Meneladani Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz

Ilustrasi. (Istimewa)

Ditulis oleh: Maesya’bani – Sekretaris Islamic Economics Forum SEBI

Nama Umar bin Abdul Aziz tentu tidak asing terdengar di telinga kaum muslimin. Terutama di deretan nama khalifah dan sosok pemimpin yang menginspirasi umat muslim. Beliau adalah keturunan Umayyah dan merupakan cucu dari khalifah Umar bin Khatab. Ayahnya bernama Abdul Aziz bin Marwan dan Ibunya Laila binti ‘Ashim. Ibunya adalah puteri dari penjual susu yang bertakwa yang menikah dengan ‘Ashim bin Umar. Dari dua nasab besar itu lahirlah sosok besar Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana pernah dikabarkan Umar bin Khatab : “Semoga dari keturunanku yang di wajahnya ada tanda kelak akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana dunia telah terpenuhi dengan kedzaliman”.

Semasa kecil, Umar bermain layaknya anak kecil pada umumnya. Namun bedanya, Umar bin Abdul Aziz memiliki obsesi yang besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, Umar telah hafal Qur’an sejak usia dini. Ini menimbulkan kesan positif bahwa ketika menjadi pemimpin nanti, Umar akan menjadi pemimpin yang hafal Al-Qur’an dan tentunya akan berpengaruh pada kepemimpinannya.

Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah pada masa Bani Umayyah menggantikan khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Umar bin Abdul Aziz tidak pernah meminta dan menginginkan jabatan. Setelah diumumkan oleh Raja’ bahwa Umarlah yang ditunjuk oleh Sulaiman untuk menggantikan dirinya, maka Umar naik keatas mimbar di hadapan rakyatnya seraya berkata: “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya aku telah diuji dengan urusan ini tanpa meminta pendapat dariku sebelumnya, dan akupun tak pernah memintanya, juga tanpa mengajak ummat muslim bermusyawarah di dalamnya. Maka dari itu, aku bebaskan kalian semua dari bai’atku. Silahkan kalian memilih (pemimpin) untuk diri kalian!”. Namun semua yang hadir di situ satu suara meneriakkan: “Kami semua memilihmu, wahai Amirul Mukminin! Kami semua ridha padamu. Pimpinlah kami dengan baik dan berkah!”. Ketika suasana hening, Umar bin Abdul Aziz melanjutkan perkataan yang sekaligus menjadi khutbah pertama nya setelah menjadi seorang khalifah.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah selama 29 bulan. Waktu yang sangat singkat namun banyak memberikan perubahan yang baik. Umar merupakan sosok pemimpin yang menjadi inspirasi umat muslim dunia. Ilmu dan keshalihan yang diwariskan patut dijadikan contoh dalam kehidupan. Salah satunya adalah keberhasilan beliau dalam memajukan ekonomi umat zaman itu. Yaitu keberhasilannya dalam membuat kesulitan muzakki untuk membagikan zakatnya, itu berarti kekayaan masyarakat sudah merata dan kehidupan ekonomi rakyat sudah sejahtera.

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Umar bin Abdul Aziz tidak pernah luput dari memprioritaskan Allah dalam tiap aktivitasnya. Umar merupakan orang yang paling takut kepada Allah SWT. Istrinya, Fathimah binti Abdul Malik pernah berkata sepeninggal beliau: “Demi Allah, sungguh Umar bukanlah orang yang shalat dan puasanya lebih banyak daripada kalian. Tapi demi Allah, aku tak pernah melihat orang yang sangat takut pada Allah melebihi Umar”. Hal ini patut dicontoh oleh pemimpin saat ini.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Umar sangat berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Di masanya, kaum Bangsawan memiliki tradisi bermain wanita. Namun hal itu tidak berlaku untuk seorang bangsawan besar semisal Umar bin Abdul Aziz, karena beliau mendahulukan apa yang ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah daripada tradisi jahiliyah itu.

Umar merupakan pemimpin yang sangat memperhatikan rakyatnya. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapapun rakyatnya yang ingin mengadukan keluhan ataupun meminta bantuan. Umar pun termasuk kedalam pemimpin yang tegas dan adil dalam menetapkan hukum. Tajam ke atas dan tajam pula ke bawah. Ia tidak memandang bulu dalam penegakan hukum, meskipun pada keluarganya sendiri.

Selain itu, Umar bin Abdul Aziz bukanlah pemimpin yang perlente dalam kehidupannya. Beliau adalah orang yang berkecukupan jauh sebelum menjadi seorang khalifah. Namun setelah diangkat menjadi khalifah, kehidupannya menjadi sederhana. Semua fasilitas mewah untuk khalifah dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada Baitul Maal. Ketika kendaraan khusus khalifah didekatkan kepada Umar bin Abdul Aziz untuk pertama kalinya setelah pemakaman Sulaiman bin Abdul Malik, ia berkata kepada orang yang disekelilingnya : “Untuk apa itu?” “Ini adalah kendaraan yang belum pernah dinaiki oleh siapapun. Ini adalah kendaraan khusus untuk khalifah yang baru.” jawab mereka. Umar bin Abdul Aziz beranjak meninggalkannya menuju baghlah kendaraannya sendiri. Kemudian ia berkata kepada Muzahim, “Wahai Muzahim, masukkan kendaraan itu ke Baitul Mal.” Kemudian didirikanlah paviliun-paviliun dan sebuah batu duduk yang belum pernah diduduki oleh siapapun. Batu itu biasanya diduduki oleh khalifah yang baru saja dibai’at. Umar bin Abdul Aziz tak mau mendudukinya dan berkata kepada Muzahim, “Wahai Muzahim, masukkan ini ke dalam Baitul Mal.” Lalu ia menaiki baghlahnya menuju ke sebuah tempat. Permadani mewah pun digelar dengan sangat indah disana. Permadani itu belum pernah dipijak oleh siapapun. Hanya khalifah baru yang biasanya memijakkan kakinya untuk pertama kali. Umar pun menyingkirkan dengan kakinya dan duduk diatas tikar biasa. Kemudian berkata kepada Muzahim, “Wahai Muzahim, masukkan ini ke dalam Baitul Mal”. Umar bin Abdul Aziz menanggalkan semua kemewahan yang diberikan atas jabatannya sebagai seorang khalifah.

BACA JUGA:  Tanggung Jawab Wanita Sebelum Menikah

Itulah beberapa teladan dari Umar bin Abdul Aziz yang dapat dijadikan inspirasi dalam menjadi seorang pemimpin. Melihat kisahnya tentu menimbulkan kerinduan akan sosok pemimpin seperti beliau. Semoga umat Islam dapat mengambil pelajaran dan diterapkan ketika suatu saat menjadi pemimpin umat ini. Aamiin. (Maesya’bani)

Komentar

komentar