Antara Sikap Tegas dan Marah

Ilustrasi. (Istimewa)

Tegas dan marah merupakan dua hal yang sangat berbeda maknanya, tetapi dalam praktek keseharian banyak yang keliru membedakan antara keduanya.

Dalam kamus KBBI tegas berarti: 1) jelas dan terang benar; 2) tentu dan pasti (tidak ragu-ragu lagi, tidak samar-samar).

Dan bisa ditarik kesimpulan bahwaTegas adalah suatu bentuk sifat akibat dari suatu tindakan yang diambil dalam suatu keputusan, dalam banyak kejadian. Aktifitas tegas ini biasanya dikeluarkan setelah melalui suatu perhitungan atau analisa yang telah dilakukan.terkadang aktifitas tegas ini memang tidak jarang diikuti aktifitas marah, nah agar kita bisa menjalankan perintah Rasul SAW untuk tidak marah, sebagaimana dikutip dr hadist beliau”لاتغضب ولك الجنة” yang artinya: “janganlah kamu marah, maka bagimu syurga” maka kita harus tau apa definisi dari marah itu sendiri.

Menurut KBBI marah berarti:sangat tidak senang (karena dihina, diperlakukan tidak sepantasnya, dan sebagainya); berang; gusar. Dengan demikian marah bisa diartikan suatu bentuk sifat akibat tidak sesuainya suatu kondisi yang diharapkan, akan tetapi dalam banyak kejadian aktifitas marah tidak selalu diikuti suatu keputusan. Aktifitas marah ini biasanya dilakukan secara spontan dan tanpa perhitungan atau analisa yang dilakukan.

Dari definisi antara tegas dan marah menurut kbbi diatas, merupakan dua hal yang sangat jauh berbeda, dapat diambil kesimpulan bahwa, tegas berarti melaksanakan kesepakatan tanpa kompromi, jadi jika kita ingin bersikap tegas, perlu ada kesepakatan dan aturan main terhadap orang yang akan kita beri ketegasan. Jika belum ada kesepakatan aturan antara kedua belah pihak, maka itu cenderung ke sifat marah. Ciri- ciri utama yang membedakan antara tegas dan marah adalah apabila setelah melakukannya kita menyesal, berarti itu indikasinya marah dan kelepasan atau out control, sementara jika tegas kita tidak menyesal karna semua apa yang telah kita lakukan sudah tetencana berdasarkan kesepakatan bersama, dan bukan reaksi sepontan semata.

Selanjutnya bagaimana pandangan islam terhadap tegas? Bersumber firman Allah Swt, QS: At Tahrim ayat:9 yang artinya:“Hai Nabi, Berjihadlah ( perangilah ) orang-orang kafir dan orang-orang munafiq itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-seburuknya ”.

Selain itu, Allah SWT memuji para Shahabat Nabi karena sikap keras mereka terhadap kaum kafir dan berkasih sayang terhadap sesama. Firman AllahSWT yang artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka ” (Al-Fath : 29).

Keras disini bukan diartikan dlm konotasi yang negatif, tetapi identik kepada ketegasan yang pastinya bersifat positif.Maksud tegas di sini ialah walau di manapun kita berada, dalam bergaul dengan orang kafir, kita tetap tegas dengan prinsip. Contohnya kalau masuk waktu sholat, kita solat, yang harus menjaga aurat, kita harus menjaga aurat,kewajiban untuk berakhlakul karimah, kita harus melaksanakannya, walau dalam keadaan apapun. Tegas itu bermakna berpegang teguh dengan syariat Islam walau di mana sekalipun. Tegas itu bukan berarti keras, kasar, marah, dan lain-lain.

Dalam kisah Umar bin Abdul Aziz ra.Khalifah Umar sangatlah tegas dan berani, tapi ketegasan dan keberaniannya tidak melupakan beliau dari bercengkrama, bercanda dengan keluarganya. Dikisahkan bahwasannya salah satu staf beliau masuk kedalam rumah khalifah Umar dan dia mendapatkan khalifah Umar sedang berbaring sedangkan anak-anak khalifah Umar sedang asyik bermain diatas perut sayyidina Umar, maka staf tersebut cuek dan tidak senang dengan kejadian tersebut, lalu khalifah Umar bertanya kepada stafnya : “Bagaimana perilaku kamu dengan keluarga kamu ?” Staf menjawab : “oh , kalau aku berbeda dengan kamu wahai Amirul Mukminin, jika aku masuk rumah maka yang awalnya berbicara langsung diam karena takut melihat aku.” khalifah Umar berkata: “Jika demikian mulai sekarang kamu saya pecat, karna kamu tidak memiliki kasih sayang kepada keluarga kamu, lantas bagaimana mungkin kamu akan berkasih sayang kepada umat Nabi Muhammad Saw .” Sumber: Al-Jawahir Al-Lu’luiyyah, Syarah Arbain an-Nawawiyah

Dan dikisah lain dalam sebuah peperangan ketika Da`tsur mengangkat pedang di atas kepala Rasulullah, Da`tsur bertanya, “Sekarang siapa yang akan menyelamatkan engkau wahai Muhammad?” Rasulullah dengan spontan menjawab, “Allah!”tiba-tiba pedang dari tangan Da`tsur trjatuh lalu diambil oleh Rasulullah. Lalu Rasulullah bertanya kepada Da`tsur, “Sekarang siapa yang bisa menyelamatkan engkau?” Da`tsur berkata, “Tidak ada seorangpun yang bisa aku aku harapkan.” Rasulullah memaafkannya, walaupun Rasulullah berhak untuk membunuhnya serta tidak salah jika Rasulullah berbuat demikian. Tapi setelah Rasulullah memaafkannya lalu Da`tsur lalu masuk Islam.

Ini menunjukkan tegas dengan orang kafir itu bererti tegas dengan prinsip. Artinya, suka memaafkan itu merupakan prinsip Rasulullah. Di mana dan di dalam suasana apa pun, beliau memaafkan kerana memaafkan itu prinsip. Beliau bisa mempertahankan prinsipnya dalam suasana apapun.Sedangkan kalau seandainya kita, jangankan orang telah mengangkat pedang mau membunuh kita, baru orang yang membuat kita kesalpun kita susah untuk memaafkan. Sedangkan Rasulullah pemaafnya begitu luar biasa. Begitulah tegasnya Rasulullah dengan prinsip.

Dan bagaimana pula pandangan islam terhadap marah??? Sebagaimana sabda Raaulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri, “Sebaik-baik orang adalah yang tidak mudah marah dan cepat meridhai, sedangkan seburuk-buruk orang adalah yang cepat marah dan lambat meridhai.” (HR. Ahmad). Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.”Orang yang kuat tidaklah yang kuat dalam bergulat, namun mereka yang bisa mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Malik).kemarahan Nabi itu memang disebabkan oleh beberapa hal. Namun dapat dipastikan, kesemuanya bermuara pada satu sebab, yaitu sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan agama, bukan kepentingan pribadinya. Nabi perlu marah untuk memberikan penekanan bahwa hal tertentu tak boleh dilakukan umatnya. Dan sangat jarang ditemukan atau bahkan tidak ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW marah dikarenakan harga diri atau kepentingan pribadi beliau.

Dalam artikel ini penulis memohon kepada Allah swt agar kita dapat bijaksana dalam bersikap, karena sejatinya perbuatan yang kita lakukan akan menjadi kebiasaan dan kebiasaan akan menjadi karakter, dan apa karakter kita, itulah yang menjadi sudut pandang orang lain terhadap kita, semoga hari demi hari kita selalu dapat memperbaiki diri dengan memaafkan orang lain dan intropeksi diri. (Fatimah Azzahra)

Comments

comments