Beranda Feature Vandalisme Dikalangan Remaja, Kreatifitas yang Perlu Diarahkan

Vandalisme Dikalangan Remaja, Kreatifitas yang Perlu Diarahkan

Ilustrasi. (Foto: Kompas)

Menggambar dan mewarnai adalah hal yang sangat di sukai anak anak, remaja dan dewasa. Bagi anak anak menggambar dan mewarnai adalah suatu keberhasilan atas upaya nya dalam menjalani pendidikan. Lain lagi bagi remaja, menurut mereka menggambar dan mewarnai adalah suatu hobi yang sangat mengasikan , apalagi jika bisa di ikut sertakan dalam lomba. Seperti manga dan lainnya. Lain pula bagi orang dewasa yang mahir menggambar dan mewarnai. Hal itu menjadi sumber utama dalam mendapatkkan penghasilan. Seperti pelukis dan ilustator. Segala bentuk tersebut memiliki manfaat yang berbeda beda bagi setiap kalangan.

Tapi bagaimana ketika melihat remaja atau anak sekolahan yang sedang mencoret coret tembok disepanjang jalan, fasilitas umum dan warung warung dijalan, bahkan rumah rumah warga pun menjadi sasaran mereka. Pasti kita sangat kesal melihat hal tersebut, dan kita merasa jengkel. Bayangkan jika sepanjang jalan yang kita lihat banyak coret coretan nama geng,nama sekolah, bahkan nama mereka. Hal tersebut sangat mengganggu dan membuat geram warga skitar.

Namun ternyata penyakit remaja tersebut ada namanya yaitu “vandalism dikalangan remaja”. Pengertian vandalism menurut Wikipedia adalah suatu sikap dan kebiasaan yang di alamtkan kepada bangsa vandal, pada zaman romawi kuno, yang budaya nya antara lain melakukan perusakan yang kejam dan penistaan segala yang indah dan terpuji. Tindakan yang termasuk vandalisme adalah perusakan, gravity, dan hal hal lain yang menganggu mata.

Menurut KBBI atau kamus besar bahasa Indonesia, vandal adalah perbuatan merusak dan menghancurkan karya seni dan barang berharga lainnya(keindagahn alam tersebut) atau perusakan dan penghancuran secara ganas. Nah itulah yang terjadi pada remaja Indonesia sekarang yaitu mencoret coret tembok, papan, atau fasilitas umum lainnya. Bahkan penempelan brosur, pamflet dan stiker di muka umum atau bukan pada tempatnya juga termasuk vandalism.

Nah dari sejarah itulah penyakit remaja berasal, mereka mencoret dan lainnya menjadi sebuah kesukaan. Yang mereka lakukan adalah sebagai bentuk mengenalkan identitas mereka. Mereka tidak memikirkan dampak pada yang lainnya, yang mereka ingin kan adalah kepuasan atas apa yankg telah mereka perbuat. Semakin banyak coretan maka semakin terkenal menurut mereka. Namun dibalik itu semua meskipun arti vandalism adalah pengrusakan tapi tidak serta merta remaja yang mempunyai tekad untuk mengubah hal yang negatif menjadi positif.

Disebutlah mural. Banyak sekali kelompok atau komunitas yang menjadi wadah bagi para remaja kreatif untuk menuangkan imajinasi seni yang ada di otak mereka namun pada tempatnya. Atau artinya yang mereka sebut gravity tidak selalu menjadi pengrusak keindahan. Bahkan menjadi nilai seni yang sanagt tinggi. Karna tidak serta merta sebuah karya ada tanpa adanya imajinasi pemikiran dengan niali seni yang tinggi.

Mural bisa kita temui hamper disetiap kota, sekolah, maupun kampus. Dalam berbagai kegiatan kampus yang berada di Depok yaitu STEI SEBI pun sering sekali mengadakan lomba mural. Hal ini menjadi wadah yang sangat mengasyikan. Selain bermanfaat hal ini menjadikan remaja semakin sadar bahwa dengan tidak merusak fasilitas mereka bisa melakukan hal tersebut dengan yanag sangat positif seperti mengikuti lomba. Dalam kegiatan ini banyak sekali dampak positif yang didapatkan baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.

Hal ini sangat perlu sekali perhatian dari pemerintah. Karna yang sering sekali dirusak fasilitas umum, maka pemerintah mempunyai peranan penting utntuk membasmi kerusakan kerusakan yang terjadi. yaitu dengan cara memberikan wadah untuk para remaja yang meiliki nilai kretifitas yang sangat tinggi ini. Semakin perduli pemerintah terhadap keberlangsungan remaja , maka semakin baik pula kedepannya untuk para generasi penerus bangsa.

Yuk kita semua baik yang memang suka sekali dengan menggambar atau coret coret. Mari kita tuangkan hal tersebut dalam hal yang lebih positif. Artiya tidak merugikan orang lain. Karena menjadi remaja yang lebih bermafaat lebih disayangi banyak orang dari pada remaja yang merusak dan membuat orang kesal. Jadilah remaja yang kreatif dan bermanfaat bagi sesama.

Ditulis oleh: Tri Alpiana, Mahasiswi STEI SEBI.

Komentar

komentar