Beranda Oase Sejejak Langkah di Perantauan

Sejejak Langkah di Perantauan

Ilustrasi.

Oleh: Siti Masruroh (Mahasiswa STEI SEBI)

Kemanapun dan sejauh apapun kita marantau tetap rumah adalah tujuan pertama kita kembali. Ketika sampai di rumah, orang tua adalah orang pertama yang akan kita temui, yang akan kita cium tangan nya, peluk dengan pelukan kebahagiaan, dan kecup kening nya dengan kasih sayang yang teramat dalam. Dengan rasa bangga dan rindu yang tersirat di hati kedua orang tua, bagi anak rantau yang bekerja atau yang sedang meniti ilmu di tanah rantau.

Begitulah orang-orang parantauan sejatinya ketika pulang kerumah. Tapi, ingatkah kita bahwa ada berbagai kewajiban yang harus di lakukan sebelum waktu kembali ke rumah itu tiba. Dan berbagai pengalaman-pengalaman yang di nanti orang-orang di sekitar. Pengalaman yang terkadang lebih banyak datang dari kesukaran dari pada kesenangan.

Mulai dari yang sederhana seperti rasa kesepian ketika teman sekamar/kos sibuk dengan urusan masing-masing sementara kita jatuh sakit. Sampai urusan finansial, yang mengharuskan kita pintar mengelola pengeluaran kalau tak mau kekurangan uang. Ya lebih baik jangan sampai kita coba-coba sama yang namanya berhutang.

BACA JUGA:  Bertebaran Dalam Kebaikan

Belum lagi cobaan seperti hari-hari penting tiba. Entah hari pernikahan salah satu anggota keluarga, atau momen-momen dimana seluruh anggota keluarga berkumpul. Seperti hari Raya Idul Fitri dan hari Raya Idul Adha. Bayangan rumah beserta isinya entah kenapa membuat hari-hari terasa lebih berat untuk dilalui. Padahal hari Raya Idul Fitri atau hari Raya Idul Adha sendiri dimana pun selalu sama.

Hari Raya Idul Fitri yang sebelumnya ada bulan Ramadhan, dengan keanekaragaman tersendiri. Mulai dari tayangan di televisi sampai para penjual dadakan mulai bermunculan di trotoar jalan. Kegiatan seperti itu memang sudah menjadi ciri khas dari bulan suci Ramadhan. Tidak bisa di pungkiri lagi.

Buat para Mahasiswa atau perantauan yang lain mungkin ini kali pertama kita melalui hari Raya Idul Adha jauh dari rumah. Baru beberapa hari kemarin kita menjalankan hari Raya Idul Adha. Perasaan rindu itu pun pasti ada. Bagaimana ketika momen bakar-bakar daging supaya menjadi sate yang enak, membuat gulai atau bakso atau yang lainnya. Rindu itu pasti akan datang. Tinggal bagaimana kita bisa mengelola rasa rindu itu. Terkadang memang rindu itu datang tanpa rasa lelah. Datang kapan pun dan dimana pun, dan pada situasi apapun. But semua itu kita kembalikan kepada sang Maha Kuasa.

BACA JUGA:  Nikmat yang Sering Terlupakan

Memohon agar kita tetap bisa bertahan ditanah rantau ini. Meski banyak rintangan dan hambatan yang harus kita lalui terlebih dahulu. Orang-orang rumah sedang menunggu kesuksesan yang akan kita bawa ketika kembali ke tanah kelahiran. Kontribusi kita ditunggu oleh masyarakat sekitar. Memang kesuksesan itu membutuhkan perjuangan yang melelahkan. Perjuangan dengan penuh kesungguhan. Tanpa kesungguhan tidak ada artinya.

Mari sejenak kita renungi hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim).

BACA JUGA:  Nikmat yang Sering Terlupakan

Tidak ada hal yang sulit jika kita mau berusaha dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas, yang penting ada kemauan dan ada kesungguhan serta gunakan logika serta ilmu pengetahuan sesuai kapasitas kita masing masing yang telah Allah Ta’ala karuniakan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah dirinya sendiri.” (Ar-Ra’d:11)

Komentar

komentar