Sepetik Kisah Perjuangan dari Sawangan Depok

Ilustrasi. (Istimewa)

Menjelang perayaan kemerdekaan RI, suasana menjadi berwarna merah putih. Jalan – jalan dihiasi dengan bendera dan gelas plastik yang berwarna seragam, yaitu merah dan putih. Beberapa pintu masuk gang dibuat gapura dengan hiasan kalimat – kalimat yang membakar semangat. “ merdeka! ”, “ Merdeka atau mati ”, dan kalimat lainnya seakan membawa kita kembali kepada masa dimana Indonesia harus berjuang melawan penjajah dan mengusirnya adalah sebuah tujuan yang hakiki.

Tak terkecuali Kota Depok, kota yang sekarang berslogan friendly city ini juga memiliki sejarah dalam memerdekakan Indonesia. Sebut saja Jembatan Panus, Tugu Sawangan, dan komplek Jalan Pemuda yang banyak meninggalkan sisa peninggalan Belanda saat itu. Beberapa jalan di Kota Depok juga banyak yang menggunakan nama para pahlawan yang ikut andil dalam merebut kemerdekaan, Tole Iskandar, Margonda, dan Muchtar adalah salah satu sosok bahwa Kota Depok juga memiliki pahlawan.

BACA JUGA:  Peluang Bisnis Kota Depok

Salah satu kisah heroik para pahlawan Kota Depok bertempat di Sawangan. Di daerah sawangan dibuat sebuah tugu batu yang menandakan perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda pada masa itu. “ Disini tentara NICA (Belanda) pada bulan Nopember 1945 pernah dihancurkan oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat), para pemuda pejuang bersama Rakyat wilayah Sawangan dalam Perang Kemerdekaan. Sawangan, 29 Desember 1979, ditandatangani Bupati Kdh Tkt II Bogor, H. Ayip Rugats. ” begitulah isi dari tulisan pada batu yang berwarna hitam di persimpangan jalan Sawangan itu.

Dilansir dari tweet Sawangan Bojongsari @info_swg_bjong, diceritakan bahwa Pada Waktu 1945 Warga Sawangan dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang di pimpinan oleh Basyir beramai-ramai membuat jebakan bagi musuh. Dengan menggali tanah untuk dijadikan parit, dan kini dijadikan kali yang ditembus sampai Pesanggerahan diberi nma Kali Caringin yang berlokasi dekat Parungbingung. Ketika sekutu terdiri dari balatentara Inggris diboncengi Belanda akan masuk wilayah Sawangan, Maka mobil perang yang diisi para serdadu Sekutu pun sebagian tersungkur masuk parit. Selanjutnya warga Sawangan dan TKR menyerbu. Alhasil, para pnjajah asing itu sebagian kembali lagi ke Batavia dan mereka gagal menguasai Sawangan. Kembalinya Belanda ke Sawangan rupanya, dilatarbelakangi aset kekayaan yang dikelola Von Baron asal Belanda. Wilayah ( kecamatan ) Sawangan yang dipenuhi kebun karet saat itu, merupakan tempat mengolah hasil kebun karet ( yang kini ditandai oleh Gentong Besar). Setelah kejadian tersebut, maka tempat tersebut dijadikan saksi sejarah dan dijaga oleh warga sekitar sebagai warisan sejarah serta dibuat tugu batu sebagai simbol pengingat akan perjuangan para TKR dan warga Sawangan kala itu.

BACA JUGA:  Tips Daftar Haji dan Umroh yang Aman

Kini, tugu yang berada di persimpangan Sawangan itu selalu dirawat dan dijaga kebersihannya. Terlihat apabila beberapa perayaan hari besar seperti Hari Pahlawan tugu itu dicat ulang dan rumput yang tumbuh dicabut. Semua itu dilakukan agar warga Kota Depok, dan Sawangan dapat terus mengingat kisah heroik tempat tinggalnya. Seperti kalimat yang disebutkan oleh Ir. Soekarno, Presiden Indonesia pertama pada pidato HUT RI tahun 1966 yaitu “ Jangan Sekali–kali melupakan sejarah ”.

Ditulis oleh: M. Fahru Rhozi, Mahasiswa STEI SEBI

Komentar

komentar