Beranda Warga Bicara Tidak Ragu dalam Kebenaran

Tidak Ragu dalam Kebenaran

Oleh : Firdaus Bayu (Akifis Remaja Masjid)

Dalam hidup ini, adakalanya kita merasa tersudut tatkala berjalan di arah yang benar. Tampil beda di tengah kerumunan orang adalah hal yang menuai konsekuensi. Ada yang menerima, ada pula yang membenci. Ketika pujian dan dukungan datang, kita akan menjadi lebih percaya diri. Namun saat hinaan dan halangan menimpa, saat itulah hati kita harus kuat menghadapinya. Bagi jiwa yang telah mematapkan diri di jalan kebenaran dengan segenap konsekuensinya, hal itu tidak akan mengubah sedikitpun langkahnya. Tetapi jiwa yang menjadi ragu, boleh jadi itu pertanda iman yang belum penuh.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (TQS. Al Hujurat : 15). Tidaklah merugi bagi kita untuk sesekali merenung dan bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita beriman secara benar? Yang tidak ragu sedikitpun dalam berbuat baik, dan tidak mengeluh atas cobaan apapun yang datang mencerca.

Memang tidak mudah menetapi agama di akhir zaman. Banyak fitnah berseliweran. Tidak sedikit pengaruh negatif yang hadir membuat bimbang. Inilah akhir zaman, kebenaran perlahan tertinggal, kedzaliman semakin sombong dan menyandungi orang-orang yang lemah. Karena itu, tidak sedikit dari manusia beriman yang kemudian terpental menjauh dari agamanya. Beriman hanya di lisan, tak sampai ke dalam hati, apalagi tertuang dalam praktik hidup sehari-hari. Dimanapun kita berada, cobaan itu selalu ada. Bagaimanapun kita berupaya istiqomah, cemoohan para pendengki akan tetap ada. Sejak dahulu, perjuangan selalu beriringan dengan halangan. Iman senantiasa bersalipan dengan nafsu. Inilah salah satu dari sekian banyak hal yang patut kita perjuangkan, istiqomah dan tidak ragu-ragu dalam kebenaran, apapun cobaan yang terjadi.

Keraguan itu terbentuk dari pandangan yang tidak utuh, dan pandangan tidak utuh itu sangat dipengaruhi oleh angan yang belum terbukti. Seseorang yang telah memilih jalan kebaikan, sebetulnya ia telah memiliki kejernihan hati. Namun di tengah perjalanannya, akan ada saja kekhawatiran yang perlahan datang membisiki dan membuatnya ragu, dan membuat hatinya keruh. Di saat itu, maka mengembalikan semuanya ke standar keimanan adalah solusi tepat. Apapun yang Allah perintahkan, itulah yang kita kerjakan. Yakinilah bahwa hal itu akan memperteguh keimanan. Sebaliknya, apa saja yang Allah larang, itulah yang harus kita hindari. Percayalah bahwa menghindari yang Allah haramkan sama dengan menghilangkan gangguan iman.

Perlu kita tahu, setiap keraguan adalah celah untuk tidak selesainya sebuah pekerjaan, dan sebagian di antaranya adalah penyebab kegagalan. Maka, janganlah kita mudah menjadi peragu, selagi apa yang kita genggam adalah kebenaran. Tidak pernah ada jalan buntu bagi para penuntut ilmu. Apabila kita temui sesuatu yang belum kita pahami, maka bertanya adalah jalan untuk mengerti. Jika kita belum yakin, maka membuktikan adalah cara untuk membuat yakin. Karena itu, jangan lagi ragu-ragu menetapi kebenaran. Beristiqomahlah di jalan takwa, membuang ragu yang selalu mengganggu. Semoga Allah swt. memudahkan jalan kita semua. Aamiin.

Komentar

komentar