Beranda Ekonomi Syariah Tren Halal Lifestyle di Indonesia

Tren Halal Lifestyle di Indonesia

Ilustrasi. (Istimewa)

Halal lifestyle kian menarik terutama bila membicarakan kompatibilitasnya dengan berbagai global tren lainnya, mulai dari prinsip bisnis yang etis hingga cara pemasaran yang memperjuangkan values tertentu. Itu sebabnya, selain populer di kalangan Muslim, produk dan jasa yang tadinya dikembangkan untuk mengakomodir konsumsi sesuai dengan tuntunan agama islam. Kaum muda muslim masa kini pun, berfikir bahwa masa depan bukan hanya untuk urusan dunia, tapi juga akhirat. Inilah yang menjadi pembeda, mengapa kemudian jumlah kaum muda Muslim yang mau mengikuti tuntutan ketat mengonsumsi produk dan jasa dari beragam sektor industri semakin menjadi tren.

Sebut saja, Islamic banking sebagai ethical banking pascakrisis keuangan global di tahun 2008. Begitu pula dengan panduan konsumsi makanan dan minuman, yang akhirnya memicu kreativitas pemanfaatan bahan makanan dan pembuatan menu makanan bagi para pemain. Belum lagi mengenai sejumlah pelabuhan utama di dunia, termasuk di negara-negara mayoritas non Muslim, yang menjamin sebuah sistem logistik halal.

Tak salah bila mengatakan Halal Lifestyle menjadi varian baru global pop culture dan pasar yang menjanjikan. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Thomson Reuter dan sebuah lembaga ekonomi di Dubai, nilai bisnis terkait Muslim sedunia dengan jumlah 1,8 miliar pada tahun 2014 diperkirakan mencapai US$ 1,8 triliun. Nilai tersebut akan menjadi US$ 2,6 triliun pada tahun 2020! Jelas ini sebuah pasar yang terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.

BACA JUGA:  Kiat Mengelola Bisnis Dengan Potensi SDM Berbasis Syari’ah

Melihat perkembangan gaya hidup halal di Indonesia khususnya menjadi penting, karena halal bukan lagi sekedar hukum wajib bagi umat Islam. Industri halal yang menyokong gaya hidup halal sudah jadi fenomena global yang tak akan mungkin dinafikan oleh Indonesia. Mengutip data Global Islamic Economy (2015-2016) Sapta yang juga pemrakarsa hadirnya media Halal Lifestyle, menyebutkan ada 10 sektor yang secara ekonomi dan bisnis berkontribusi besar dalam industri halal. Yakni sektor industri makanan, wisata dan perjalanan, pakaian dan fashion, kosmetik, finansial, farmasi, media dan rekreasional, kebugaran, pendidikan dan seni budaya.

Bagaimana dengan Indonesia? Muslim Indonesia adalah heterogen. Terbukti selama bertahun-tahun terjadi perbedaan tanggal awal dan akhir puasa serta perayaan Lebaran. Porsi kaum Muslim muda Indonesia yang di bawah 30 tahun juga dominan. Bisa dibilang, kaum Muslim Indonesia kini juga lebih sejahtera dibandingkan generasi orang tuanya.

BACA JUGA:  Tantangan Utama Perbankan Syariah

Belakangan, segmen muslim di Indonesia makin membesar. Hal itu ditandai dengan tren hijabers, busana muslim, hingga produk makanan halal yang makin marak.

Kita telah mengetahui bahwa Indonesia mempunyai segudang potensi yang bisa dijual terkait dengan trennya halal lifestyle dalam tataran global, maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana caranya agar potensi tersebut bisa dioptimalisasikan. Supaya potensi tersebut bisa diakselerasikan dengan pertumbuhan halal lifestyle dalam ranah global. Sebab jangan sampai ladang besar yang penuh harta karun bernama halal lifestyle ini direbut oleh negara lain. Sumberdaya kita sudah sangat melimpah, baik sumberdaya manusia (SDM) maupun sumberdaya alam. Maka kita harus mampu mengelola sumberdaya tersebut secara optimal. Sehingga nantinya kita bisa memenuhi kebutuhan pasar akan halal lifestyle, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri.

Menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia bukalah sesuatu yang mustahil. Bahkan Indonesia sangat berpeluang mendapatkannya. Tinggal bagaimana kita mengelolanya, apakah kita bisa mengelola dengan baik dan benar sehingga Indonesia sebagai pusat industri halal lifestyle benar terwujud, tidak hanya sekedar wacana. Jika itu bisa terwujud, maka akan mudah bagi kita menarik para miliarder Muslim dari Timur Tengah yang kaya raya itu untuk bisa datang ke Indonesia, berwisata halal di Indonesia dan menghabiskan uangnya di sini. Ini akan menjadi pemasukan bagi keuangan negara dan juga bagi para stakeholder halal lifestyle di Indonesia.

BACA JUGA:  Bisnis Syariah Dilandasi dengan Sumber Daya yang Syariah

Akhirnya, dibutuhkan dukungan dari semua pihak untuk mendorong akselerasi tren halal lifestyle di Indonesia, sehingga di kemudian hari Indonesia benar-benar bisa menjadi pusat pengembangan industri halal lifestyle dunia. Perlu adanya kerjasama yang baik dari berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengembangan halal lifestyle seperti pemerintah selaku pemangku kebijakan negara dan masyarakat umum sebagai pelaku sekaligus objek dalam pengembangan industri halal lifestyle. Peluang Indonesia sangatlah besar, akselerasi pertumbuhan tren halal lifestyle diharapkan bisa menjadi jawaban bagi besarnya tersebut. InsyaaAllah!

Komentar

komentar