory Board (SSB) . Sedangkan untuk tingkat makro, dalam pengawasan ini dapat melibatkan regulasi yang berpusat secara naional ataupun lembaga khusus yang dibuat oleh pemerintah dengan membentuk Shariah Suprema Council (SSC). Di Malaysia, Dewan Pengawas Syariah berada dalam bank sentral dan masih banyak negara lainya, sedangkan Indonesia Dewan Pengawas Syariahnya berada diluar bank sentral.
Refrensi : Chris Pearce and sammy Nathan Garas, (2010), “Sharia Supervision of islamic financial intitution”, Journal of financial regulation and comliance, Vol. 18. No.4

Komentar

komentar