Ikhlas itu Bukan Tentatif Kawan

Ilustrasi. (Istimewa)

Ketika bicara tentang keikhlasan, maka bukan ”opsional apalagi tentatif” yang menjadi sandingan, tapi ialah “keharusan”. Karena ikhlas adalah senjata yang menghujami para diri dalam tandus ketika melewati jalan perjuangan yang dirasa berat.

Terlebih sebagai organisator yang bertugas mengurusi orang banyak, maka mereka dituntut untuk menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya terlebih dahulu. Rintangan dan segala permasalahan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka. Dari masalah kecil sampai yang besar, justru itulah yang menjadi warna dan media pendewasaan diri.

memang benar, sudah menjadi fitrah manusia bahwa ada kalanya dimana dia lelah, jenuh, bahkan tak sedikit para organisator yang mundur sebelum mencapai garis finish dengan berbagai alasan. Konflik itu pasti, tapi terlalu sempit jika menjadikan konflik maupun permasalahan lainnya (yang sebenarnya bisa diselesaikan) sebagai alasan bagi berhentinya sebuah pergerakan dikarenakan hal yang sederhana. Maka hal ini tidak tak sebanding dengan janji Allah untuk orang-orang yang berjuang dijalan-Nya. Dalam firmanNya disebutkan:

“(yaitu) kamu beriman pada Allah dan Rasu-lNya berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasuka kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan ke tempat tinggal yang baik di dalam surge ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.“ (QS. As-Shaff: 11-12)

Semua itu hanya di dapat ketika ikhlas menjadi prinsip yang tak lepas dari diri seseorang. Dari Ikhlas itulah yang menyebabkan nikmatnya seseorang dalam beramal, tidak cepat lelah dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Selain itu, dengan ikhlas akan menghindarkan kita dari sifat gampang mengeluh, merasa kecewa dan lain-lain. Ikhlas juga menghilangkan rasa baper dan mengundang kesabaran sehingga melahirkan kedewasaan.

Seandainya ditengah jalan merasakan hal tersebut, coba kita sama-sama tengok hati kita, ucapkanlah istighfar, barangkali bukan keadaan dan lingkungan yang sedang bermasalah, tapi justru diri kita sendiri yang menjadi sumber dari segala masalah. Namun, hanya orang-orang pilihan yang mampu menyelesaikannya. Maka jadilah kita diantara orang pilihan itu.

Ibnu Qoyyim pernah mengatakan bahwa “Amal tanpa keikhlasan itu seperti musaffir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Oleh karena itu mari kita sama-sama menumbuhkan rasa ikhlas dan tetap semangat dalam berjuang di jalan Allah Swt. (Sa’adah Tri Hayatun/STEI SEBI)

Komentar

komentar