Beranda Oase Galau itu Manusiawi

Galau itu Manusiawi

Ilustrai. (Istimewa)

Galau adalah keadaan pikirian di saat kacau atau tidak karuan. Ada yang bilang, galau itu adalah perasaan kacau dalam hati, bingung harus memilih, bisa juga ragu-ragu. Ada juga yang bilang, galau itu ketika orang itu tengah kosong, dan itu berasal dari hati. Ada yang mengatakan, perasaan kacau gara-gara cinta. Jika kita merujuk pada KBBI, galau diartikan dengan kacau, tidak karuan. Dapat kita menyimpulkan, galau adalah perasaan kacau, karena memikirkan masa depan atau bingung menentukan pilihan. Kegalauan manusia juga berlaku bagi mereka yang ditimpa musibah dan ujian dari Allah SWT.

Setiap manusia di dunia ini tidak pernah luput dari berbagai macam musibah dan cobaan, karena hal itu merupakan sunnatullah yang pasti berlaku bagi setiap manusia. Musibah dan cobaan yang Allah berikan kepada manusia adalah sebagai ujian baginya, apakah ia termasuk orang-orang yang bersyukur dan sabar, ataukah justru termasuk orang-orang yang kufur dan berputus asa.

BACA JUGA:  Bertebaran Dalam Kebaikan

Seorang muslim yang beriman harus senantiasa yakin bahwasanya segala macam bentuk musibah dan cobaan yang terjadi dalam hidupnya itu merupakan takdir dan ketentuan dari Allah SWT. Dan hendaknya ia yakin pula bahwa segala ketetapan yang Allah SWT berlakukan untuk dirinya maka itu adalah yang terbaik baginya. Apabila seorang hamba mempunyai keyakinan seperti ini maka Allah akan memberikan balasan kebaikan kepada dirinya yang berupa ketenangan hati, kesabaran dan ketabahan dalam jiwa, bahkan Allah akan memberikan ganti atas musibah tersebut dengan yang lebih baik.

BACA JUGA:  Nikmat yang Sering Terlupakan

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. at-Taghabun: 11)

Galau itu manusiawi, namun cara menghadapi galau menjadi pembeda antara orang mukmin dan bukan mukmin. Orang mukmin itu ketika ditimpa musibah, akan merasa tenang ketika diingatkan dengan nama Allah. Bukan orang mukmin ketika ditimpa musibah dan diingatkan dengan nama Allah hidupnya tidak tenang. Ketenangannya diperoleh dengan melakukan adventure, traveling, shopping dan hal-hal yang sifatnya materi. Ketenangan yang diperoleh dengan mengorbankan materi selalu bersifat semu, bertahan hanya sesaat dan setelah itu kembali tidak tenang. Ketenangan yang sejati hanya diperoleh dengan mengingat Allah Ta’ala. Seorang manusia dikatakan mukmin adalah manusia yang merasa bahagia dalam kehidupannya. (Syaiful Fadjri/STEI SEBI)

BACA JUGA:  Bertebaran Dalam Kebaikan

Komentar

komentar