Mengambil Sebuah Kesempatan

Ilustrasi. (Istimewa)

Ketika sebuah kesempatan itu hadir, maka ada baiknya seorang insan merenungkan segala yang bisa dicapainya. Sebaiknya hal itu dilakukan dengan cepat. Karena kesempatan itu selalu datang di waktu yang tepat dan tidak terlambat. Jangan biarkan sekat ada diantara hati dan pikiran kita. Karena jika kesempatan itu hilang, maka artinya kita telah menyia-nyiakan anugerah yang Allah berikan.

Ibarat burung bangau yang diberi ikan sebagai umpannya saja tak pernah mengeluh. Bahkan mungkin hal tersebut tak pernah terbesit di pikiran kita. Mengapa burung bangau itu menerimanya? Karena itulah kesempatannya. Allah memberikan burung bangau tersebut kesempatan agar dia dapat menghilangkan laparnya. Dan mari kita lihat… apakah ada kita temui kasus tentang burung bangau yang memangsa ternak? Atau… binatang darat lainnya yang dapat dijangkaunya sebagai mangsanya. Lalu mengapa kita yang diberi akal justru terlalu banyak berfikir, terlalu banyak meminta, bahkan bernegosiasi dengan Allah?

BACA JUGA:  Indahnya Bersyukur

Inilah problematika dasar yang sering kita temui bahkan kita alami sendiri di kehidupan ummat sekarang. Kesempatan adalah pesan, jika menerimanya saja kita tidak mampu lalu bagaimana kita dapat membaca dan memahami maksudnya? Bahkan hingga ke tahap akhir yaitu membalas pesan tersebut. Kesempatan yang Allah hadirkan ialah sebuah pesan manis.

Saya teringat dulu ketika saya masih duduk dibangku SMA. Ketika itu, saya selalu dikelilingi oleh teman – teman yang sangat menyukai kehidupan dunia. Sehingga saya pun merasa saya sedang sedng berada di lingkungan yang penuh dengan kemalasan, kebodohan, dan ketidaktundukkan dengan Allah SWT.

Namun dibalik itu semua saya juga dikelilingi oleh beberapa teman yang kehadirannya begitu terangsingkan namun penuh kedamaian. Mereka yang mencintai perkumpulan majelis ilmu. Hingga hari kelulusan itu tiba, Allah menunjukkan kesempatanNYA agar saya berubah, agar saya berhijrah, dan agar saya mengetahui lebih banyak. Rasanya saya ingin benar benar bersandar saat itu. Dan Allah lah tempat yang tepat. Padahal jauh sebelum itu, saya telah berfikir tentang begitu kontrasnya gaya hidup teman – teman saya itu. Dan merasa ada yang tidak beres dan harus diperbaiki.

BACA JUGA:  Sombong Sebagai Sebuah Penghalang

Begitu saya menyadari bahwa saya harus merubah lingkungan yang ada atau paling tidak keluar dari zona nyaman ini. Dengan semua kemampuan yang saya miliki, maka Allah tunjukkan jalanNYA. Hingga saya dipertemukan dengan teman – teman yang luar biasa dalam mencari amal kebaikan dan begitu menyukai diskusi dalam keilmuan. Saya mulai berfikir bahwa saya salah satu orang yang beruntung karena dapat melihat kesempatan tersebut sehingga saya tidak menyia-nyiakannya.

Sebuah keyakinan niscaya akan bertambah begitu kita telah melangkah menuju jalan yang telah diberikanNYA. Yaitu jalan yang penuh dengan lika liku namun terlalu manis urgensi dan dampaknya untuk kita. Maka dari itu jangan pernah takut dan mencobalah melihat pada diri kita sendiri adakah kesempatan yang kita lalui tanpa memanfaatkannya? Atau kita yang terlalu berleha-leha dalam menggunakan setiap hembusan nafas kita? Tidak takutkah kita akan ridho Allah yang terputus jika kita tidak pernah menghargai setiap detik kesempatan itu? Padahal Allah telah berfirman dalam Q.S Muhammad : 7
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ
Artinya: “Wahai orang – orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dengan dan meneguhkan kedudukanmu.”

BACA JUGA:  Sombong Sebagai Sebuah Penghalang

Semoga detik ini kita tersadar dan akan selalu meneguhkan jalan kita kepada Allah. Aamiin.

Ditulis oleh: Luqyana Inas Mufidah

Komentar

komentar