Sifat Pemarah dan Bahayanya

Ilustrasi. (Istimewa)

Marah merupakan suatu sifat alamiah dalam diri manusia yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Lebih dari itu, marah juga dapat menunjukkan dengan tegas dan jelas bahwa kita ini adalah manusia yang penuh dengan kekurangan.

Akan tetapi, apabila rasa marah tersebut tidak dapat kita kendalikan, maka hal itu dapat merugikan diri kita sendiri dan oranglain yang ada di dekat kita.

Sebagai contoh: Saat dua orang sedang marah, hal yang biasa dilakukan adalah saling berteriak walaupun mereka berdekatan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ? karena saat mereka sedang marah, maka hati mereka saling menjauh dan untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Dan apabila semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya (karena jarak kedua hati semakin menjauh).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi pernah didatangi seorang laki-laki dan berkata: Perintahkanlah aku melakukan sesuatu, jangan memberatkan aku sehingga aku bisa menjalani. Nabi menjawab: “Janganlah marah”. Lalu lelaki itu mengulang dan mengulanginya lagi. Nabi tetap berkata: “Janganlah marah”. (HR Ahmad)

Sifat marah dapat menjadi pangkal dari munculnya perbuatan yang tidak terpuji dan sifat marah juga merupakan salah satu penyakit jiwa. Dengan rasa marah yang tertanam di dalam hati, akal yang seharusnya digunakan untuk berfikir secara rasional tidak dapat terkendalikan. Saat marah seseorang dapat beradu mulut, berbaku hantam, bahkan dapat saling membunuh.

Sebagai contoh: kisah pertengkaran bahkan pembunuhan yang pertama dilakukan di muka bumi ini, kisah antara Qabil dan Habil yang berujung kematian pada Habil (saudaranya sendiri). Qabil membunuh Habil, saudaranya karena sifar marah yang membara di dalam dirinya. Qabil marah karena ketidaksetujuannya atas pertunangan Habil dengan Iqlima yang dilakukan oleh sang Ayah (Adam).

Lalu, kerugian apa yang didapatkan dari sifat pemarah?

Selain dipandang buruk oleh manusia marah juga dapat membuat Allah swt marah dan bagi pemarah juga akan membuatnya tertunda memasuki surga.

Diriwayatkan dari Abdurrahman Ibnu Jubair, dari Abdullah IbnuAmr, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah: Perbuatan apakah yang bisa menjauhkan saya dari kemarahan Allah? Nabi menjawab: “Janganlah marah”. (HR Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Pintu surga akan dibuka setiap hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah swt akan mendapatkan ampunan kecuali seseorang yang dengan saundaranya saling membenci (marah). Lalu dikatakan (sebanyak 3 kali): “ Tangguhkan kedua orang ini sebelum mereka kembali bersaudara”. ( HR. Muslim)

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk membedung rasa marah? Cara efektif yang harus dilakukan saat sedang marah adalah dengan berdo’a, insyaaAllah dapat menghilangkan kemarahan.

Diriwayatkan dari Abu Laila, dari Mu’adz Ibn Jabal, dia berkata: Ada dua orang lelaki saling memgumpat di dekat Rasulullah, salah seorang menjadi sangat marah, sehingga seakan-akan sata melihat hidungnya pecah karena saking marahnya. Nabi lalu bersabda: “ Aku mengetahui doa, kalau diucapkan seorang yang sedang marah maka kemarahannya akan hilang. (Doa itu yaitu: ) Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan syetan yang terkutuk!” (HR Ahmad)

Selain itu, bagi setiap orang yang dapat mengendalikan kemarahannya maka Allah akan memberinya ganjaran yang besar dari Allah SWT.

Diriwayatkan dari Sahl bin Ma’adz, dari ayahnya, nabi bersabda: “ Siapa saja yang mampu menahan kemarahannya padahal ia mampu melampiaskannya, besok di Hari kiamat ia akan dipanggil Allah pertama kali, Allah lalu memberinya hak untuk memilih bidadari yang cantik dan menikmati sesuka hati”. (HR Abu Dawud)

Menahan amarah memang bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah dilakukan. Melawan hawa nafsu berupakan jihad terbesar, atas dasar itulah orang yang mampu menahan amarah akan mendapat penghormatan yang istimewa di sisi Allah swt. (Annisa Husnul Khotimah)

Comments

comments