Menjaga Keikhlasan

Ilustrasi. (Istimewa)

Hari demi hari berlalu. Kadang terasa sangat lambat, dan terkadang begitu cepat laksana anak panah lepas dari busurnya. Ada yang bilang, itu tergantung suasana hati. Tapi lepas dari suasana hati, hari demi hari, dalam silih berganti. Adakah amal shalih yang kita tunaikan? Pertanyaan ini layak kita renungkan, karena amal shalih yang kita lakukan memliki kedudukan istimewa di sisi Allah Rabbul Izzati. Dia juga akan membalas mala shalih kita dengan karunia yang sangat besar. “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik..,” (QS AN-Nahl:97)

Kita tentu sudah banyak mendengar janji yang terucap. Entah dari orang-orang kita sayangi, dari tukang obat keliling, atau dari para politisi yang sedang berkampanye.tapi janji-janji itu belum tentu benar atau bisa meleset. Berbeda dengan janji Allah SWT yang mah benar. Itu sebabnya, sangat disayangkan sebagai muslim kita enggan melakukan amal shalih dalam meniti kehidupan di dunia fana ini.

Amal shalih yang orang lakukan tentu memiliki manfaat bagi orang lain.infak,misalnya terasa sebagai setetes embun di padang yang gersang bagi orang-orang yang membutuhkannya. Namun yang kita harus cermati adalah amal shalih iu sendiri bukan tujuan. Sebab, sebanyak apapun amal shalih yanng kita lakukan, tidak akan mampu membandingi nikmat Allah yang kita rasakan. Firman Allah: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakan,” (QS Ibrahim:34). Maka seseorang mukmin tidak akan membanggakan amal shalihnya. Ia justru akan kian runduk dalam cahaya amal yang dipancarkannya.

Selain menyadari bahwa amal shalihnya begitu kecil dibandingkan dengan curahan rahmat Allah, seorang mukmin senantiasa cermat dalam berindak. Oleh karena itu, ia berusaha agar hatinya tidak melenceng dari mengharapkan ridha Allah semata ketidak berbuat sesuatu. Ia berjuang agar senantiasa niatnya lurus dan teguh di jalan yang benar.

Upaya menjaga keikhlasan dalam beramal adalah keniscayaan, bahkan suatu kemestian. Rasulullah saw berpesan, “sesungguhnya semua bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan,” (HR Bukhari-Muslim).tantangan menjaga keikhlasan tidak kecil, memang. Karena syaitan itu lemah jika kita bersungguh-sungguh dan istiqamah.maka dari itu janganlah lupa kita untuk berdoa. Memohon perlindungan Allah, agar jangan sampai terjerat dan terlena dalam bujuk-rayu syaitan.

Dalam kehidupan ini, keikhlasan begitu penting. Banyak kerusakan di muka bumi ini yang disebabkan oleh lenyapnya niat ikhlas dalam dada manusia. Ketika berlomba-lomba memperebutkan nikmat dunia, manusia saling sikut, saling jegal, bahkan jika perlu saling menjatuhkan dan menghancurkan. Lalu munculah segelintir orang yang tega tertawa lebar diatas penderitaan orang banyak. Kehidupan pun menjadi kehilangan makna.

Maka, ditengah terpaan kesulitan yang kita alami,berusahalah agar tetap tegar. Jangan biarkan syaitan menyeret kita kedalam kesulitan yang lebih membelenggu. Marilah kita jaga agar keikhlasan tak pupus dari relung jiwa kita. Wallahu a’lam bisshawab.

Ditulis oleh: Aulia fitriah

Comments

comments