Pentingnya Menjaga Lisan

Ilustrasi.

Oleh: Ummi Latifah Mardatillah

Sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim dan muslimah untuk menjaga lisan kita. Karena lisan adalah cerminan bagi diri kita. Orang akan menilai kita dari lisan kita. Jika lisan kita baik maka orang lain bisa saja menilai kita baik namun jika lisan kita buruk orang lian bisa saja menilai kita buruk. Karena keselamatan seorang muslim dan muslimah itu terletak pada lisannya. Dan lisan itu bak binatang buas yang jika salah melepaskannya akan sangat sakit bila mengenai orang lain.

“من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيرا او ليصمت”

Rasulullah saw bersabda:”Barangsiapa beriman kepada kepada Allah dan hari akhir, maka katakannlah yang baik atau diam”.

Sebagai seorang muslim kita wajib mengikuti jejak Rasulullah SAW salah satunya menjaga lisan. Karena jika kita tidak bisa menjaga lisan kita diam itu lebih baik.

Allah SWT berfirman:
وقل لعبادي يقولوا التي هي أحسن ان الشيطان ينزع بينهم ان الشيطان كان للانسان عدوا مبينا””

”Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaithan itu menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. (QS: Al-Isra’:18)

Dikisahkan pada zaman Rasulullah yaitu terdapat dua sahabat yakni Bilal dan Abu Dzar. Pada suatu hari Bilal berjalan disuatu tempat dan ia bertemu dengan Abu Dzar. Kemudian Abu Dzar memanggil Bilal dengan sebutan Ibnul Aswad (anak yang berkulit hitam) akan tetapi Bilal tidak menoleh ataupun menyahuti panggilannya. Lalu, Bilal menemui Rasulullah dirumahnya dan mengadukan kejadian yang baru saja ia alami. “Assalamu’alaikum Ya Rasulullah”. Lalu Rasulullah membukakan pintu dan menjawab salam Bilal dan Rasulullah melihat raut wajah Bilal yang muram dan Rasulullah bertanya kepada Bilal. “Ada apa wahai Bilal? Kenapa denganmu wahai Bilal?”. Bilal menjawab.”Ketika saya bertemu sahabat Abu Dzar, ia memaanggil saya dengan sebutan Ibnul Aswad (anak yang hitam) namun saya tidak menoleh atau menyahutinya dan saya sadar bahwa saya ini hitam. Saya juga sadar bahwa kedua orang tua saya juga hitam. Dan saya juga sadar bahwa saya berasal dari daerah yang mayoritas penduduknya adalah berkulit hitam, akan tetapi sungguh ya Rasul, saya tidak ingin dipanggil dengan sebutan itu”. Rasul yang mendengar cerita Bilal tampak sedih dan Rasul berkata ”wahai Bilal carilah Abu Dzar dan katakan bahwa Rasulullah ingin bertemu dengannya”. Mendengar itu, Bilal pun mencari Abu Dzar dan mengabari pesan dari Rasulullah. Setelah mendegar kabar dari Bilal, Abu Dzar langsung menemui Rasulullah dirumahnya. Sesampainya dirumah Rasul, Abu Dzar mengetuk pintu dan memberi salam dan Rasulullah menjawabnya serta mempersilahkan ia untuk masuk kedalam rumahnya dan Rasul pun bertanya “apa benar wahai Abu Dzar, engkau bertemu dengan bilal?”. “ Benar wahai Rasulullah”, Abu Dzar menjawab, kemudian Rasul bertanya lagi “apa benar engkau memanggil Bilal dengan sebutan Ibnul Aswad?”, “Benar wahai Rasul”, Rasul lantas berkata, “sesungguhnya didalam dirimu masih ada sifat jahiliyah, dan sekarang meminta maaflah kepada Bilal karena saat ini dia sedang sakit hati atas ucapanmu”. Setelah mendengar perkataan Rasulullah ia langsung mencari Bilal dan meminta maaf atas perkataan yang ia lontarkan dan membuat Bilal sakit hati.

Dan disini penulis ingin memberi beberapa bahaya-bahaya lisan, diantaranya:

  • Ghibah
  • Dusta
  • Namimah
  • Janji palsu
  • Berkata yang tidak bermanfaat dan kotor
  • Saudaranya syetan

Dari kisah diatas kita bisa mengambil hikmah bahwa menjaga lisan itu sangat penting bagi seorang muslim dan muslimah. karena lisan dapat menyakiti hati orang lain walaupun maksud kita tidak ingin menyakiti hari orang lain.

Semoga dengan kisah diatas kita dapat menjaga lisan kita lebih baik lagi. Dan semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin.

Referensi:
www.ummi-online.com – kisah –abu-dzar
Modul Tarbiyah Islamiyah

Comments

comments