Menimbang Nilai Persahabatan

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Shilvi Dia Savitri, Mahasiswi STEI SEBI, Depok.

Bahwasannya manusia adalah makhluk sosial, sudah menjadi kodrat yang mutlak bahwa kita membutuhkan orang lain didekat kita entah itu keluarga maupun sahabat. Begitupun dalam islam kita diajari untuk menjalin ukhuwah dengan orang lain disekitar kita terutama sesama muslim. Rasulullah dalam sabdanya mengatakan bahwa “Seseorang itu tergantung oleh agama sahabatnya”

Adapun dua belas kriteria sahabat menurut Imam al-Ghazali:

1.Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
2.Jika engkau merapatkan ikatan persahabat dengannya, maka ia akan membalas baik persahabatan itu.
3.Jika engkau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
4.Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
5.Jika ia memperoleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
6.Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik dari dirimu, maka akan berupaya menutupinya.
7.Jika engkau meminta sesuatu bantuan darinya, maka ia akan mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.
8.Jika engkau berdiam diri (karena malu untuk meminta), maka ia akan menanyakan kesulitan yang kamu hadapi.
9.Jika bencana datang menimpa dirimu, maka ia akan berbuat sesuatu untuk meringankan kesusahanmu itu.
10.Jika engkau berkata benar kepadanya, niscaya ia akan membenarkanmu.
11.jika engkau merencanakan sesuatu kebaikan, maka dengan senang hati ia akan membantu rencanan itu.
12.Jika kamu berdua sedang berbeda pendapat atau berselisih paham, niscaya ia akan lebih senang mengalah untuk menjaga.

Sudahkah kita menemukan seorang sahabat dengan kriteria seperti diatas? Jika belum, maka jadilah salah satu diantara mereka. Maka Allah akan penuhi pula sahabat yang baik disekitarmu.

Namun, terlepas dari hal tersebut. Adakah dari kalian berfikir seperti ini “Mau bersahabat dengan siapapun terserah dong, masa harus pilih-pilih? Yang pentingkan nyaman, satu fikiran?”

Ingat, Islam tidak melarang kita untuk menjalin hubungan dengan setiap insan manusia, baik berbeda sikap maupun keyakinan. Kita boleh berteman dengan siapapun, asal jangan bersahabat!. Teman berbeda dengan sahabat. Teman mungkin hanya sekedar kenal, namun sahabat adalah orang yang selalu ada bersama kita. Jika masih ada yang menentang akan hal ini maka ingatlah Al-qur’an surat Zuruf sebagai pegangan. “Janganlah kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin”

Haruslah bagi kita mencari sahabat yang baik, sahabat yang mampu menuntun diri kita kepada kebaikan dan sahabat yang selalu mengingatkan kita kepada Allah. Orang-orang yang baik akan berkumpul dengan orang-orang yang baik, begitu pula dengan orang yang jahat mereka akan berkumpul dengan orang-orang yang sejenis dengan mereka. Penting bagi kita untuk memilah dalam bersahabat untuk mendorong kita menjadi makhluk yang lebih baik, bukanlah seseorang yang mengajak kita terjun bersama kubangan dosa. Seperti yang diriwayatkan bahwa “Seseorang itu tergantung agama temannya, Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam satu hadist yang artinya: “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, karena itu setiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan.”

Rasulullah pun menegaskan dalam perumpamaannya jika seorang bersahabat dengan penjual minyak wangi akan ada 3 kemungkinan, yaitu pertama kemungkinan kamu membeli minyak wangi itu, kedua kamu diberi secara gratis oleh penjualnya, ketiga kemungkinan kamu tidak membeli maupun tidak diberi, namun kamu masih mendapatkan bau wanginya. Sebaliknya jika kamu berteman dengan pandai besi, dimana besi adalah zat padat yang hanya api yang dapat membelokan bahkan meleburkannya. Jika kamu bersahabat dengannya, maka hanya ada 2 kemungkinan. Pertama, panasnya api akan membakar bajumu, kedua kemungkinan terbaiknya bajumu akan bau karena asap api.

Nah, masihkah kamu mengelak jika Allah dan Rasul-nya berbicara tegas seperti ini?

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf 43:67)

Mengapa bisa menjadi musuh?

Karena nanti di akherat setiap orang akan ditanya tentang dosa-dosanya. Mengapa kamu melakukan dosa ini? Oh ini karena ajakan si fulan, lalu berlanjut ke si fulan, si fulan dan si fulan. Sehingga mereka yang dulunya sahabat dalam melakukan kebatilan akan saling menuduh dan bermusuhan. Luar biasa bukan? Tanpa kita sadari hal itu terus menyambung seperti rantai sampai akherat nanti.

Al-Hasan al-Basri berkata “Perbanyaklah sahabat-sahabat mu’min-mu, karena mereka memiliki syafa’at pada hari kiamat nanti”

Diriwayatkan bahwa: Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka kepada Allah. “Ya Rabb.. Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, Shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami”

Maka Allah berfirman:

“Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang hatinya ada iman walaupun hanya sebesar dzarrah.” (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab “Az-Zuhd”)

Subhanallah begitu indah bukan ukhuwah fillah ini. Bersahabat tidak hanya di dunia tetapi sampai surga yang kekal. Mari tegakkan ukhuwah ini hingga kita dipertemukan di surga Allah. Amiin amiin ya Rabbalalamin.

Comments

comments