Antara Keinginan dan Takdir

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Rahma Nufaisa

Keinginan merupakan sesuatu yang ingin kita miliki. Sebuah keinginan melahirkan kemauan keras untuk mendapatkannya. Kemauan keras inilah yang dapat dikatakan sebagai pemberi kekuatan untuk memperoleh apa yang dicita-citakan.

Yang dapat membedakan manusia dengan hewan salah satunya adalah hawa nafsu yang dapat menimbulkan keinginan. Setiap orang pastilah memiliki keinginan, contohnya berkeinginan untuk menjadi orang sukses dan terpandang, berkeinginan untuk pergi keluar negeri atau bahkan berkeinginan untuk menjadi orang kaya yang dermawan. Hal tersebut lumrah dan tak dapat disalahkan.

Salah satu yang dapat dilakukan untuk merealisasikan keinginan kita adalah dengan cara memiliki tekad yang kuat dan mengaplikasikannya dengan kerja keras. Pada akhirnya semua kerja keras yang dilakukan manusia tergantung oleh takdir dan kehendak Allah, karena sekuat apapun yang kita lakukan, kita hanyalah hamba-Nya yang lemah dan terbatas.

Walau demikian, bukan karena takdir kita sudah ditentuan sejak lama, kita hanya bisa menerima takdir dengan berdiam diri dan bermalas-malasan tanpa melakukan sesuatu apapun. Karena manusia tak akan tahu apa takdir yang telah Allah tentukan, sampai Allah sendiri yang akan memberitahukan dengan caranya diujung usaha kita.

Kerja keras yang kita lakukan haruslah berlandaskan dengan iman yang kuat. Karena iman inilah yang menentukan apakah seseorang itu menerima atau tidak takdir yang Allah SWT berikan. Menerima takdir baik ataupun buruk membuat hati tenang yang tidak akan menimbulkan sikap putus asa bahkan menyalahkan diri sendiri.

Manusia berlomba-lomba untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan usaha dan doa. Hanya Allah yang akan memutuskan apa hasil yang akan didapatkan manusia setelah semua usaha dan doa sudah dikerahkannya dan itulah takdir sebenarnya.

Takdir adalah hal ghaib yang hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya, “Dan di sisinyalah alam ghaib, tidak ada yang mengetahui kecuali Dia (Allah) sendiri.” (Q.S. Al-An’am : 59)

Segala sesuatunya tergantung pada kehendak Allah semata. Oleh karena itu, bila Allah telah menetapkan takdirnya pada seseorang, entah itu sesuai dengan keinginannya ataupun tidak, dia haruslah menerimanya dengan ikhlas disertai prasangka baik pada-Nya. Dengan begitu, dapat dikatakan dia telah mengimani rukun iman yang ke 6, yaitu percaya kepada Takdir Allah.

Allah tidak akan menakdirkan sesuatu yang buruk pada hambanya, semua tergantung presepsi hambanya menganggap itu baik atau buruk. Walau sejatinya yang telah Allah berikan kepada hambanya adalah yang terbaik dari semua pilihan baik yang Allah miliki.

Comments

comments