Upaya Mewujudkan Depok Sebagai Kota Ketahanan Keluarga Perlu Peran Serta Masyarakat

Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida saat memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu di Yayasan Al-Muhajirin, Sukmajaya, Depok. (Foto: San/Depokpos)

DEPOK – Dalam upaya perwujudan Kota Depok menjadi Kota Ketahanan Keluarga (Family Resilience City), Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus melakukan upaya-upaya serta kampanye kepada masyarakat luas terkait program yang menjadi salah satu program unggulan di Kota Depok ini terkait dengan keberhasilan dalam pendidikan anak-anak yang berkualitas.

Walikota Depok, Mohammad Idris menjelaskan bahwa program ketahanan keluarga di Kota Depok mencakup pembentukan dan pembinaan keluarga, peningkatan perlindungan sosial, dan kapasitas ekonomi keluarga, serta pembangunan Kota Layak Anak ialah program turunan yang dipersiapkan dalam rangka mewujudkan program unggulan Kota Depok ini.

“Ketahanan keluarga yang dimaksud mencakup aspek kesehatan, ekonomi, pendidikan, infrastruktur dan interaksi sosial,” jelas Idris. Ia juga mengatakan bahwa dalam upaya pewujudan program tersebut, salah satunya akan diinisiasi oleh PKK kota Depok. “PKK akan turun ke lapangan. Memberikan pelatihan bagaimana mengasuh anak, membimbing keharmonisan keluarga dan lainnya yang teknis,” ujar Idris beberapa waktu yang lalu.

Senada dengan Walikota, Ketua TP PKK Kota Depok, Elly Farida mengatakan bahwa kasus kekerasan pada anak bisa terjadi pada siapa saja. Kondisi ini harus diwaspadai sedini mungkin.

Elly menjelaskan, jika berhadapan dengan orang lain anak-anak harus menolak jika ingin disentuh pada bagian tertentu seperti, mulut, dada, bagian perut hingga lutut, serta bokong. Selain itu, jika ada yang ingin berlaku kasar, harus segera berteriak dan meminta pertolongan pada orang lain di sekitar.

“Kasus ini sudah sering terjadi dan korbannya anak-anak. Semoga ke depan tidak ada lagi kasus serupa, terlebih yang menimpa anak-anak yang tinggal di yayasan,” jelas wanita yang akrab disapa Bunda Elly ini kepada DepokPos ketika ditemui saat menghadiri grand launching Muslima Community Depok di Kelurahan Mekarjaya, Minggu (18/6/2016).

BACA JUGA:  Forum Jurnalis Muslim Luncurkan Program One Masjid One Journalist

Lebih lanjut Elly mengatakan bahwa untuk mewujudkan program ini, diperlukan peran dari semua pihak termasuk masyarakat luas agar demi mewujudkan Depok menjadi Kota layak ini bisa berjalan maksimal dengan semua kompleksitas permasalahan yang ada.

“Saya pikir akan sangat berat tanpa adanya peran serta masyarakat dengan kompleksitas permasalahan yang ada kita semua harus membantu dengan berperan serta aktif. Kemarin saya coba terobosan baru ini kepaa RT/RW pada saat pemberian intensif dengan ajakan untuk lebih aktif lagi, karena dibeberapa wilayah sudah sangat mendukung program ini,” jelas Elly.

Elly menambahkan jika permasalahan seputar anak dan remaja tidak dikelola dengan baik, maka akan menjai bom waktu dan akan merugikan semua pihak.

“Nah kemaerin ternyata Disdik dari Kemendikbud menangkap karena Depok sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) Ketahanan Keluarga dan Kota Layan Anak, mereka pun menjadikan pilot project dari Disdik ini pendidikan keluarga berbasis komite sekolah, nanti akan ada parenting yang selama ini menjai pendukung. Karena pengasuuhan itu kan segitiga, sekolah, rumah dan lingkungan,” pungkas Elly.

Sosialisasi dan edukasi untuk remaja

Sejalan dengan program yang dicanangkan Pemkot Depok tersebut, Dinas Perlindungan Anak Pemberdaya Masyarakat dan Keluarga (DPAPMK) Kota Depok bekerja sama dengan FORLEAD menghelat sosialisasi edukasi dan psikologi untuk remaja bertema “Remaja Pede, Siapa Takut?” di ruang aula lantai 10, Gedung Baleka II, Depok, Rabu.

BACA JUGA:  Bantu Rohingya, Misi Kemanusiaan MuhammadiyahAid Berangkat ke Bangladesh

Kepala Bidang Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak, Yulia Oktavia mengatakan bahwa sasaran dari kegiatan ini adalah forum anak dan disesuaikan dengan kategori usia dalam hal ini adalah anak-anak yang memasuki fase remaja.

Kepala Bidang Tumbuh Kembang dan Pengembangan Kota Layak Anak, Yulia Oktavia. (Foto: San/DepokPos)

“Kita ingin ada motivasi dari anak-anak kemudian digali potensinya, karena sebetulnya anak-anak ini adalah anak-anak yang hebat, hanya saja mungkin selama ini belum banyak dimunculkan potensi-potensinya,” jelas Yulia kepada DepokPos saat ditemui di sela-sela acara.

Lebih lanjut Yulia mengatakan bahwa kondisi Kota Depok yang berbatasan dengan kota-kota lain memunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif tentang remaja.

“Tapi disisi lain ternyata anak-anak Kota Depok juga punya banyak prestasi yang tak banyak diketahui dan itu yang seharusnya ditonjolkan,” tegasnya.

Persoalan remaja dalam transformasi menuju kedewasaan

Persoalan remaja yang utama adalah mengalami kekeliruan dalam menempuh sebuah kedewasaan, menjadi dewasa itu terkait pola pikir, maka persoalan-persoalan yang muncul pada diri remaja saat ini memang berawal dari kedewasaan yang belum tumbuh.

Demikian ditegaskan Yono Suryatno, penulis buku dari FORLEAD yang digandeng Pemkot Depok dalam perhelatan sosialisasi edukasi dan psikologi untuk remaja bertema “Remaja Pede, Siapa Takut?” di ruang aula lantai 10, Gedung Baleka II, Depok, Rabu.

“Keluarnya buku ini juga dalam rangka bagaimana melakukan sebuah akselerasi kedewasaan, forum saat ini salahsatunya adalah bagaimana kita mentransformasikan konten dari buku ini,” jelas Yono kepada DepokPos saat ditemui disela-sela acara.

BACA JUGA:  Peringati Tahun Baru Islam, Wali Kota Sumbang Rp100 Juta Untuk Palestina
(Foto: San/DepokPos)

Lebih lanjut Yono mengatakan bahwa dengan sharing ini, harapannya anak-anak yang memasuki fase remaja ini menjadi pionir-pionir bahkan menjadi duta yang mampu memberikan percepatan buat remaja-remaja lainnya.

“Harapannya ketika kedewasaan ini sudah muncul, persoalan-persoalan yang banyak hingap pada remaja bisa teratasi. Masalah tawuran, narkoba, pegaulan dan lain-lain,” jelasnya.

Yono juga menambahkan bahwa dengan para remaja ini bisa bersikap dewasa, maka dengan sendirinya bisa memilah dan memilih sehingga persoalan-persoalan diatas bisa dikurangi.

Transformasi pengetahuan yang dimaksud adalah 5 konsep yang ditawarkan seperti yang ada pada buku yang ditulisnya tersebut, yakni:

  1. Melakukan akselerasi dari sisi pemahaman spiritual, disitulah sumber-sumber nilai dan prinsip hidup.
  2. Jalan untuk membangun sebuah kepemimpinan pada remaja, dengan sarananya adalah organisasi.
  3. Faktor keluarga. Yono mengatakan kalaupun ada remaja yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis, dengan kedewasaan tersebut justru dialah yang diharapkan bisa menjadi perekat untuk keluarganya.
  4. Learning atau proses belajar, yakni bukan belajar yang sekedar dalam arti edukasi dilingkungan sekolah saja tapi juga proses perubahan perilaku yang terjadi karena pengetahuannya.
  5. Entrepreneurship, yakni membangun kedewasaan dari sisi kemandirian, tanggung jawab dan sebagainya. Ketika masuk dalam usaha tertentu, tanpa sadar jiwa-jiwa kemandirian itu akan tumbuh dengan sendirinya.

“Nah hari ini yang kami lakukan adalah berusaha mentransformasikan kelima hal tersebut kepada mereka,” pungkas Yono. (San)

Komentar

komentar