Nobel Perdamaian Dunia yang Tak Memiliki Arti

(Istimewa)

Oleh Siti Humairoh/ Mahasiswi STEI SEBI Depok

Penghargaan nobel ialah sebuah penghargaan yang sangat bergengsi di dunia. Pasalnya penghargaan ini diberikan kepada orang –orang yang memiliki dedikasi tinggi terhadap sesuatu, baik itu dalam bidang penelitian maupun dalam bidang pengabdian terhadap sesuatu. Penghargaan nobel pertamakali diberikan berdasarkan wasiat Alfred Nobel, seorang industrialis Swedia, dan seorang penemu dinamit. (id.m.wikipedia.org/wiki/Penghargaan_Nobel).

Penghargaan nobel diadakan setiap tanggal 10 Desember di setiap tahunnya. Penghargaan nobel pertamakali diadakan pada tahun 1901. Berbagai macam kategori yang masuk dalam penghargaan nobel. Dalam skala besar penghargaan nobel di kategorikan menjadi 6 kategori yakni Fisika, Kimia, Fisiologi dan Kedokteran, Sastra, Perdamaian, dan Ekonomi.

Yang unik dari kategori penghargaan nobel tersebut ialah nobel perdamaian dunia. Jika berbicara perdamaian dunia, berarti berbicara tentang persamaan hukum, keadilan bersama secara proporsional, dan banyak hal mengenai sebuah perdamaian. Pengertian perdamaian sendiri menurut KBBI adalah penghentian permusuhan (perselisihan dan sebagainya); perihal damai (berdamai). Dalam daftar penerima penghargaan nobel kategori perdamaian dunia terdapat sebuah nama yang mencuri perhatian dunia. Dimana nama tersebut sekarang sedang hangat dibicarakan di dunia kemanusiaan.

Aung San Suu Kyi ialah salah satu nama yang menerima penghargaan nobel kategori perdamaian dunia. Dalam perjuaangannya hingga mendapatkan penghargaan tersebut ialah dimana ia memperjuangkan demokrasi di negaranya tanpa kekerasan dalam menentang kekuasaan rezim militer yang mayoritas menganut agama Budha. Hingga sekarang ini ia adalah seorang aktivis prodemokrasi Myanmar dan pemimpin National League for Democracy atau yang biasa disingkat NLD. Sebuah organisasi persatuan nasional untuk demokrasi. Namun pada kenyataannya nobel hanyalah nobel. Pro dan kontra terhadap nobel perdamaian dunia. Karena seharusnya seseorang yang mendapatkan penghargaan nobel perdamaian dunia dapat menjaga kesetaraan suatu kaum di negaranya ataupun berkontribusi di dunia. Apalagi jika ia seorang aktivis yang prodemokrasi tanpa kekerasan.

Melihat fakta yang terjadi pada negara Myanmar adalah suatu kekejaman kemanusiaan yang dimana dunia bungkam akan terjadinya Genosida terhadap suatu kaum di Myanmar. Kenapa genosida? Ya karena yang terjadi adalah sebuah pembantaian yang ditujukan pada suatu kaum minoritas yang dikenal dengan kaum Rohingya. Rohingya adalah suatu kelompok minoritas Muslim yang berdomisili di pesisir barat Arakan, Myanmar. Kaum ini telah menganut agama Islam sejak abad ke- 12. Namun pemerintah Myanmar tak penah menganggap bahwa etnis Rohingya adalah bagian dari Myanmar dan menganggapnya imigran gelap. Sejak tahun 1970 sedikitnya 1 juta muslim Rohingya melarikan diri dari Myanmar akibat penyiksaan yang mereka terima dari militer ataupun dari ekstrimis Budha.

Nobel hanyalah sebuah nobel. Namun pantaskah jika seseorang yang mendapat penghargaan nobel perdamaian dunia bungkam atas apa yang sedang terjadi di negaranya sendiri. Banyak yang berfikir bahwa Aung San Suu Kyi akan melakukan suatu hal atas apa yang terjadi terhadap etnis Rohingya. Kenyataannya Suu Kyi tak melakukan apapun bahkan melarang relawan untuk masuk ke wilayah Myanmar dalam rangka membantu etnis Rohingya. Selain penghargaan nobel perdamaian dunia Suu Kyi pernah mendapatkan penghargaan di Universitas Nasional Australia pada tahun 2013, kala itu rektor Gareth Evans menyebut Suu Kyi :”contoh keberanian dan tekad yang tennag dalam menghadapi penindasan dan seorang jagoan damai yang membuat dunia yang lebih baik dan lebih adil.”

Suu Kyi yang menjadi ikon pejuang demokrasi ini rupanya tak bisa berbuat banyak atas apa yang terjadi pada etnis Rohingya. Banyak negara yang mempertanyakan akan kelayakan nobel perdamaian yang diberikan kepada Suu Kyi. Penghargaan itu selayaknya dikembalikan karena peraihnya dianggap melakukan pengkhianatan dari esensi nobel perdamaian dengan membiarkan tragedi Rohinya terjadi ‘di depan matanya’.

Comments

comments