Beranda Seputar Depok Pesantren Rutan Cilodong, Sarana Efektif Bina Narapidana

Pesantren Rutan Cilodong, Sarana Efektif Bina Narapidana

Kepala Rutan Kelas II B Cilodong Sohibur Rachman bersama jajaran TNI dan para ulama serta ustaz Kota Depok saat menghadiri acara keagamaan di pesantren yang berlokasi di dalam Rutan Cilodong. (Foto: Harianterbit.co)

DEPOK – Guna memberikan pemahaman keagamaan yang lebih intensif bagi para narapidana binaan, Rumah Tahanan Kelas II B Cilodong, Depok, Jawa Barat, membuat pesantren di dalam rutan.

Program yang sudah berjalan selama kurang lebih dua tahun terakhir ini dinilai sangat efektif sebagai upaya pembinaan iman agar para napi bisa lebih tenang dalam menjalani masa penahanannya.

Demikian ditegaskan Kepala Rutan Kelas II B Cilodong, Sohibur Rachman saat ditemui DepokPos disela-sela acara peringatan Hari Bhakti Adhyaksa ke-57 di halaman gedung Kejaksaan Negeri Kota Depok, Sabtu (22/7).

“Kita sudah melaksanakan program ini kurang lebih sudah dua tahun berjalan, bagi yang bergama Islam memang kita membuka ruang lebih untuk mereka bisa lebih taat, lebih dekat kepada yang Maha Kuasa. Dari kondisi tersebut akhirnya kami menggagas sebuah pesantren,” jelas Rachman kepada DepokPos.

Rachman juga mengatakan bahwa saat ini napi yang aktif mengikuti pembinaan di Pesantren Rutan Cilodong ada sekitar 120 orang.

“Untuk pengajar, kami menggandeng teman-teman ulama yang ada di seputar Kota Depok. Ada dari Yayasan Nurussfa’ah dan Yayasan At-Taubah. Kita bersinergi dengan mereka untuk sama-sama memberikan motivasi dan mereka mencurahkan keilmuan mereka untuk para napi,” tambahnya.

Untuk pengajaran sendiri, Rachman mengatakan intens diberikan setiap hari selama satu minggu. Kecuali di hari minggu. Peserta pembinaan lewat Pesantren ini, menurut Rachman memang belum diwajibkan dan masih bersifat ajakan. Jadi semuanya dikembalikan kepada masing-masing apakah mau atau tidak.

“Kami mengajak, jadi kembali kehati. Tugas kami dalam mengajak adalah menggugah. Kalau untuk mewajibkan mungkin arahnya nanti, kalau memang sudah waktunya. Saat ini sendiri sudah ada sekitar 120 orang napi dari total 900 orang. Paling tidak seperempatnya sudah tertarik dengan pola pembinaan kami,” jelas Rachman.

Dari segi efektifitas, Rachman menilai bahwa kegiatan ini sangat efektif untuk pembinaan berkelanjutan para napi.

“Karena orang-orang didalam ini kan bermasalah secara hukum, secara mental, secara ekonomi dan secara sosial. Ketika mereka didekatkan dengan nilai-nilai Agama, itu akan lebih nyaman dan dampaknya lebih luas karena mereka akan merasa lebih aman dan tentram berada didalam,” pungkasnya. [San]

Komentar

komentar