Beranda Feature Fabel Sebagai Salah Satu Bacaan yang Tepat Untuk Anak

Fabel Sebagai Salah Satu Bacaan yang Tepat Untuk Anak

Salah satu bacaan fabel untuk anak. (Istimewa)

“Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga berhak mendapatkan bacaan yang berkualitas. Bacaan berkualitas dapat mengembangkan wawasan, karakter dan juga emosi seseorang.”

Kata Fabel secara etimologi berasal dari kata Latin “Fibula” yaitu cerita,yang merupakan turunan dari kata “Fari” yang berarti berbicara. Fabel merupakan salah satu jenis dongeng mengenai dunia binatang, di mana binatang-binatang bahkan makhluk-makhluk yang tidak bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. Tokoh-tokoh cerita di dalam fabel semuanya binatang. Binatang tersebut diceritakan mempunyai akal, tingkah laku, dan dapat berbicara seperti manusia. Watak dan budi manusia juga digambarkan sedemikian rupa melalui tokoh binatang tersebut.

Tujuan fabel ialah memberikan ajaran moral dengan menunjukkan sifat-sifat jelek manusia melalui simbol binatang-binatang. Melalui tokoh binatang, pengarang ingin mempengaruhi pembaca agar mencontoh yang baik dan tidak mencontoh yang tidak baik. Fabel kebanyakan diperuntukkan bagi anak-anak sehingga tokoh-tokohnya dibuat menarik dan simbolis. Sebagai contoh, untuk menggambarkan tokoh yang cerdik dan cekatan, fabel biasanya menyimbolkannya dengan binatang kancil atau monyet. Tokoh dengan karakter jahat, biasanya, dalam fabel digambarkan buaya atau harimau yang keduanya merupakan binatang buas.

Ketertarikan anak-anak dengan binatang ternyata sangat tinggi. Itulah mengapa banyak sekali cerita-cerita dongeng anak yang menjadikan binatang sebagai tokohnya.
dalam setiap cerita anak, binatang-binatang dipersonifikasikan sebagai manusia yang memiliki karakter sehingga membuat cerita sangat menarik. Selain itu, dengan tokoh yang diperankan binatang anak jadi kaya imajinasi. Cerita sangat mudah ditangkap anak karena dalam dunia nyata mereka bertemu dengan hawan-hewan tersebut.Contohnya, dongeng Kancil dengan Buaya. Melalui cerita fabel orangtua menjadi mudah menanamkan nilai perilaku kepada anak. Anak juga mudah terhibur dan rasa empati pun muncul. Saat menikmati cerita fabel terbentuk pula kedekatan fisik dan emosi antara orangtua dan si kecil.

Secara garis besar dongeng bermanfaat bagi perkembangan psikologi anak dan keharmonisan hubungan dalam sebuah keluarga. Dimana didalamnya terjadi intraksi hubungan yang harmonis antara pendongeng (orangtua) dan yang menyimak dongeng (anak).

Apa aja manfaat yang bisa didapat?

Pertama, anak akan memvisualisasikan latar, tokoh dan keseluruhan situasi yang terjadi dalam sebuah dongeng, sehingga daya kreativitasnya dalam berimajinasi akan senantiasa dipicu. Dari sini maka jika dongeng di berikan dengan kontinuitas yang relatif stabil maka daya kreasi anak pun akan semakin terpicu untuk lebih kreatif lagi. (Dengan kata lain dongeng ini bisa mengasah daya fikir dan imajinasi anak).

Kedua, metode penyampaian pesan moral yang efektif. Mengintip keberhasilan orang tua dalam menyampaikan pesan moral atau wejangan melalui dongeng memang sudah menjadi sebuah alasan dongeng kembali di galakan. Dalam hal ini, nasihat atau pesan pesan moral yang disampaikan orang tua kepada anaknya, akan lebih cepat diresapi dan diterima oleh pendengar (anak anak) melalui dongeng. Kemasan cerita yang di pilih memang menjadi salah satu penentu muatan moral yang disampaikan.

Ketiga, menumbuhkan minat baca. Anak usia pra-sekolah yang kerap kali mendegarkan dongeng, akan terpancing untuk mencari dan membaca cerita yang telah di dengarnya tersebut ketika dia telah bisa membaca. Dari sini diharapkan anak yang diawali dengan membaca dongeng tersebut akan terpancing untuk membaca buku/tulisan yang lebih variatif seperti sains, sosial budaya, agama dan sebagainya.

Keempat, Dongeng menjadi sebuah jembatan spiritual yang mengarah pada kedekatan emosional antara pendongeng dan penyimaknya. Dalam hal ini orang tua sebagai pendongeng akan mendapat nilai plus dari anaknya, sehingga kedekatan emosional itu menjadi sebuah manfaat yang secara tidak langsung diperoleh dari aktifitas mendongeng. Tak dapat dipungkiri penulis sebagai contohnya merasakan begitu hanyatnya seorang ibu waktu dulu menceritakan dongeng, sehingga pada saat ini sosok ibu menjadi sorang yang angat dirindukan.

Kelima, memicu daya kreatifitas dan memancing wawasan luas bagi orang tua. Daya kreatifitas berfikir anak yang telah diberikan dongeng, bisa memicu dan menimbulkan rasa keingin tahuan yang begitu banyak. Maka orang tua senantiasa dituntut untuk mencari jawaban atas semua pertanyaanya. Selain itu orang tua juga akan diasah kreatifitasnya dalam penyampaian jawaban, karena baik kosakata maupun kejadian yang berlangsung tidak bisa diterima/dimengerti oleh anak pada beragam usianya. Sehingga orang tua akan mengalami perkembangan wawasan dan kreatifitas yang drastis.

Dengan demikian mari kita budayakan kembali mendongeng sebagai salah satu budaya yang memilki nilai nilai pelestarian budaya yang luhur ini. Selain itu sisi positifnya yang ada antara perkembangan psikologi anak, perkembangan wawasan orang tua, serta hubungan antara orang tua dan anak bisa menjadi salah satu alasan untuk kita membiasakan mendongeng kepada anak. (Vanessha Afifah G)

Komentar

komentar