Unindra Rintis Generasi Peneliti Bahasa dan Sastra

Seminar Presentasi Ilmiah bertajuk “Menciptakan Generasi Muda yang Kritis, Kreatif, dan Inovatif melalui Penelitian”

JAKARTA – Di tengah makin maraknya ujaran dan dinamika bahasa di media sosial, sudah saatnya mahasiswa merintis generasi peneliti Bahasa dan Sastra Indonesia. Tekad ini tercermin dalam acara Seminar Presentasi Ilmiah bertajuk “Menciptakan Generasi Muda yang Kritis, Kreatif, dan Inovatif melalui Penelitian” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) pada Senin 28 Agustus 2017 di Kampus Unindra Jakarta.

Melalui acara ini, ada 12 mahasiswa peserta mata kuliah Penellitian Bahasa dan Sastra mempresentasikan proposal penelitian untuk menajamkan konten secara ilmiah. Tampil sebagai pembicara utama dalam seminar ini, Drs. Syarifudin Yunus, M.Pd. (Dosen Unindra) yang menyajikan topik “Berpikir dalam Penelitian” yang dihadiri sekitar 200 mahasiswa dan 25 dosen.

“Saat ini dinamika bahasa dan ujaran dalam berbagai teks semakin marak. Kondisi ini harus diimbangi dengan hadirnya generasi peneliti bahasa dan sastra. Untuk itu, penellitian sebagai sebuah tradisi ilmiah di kampus harus dioptimalkan” ujar Syarifudin Yunus dalam peresentasinya.

Menyadari pentingnya keberadaan perguruan tinggi, Unindra bertekad meningkatkan aktvitas penelitian mahasiswa, di samping merintis “jalan untuk membangun tradisi ilmiah”. Kegiatan membaca, menulis, diskusi, presentasi, tanya-jawab, dan penellitian harus tetap hidup di lingkungan kampus.

“Di era milenial dan masa datang, mahasiswa wajib menjunjung tinggi sikap kritis (bertanya), kreatif (berbeda), dan inovatif (terobosan baru) sebagai landasan pentingnya cara berpikir ilmiah. Jika demikian, maka penelitian menjadi hal yang mudah dilakukan” tambah Syarifudin Yunus.

Unindra menyadari tradisi ilmiah hanya akan hadir dari cara berpikir dan rasa ingin tahu yang diwujdukan dalam perbuatan ilmiah. Oleh karena itu, mau tidak mau, penelitian di kalangan anak muda harus menjadi tuntutan nyata, bukan lagi tontonan. Karena hasil penelitian, pastinya akan dapat mengubah keadaan ke arah yang lebih baik, khususnya bagi ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai bahasa nasional.

Comments

comments