Beranda Warga Bicara Kejahatan Seksual pada Anak Masih Marak, Saatnya Dihentikan

Kejahatan Seksual pada Anak Masih Marak, Saatnya Dihentikan

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh : Firdaus Bayu (Direktur Pusat Kajian Multidimensi)

PS (45) ditinggal istrinya mencari nafkah sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong selama 17 tahun terakhir. Tetapi saat sang istri bekerja keras di negeri orang demi keluarga, suaminya malah melakukan perbuatan bejat. PS melakukan perbuatan cabulnya kepada anak tetangganya sendiri yang masih di bawah umur. Bahkan korban yang masih berusia 14 tahun dan duduk di bangku SMP, melahirkan anak dari benih perbuatan PS. Pria yang sehari-hari melayani jasa service sepeda itu akhirnya diamankan petugas kepolisian Polsek Kromengan, Minggu (27/8). PS harus mempertanggungjawabkan perbuatannya atas aksi yang dilakukan sebanyak enam kali itu. “Saya melakukan di rumah sebanyak 6 kali. Istri saya bekerja di Hongkong sudah 17 tahun,” kata PS di Markas Polres Malang di Kepanjen, Senin (28/8). (malang.merdeka.com, 29/08/17).

BACA JUGA:  Dukung Program Kota Layak Anak, Wali Kota Instruksikan ASN Sumbang Buku

Di atas adalah salah satu berita kasus seksual terbaru di negeri ini. Jika kita buka media, baik cetak atau elektronik, di televisi maupun online, akan dengan mudah kita temui berita pornografi dan pelanggaran seksual lainnya seperti di atas. Hampir setiap menit kabar kasus semacam itu bertambah. Sekali lagi, berita di atas hanyalah salah satunya.

Mungkin tidak ada yang tahu persis, berapa sesungguhnya jumlah kasus yang pernah ada di negeri ini, sebab setiap saat kasus-kasus baru selalu bermunculan dan tidak semuanya berhasil terdokumentasi dalam rekapan. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise menyatakan kasus pencabulan anak yang terlapor hingga 2016 mencapai 5.769 kasus. Sementara Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (PA) Agust Merdeka Sirait memaparkan, sepanjang tahun 2015 – 2016, ada 261 ribu kasus pencabulan dan 58 persennya dialami oleh anak di bawah umur. Benar-benar parah!

BACA JUGA:  Anak Pengungsi Rohingya: "Apa Kegiatan Anak-anak Indonesia?"

Ada banyak motif yang melatar belakangi para pelaku pencabulan menjalankan aksinya. Hal itu bisa terjadi lantaran dipicu pornografi, kurangnya perhatian istri, atau faktor lain. Yang jelas, lingkungan begitu mendominasi dalam mempengaruhinya, dan negara tentu saja bertanggung jawab atas itu semua. Dalam kasus di atas misalnya, pelaku melakukan tindakan bejatnya lantaran ditinggal istri bekerja ke luar negeri sebagai TKW selama 17 tahun. Umumnya, pemicu seseorang rela bekerja jauh ke luar negeri adalah faktor ekonomi, begitu pula nampaknya yang sang istri dalam kasus di atas alami.

Karena negara gagal memberi kesejahteraan, warga dibiarkan nekat membanting tulang ke negeri orang. Dalam hal ini, perempuan seringkali menjadi sasaran. Seorang istri yang seharusnya siaga di rumah merawat anak dan melayani suami, harus rela merantau jauh demi mencari suapan nasi. Jika sudah demikian, kebutuhan biologis seorang suami turut harus dikorbankan. Sebagai sebuah kebutuhan, hasrat seorang suami tentu membutuhkan pelampiasan. Ketika diri merasa sepi, sementara lingkungan kian menggoda, dan kesempatan dibiarkan terbuka, maka yang terjadi adalah penyimpangan. Itu semua tentu tidak bisa dilepaskan dari keteledoran negara dalam mengatur urusan rakyatnya. Negara gagal memberi jaminan kesejahteraan pangan di dalam negeri, dan hal itu berimbas pada penyelewengan warga negaranya dalam memenuhi kebutuhan biologisnya.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Kembali Salurkan Bantuan untuk Pengungsi Rohingnya

Sungguh menyedihkan. Indonesia kita benar-benar butuh perubahan. Semoga perubahan itu segera tiba.

Komentar

komentar