Menangis Dalam Shalat

(Istimewa)

Tangisan adalah ekspresi perasaan terdalam manusia. Tak seorang pun manusia yang tidak pernah menangis, kehadiran mereka ke dunia pun diawali dengan tangisan. Dalam kondisi senang (bahagia) dan sedih biasanya kita tunjukkan dengan luapan tangisan. Karena itu, ungkapan perasaan yang disedang dirasakan dengan ekspresi terdalam, bila perlu menangis menangislah, sebab tangisan bukanlah bentuk kelemahan atau sifat ‘cengeng’ juga bukan meluluhkan kaum hawa.

Rasulullah saw mengajari kita agar banyak menangis di dunia ini, bukan banyak tertawa. Lebih-lebih saat berhadapan dengan Allah swt dan menangisi dosa-dosa yang telah kita perbuat selama ini. Dalam Al-Qur’an disebutkan, “Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan? Yang membuat kamu tertawa dan tidak membuat kamu menangis,” (QS. An-Najm: 59-60).

Mari kita coba menangis dalam shalat, semoga ini dapat mengantarkan kita pada tingkatan khusyuk dan harus di hadapan-Nya. Setelah membaca Al-Fatihah dalam shalat, cobalah pilih surah-surah yang bisa menasihati diri kita, renungkan kandungannya , resapi setiap serpihan makna di sekitarnya, kemudian larutkan segenap jiwa kita pada maksud dan kehendak Tuhan di balik surah itu. Jika harus menangis maka menangislah, jangan ditahan-tahan. Sebab Rasulullah saw bersabda, sebagaimana dalam riwayat Abu Dzar Al-Ghifari, “Kalau salah seorang di antarakamu sanggup menangis, jangan tahan tangisannya. Jika tidak mampu menangis, rasakan dalam hatimu seluruh penderitaan itu. Berusahalah untuk menangis, sebab hati yang keras yang tidak bisa menangis, dijauhkan dari Allah swt.”

Ketika beban hidup membuat dada kita sesak, persoalan demi persoalan datang silih berganti menghantam pertahanan psikis kita. Sehingga kita stress atau depresi berat, dirikanlah shalat, kemudian bacalah setelah Al-Fatihah, “Alam Nasyarah laka Shadrak… (Bukankah Kami melapangkan dadamu…)”. Rasakan pertolongan Allah menghampiri kita, rasakan belaian tangan-Nya mengelus-elus dada kita, sehingga dada kita terasa ringan dan perlahan-lahan beban itu terangkat dari dada kita. Pasti kita akan berkata setelah salam, Alhamdulillah, kini aku sudah terbebas, sekarang aku sudah sembuh!”. Begitulah Allah memberikan obat penawar dalam shalat dari segala persoalan hidup. Al-Qur’an adalah obat penawar paling mujarab. Jika kita hidup dibawah naungannya, saya kira tidak ada persoalan serius dalam hidup ini. Semua persoalan mudah sebab Al-Qur’an membuatnya mudah bagi kita.

Shalat itu komunikasi yang paling ideal bagi seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika shalat, sesungguhnya kita sedang ‘curhat’ kepada Dzat yang tidak pernah bosan mendengar keluhan kita.

Suatu ketika, setelah Rasulullah saw meninggal, Siti Aisyah ditanya oleh seseorang, “Bagaimana keadaan Rasulullah saw?” Aisyah menghela nafas panjang, terdiam lama, lalu airmatanya mengalir. Katanya, “Kana kullu amrihi ‘ajaba. Semua yang terkait dengan beliau sungguh menakjubkan.” Si penanya tidak puas dan terus mendesaknya untuk menceritakan sesuatu yang paling menakjubkan. Aisyah ra bercerita, “Ketika aku tidur, tengah malam, Rasulullah saw terbangun. Padahal kulitnya dan kulitku bersentuhan. Beliau berkata, Aisyah, izinkan aku untuk menyembah Tuhanku. Aku jawab, Aku senang kau dekat denganku, tapi aku juga senang kau menyembah Tuhanku, Kemudian beliau berwudhu, lalu shalat. Tak lama setelah beliau takbir, aku dengar beliau terisak-isak, sampai-sampai dadanya berguncang seperti air yang mendidih. Beliau terus menangis, sampai-sampai jenggotnya basah dengan air mata. Ketika adzan subuh dikumandangkan., Bilal memberitahu Rasulullah saw bahwa waktu subuh telah tiba. Saat itu Bilal masih melihat bekas tangisan beliau. Bilal bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa kau menangis, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?’ Beliau menjawab, ‘Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur pada Allah swt.’”

Kembali ke persoalan tangisan dalam shalat. Menangis saat shalat itu menyehatkan jiwa. Lebih-lebih jika hal tersebut dilakukan di tengah malam yang hening, saat manusia terlelap dalam tidur mereka, yang ada hanya kita dan Dia. Alangkah bahagianya. Seolah-olah ketika itu Tuhan dimonopoli kita, hanya milik kita. Kita berbagi duka dan lara dengan-Nya., kita ceritakan perihal anak-istri kita dan mimpi mereka di hadapn-Nya, perihal cinta kita kepada agama ini dan kaum muslimin, kita ceritakan pada-Nya semuanya, tanpa tersisa.

Ditulis oleh: Inayah Khoirunisa

Referensi:
Al-Qur’an
Ghufron Hasan, Aku Cermin Shalatku, Jakarta: Republik Penerbit, 2012, Cet. I

Comments

comments